Proyek megabintang Rp50 triliun: 59 F-15K Korea Selatan bakal disuntik sistem canggih EPAWSS
ROKAFAIRSPACE REVIEW – Armada jet tempur F-15K Slam Eagle milik Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF) bersiap mendapatkan peningkatan pertahanan yang sangat masif. BAE Systems mengumumkan telah menerima kontrak dari Boeing untuk memasok sistem perang elektronik (EW) mutakhir AN/ALQ-250 EPAWSS (Eagle Passive Active Warning Survivability System) guna memperkuat jet tempur andalan Seoul tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari megaproyek modernisasi yang menyasar 59 unit jet F-15K milik ROKAF. Program peningkatan ini bertujuan untuk mendongkrak kemampuan bertahan hidup (survivability), kesadaran situasional, serta interoperabilitas taktis dengan pasukan militer Amerika Serikat di tengah dinamika keamanan regional yang kian memanas.
Nilai Fantastis di Balik Modernisasi
Integrasi sistem EPAWSS ini bukanlah proyek sembarangan. Program pemutakhiran armada F-15K dikelola melalui skema Penjualan Militer Asing (FMS) Amerika Serikat, yang dikoordinasikan langsung dengan Badan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA).
Secara keseluruhan, nilai investasi dari program modernisasi jet tempur ini ditaksir mencapai lebih dari 2,8 miliar atau setara dengan Rp50,54 triliun (kurs Rp18.052 per USD).
Angka fantastis tersebut menempatkannya sebagai salah satu proyek peningkatan armada udara paling bernilai di kawasan Asia-Pasifik saat ini.
Perisai Digital 360 Derajat
Sistem AN/ALQ-250 EPAWSS buatan BAE Systems merupakan teknologi perang elektronik serba digital generasi terbaru. Sistem ini dirancang khusus untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan menyelimuti pesawat dengan proteksi terhadap ancaman radar serta rudal musuh dengan cakupan penuh 360 derajat.
Dengan kemampuan pemrosesan sinyal digital berkecepatan tinggi, EPAWSS memungkinkan para pilot Slam Eagle untuk tetap beroperasi secara aman di lingkungan elektromagnetik yang padat sinyal (contested environment).
“Kami bekerja sama erat dengan Boeing, ROKAF, dan mitra industri regional untuk menghadirkan sistem EW paling canggih secara teknis untuk peningkatan jet tempur F-15K ini. Fokus kami adalah membekali sekutu dengan kemampuan perang elektronik yang diperlukan guna mendukung stabilitas dan keamanan regional,” ujar Phillip Casalegno, Direktur Program Internasional F-15 di BAE Systems.
Mengadopsi Teknologi F-15EX
Sebagai catatan penting, teknologi EPAWSS yang akan disuntikkan ke tubuh F-15K ini merupakan sistem yang sama yang saat ini diproduksi penuh untuk armada jet tempur paling anyar Angkatan Udara AS (USAF), yaitu F-15EX Eagle II, serta sebagai program peningkatan (retrofit) untuk armada F-15E Strike Eagle mereka.
Melalui investasi yang sangat besar ini, armada F-15K Korea Selatan tidak hanya akan mempertahankan keunggulannya dalam hal kecepatan, jangkauan, dan kapasitas muatan senjata, melainkan juga bertransformasi menjadi platform tempur udara modern yang kebal dari gangguan radar lawan serta siap menembus sistem pertahanan udara berlapis di masa depan.
Pelanggan EPAWSS Pertama di Luar USAF
Korea Selatan (ROKAF) dipastikan menjadi pelanggan ekspor pertama EPAWSS di luar militer AS (USAF) yang secara resmi telah mengadopsi sistem EPAWSS yang sama.
Meskipun EPAWSS dirancang oleh BAE Systems untuk armada F-15E Strike Eagle dan F-15EX Eagle II milik USAF, Korea Selatan adalah negara mitra asing pertama yang menandatangani kontrak untuk menyuntikkan teknologi canggih ini ke dalam armada F-15K Slam Eagle, yang merupakan turunan dari F-15E.
Sementara negara-negara sekutu AS pengguna F-15 lainnya belum atau baru berencana mengadopsi sistem serupa.
Israel (IAF) memang telah disetujui untuk membeli F-15IA (varian F-15EX khusus Israel) yang nantinya akan dilengkapi EPAWSS secara bawaan pabrik. Namun, untuk program retrofit armada F-15I Ra’am (F-15E versi Israel) milik mereka, belum ada kontrak integrasi EPAWSS resmi yang berjalan secepat Korea Selatan.
Namun sesuai kebiasaan sebelumnya, IAF kemungkinan besar tidak mengadopsi EPAWSS bawaan AS tersebut. Sebagai gantinya, seperti pada F-35I Adir dan F-15I Ra’am terdahulu, IAF memilih untuk mengintegrasikan sistem EW dan proteksi mandiri buatan industri pertahanan dalam negeri Israel sendiri, yang memiliki kemandirian penuh dalam memprogram ulang pustaka ancaman (threat library) tanpa bergantung pada kode sumber dari Amerika Serikat.
Sementara itu Jepang (JASDF), dalam program modernisasi F-15J Super Interceptor mereka sempat mengalami dinamika anggaran yang rumit. Pada akhirnya, Jepang memilih sistem perang elektronik (ALQ-239 atau varian turunannya) yang berbeda, bukan EPAWSS standar penuh milik USAF ini.
Kemudian Arab Saudi dan Qatar, yang mengoperasikan F-15SA dan F-15QA, masih menggunakan sistem EW digital generasi sebelumnya yaitu DEWS (Digital Electronic Warfare System) buatan BAE Systems. Sistem ini berbeda dengan EPAWSS (AN/ALQ-250), walaupun sama-sama dibuat oleh pabrikan yang sama. (RNS)
