Jet tempur KAAN terancam gagal terbang: Yunani desak AS batalkan penjualan mesin ke Turkiye

Jet tempur KAAN buatan TurkiyeAnadolu Agency
Jet tempur KAAN buatan Turkiye.

AIRSPACE REVIEW – Masa depan program jet tempur generasi kelima kebanggaan Turkiye, KAAN, kini tengah menghadapi batu sandungan besar. Kelompok lobi Yunani-Amerika secara agresif mengintensifkan tekanan terhadap Pemerintah dan Kongres Amerika Serikat guna membatalkan kesepakatan penjualan mesin General Electric (GE) F110 yang sangat dibutuhkan oleh jet tempur tersebut.

Ketegangan ini mencuat setelah pemerintahan Presiden Donald Trump secara resmi memberikan notifikasi kepada Kongres mengenai rencana menyetujui paket penjualan senilai lebih dari 700 juta USD (sekitar Rp11,4 triliun).

Paket ini dianggap sebagai “nyawa” bagi keberlanjutan proyek kedirgantaraan militer terbesar dalam sejarah Turkiye.

Dampak Pembelian S-400 dari Rusia

Aksi penolakan ini dimotori oleh American Hellenic Institute (AHI). Lembaga lobi tersebut menegaskan bahwa langkah AS memasok mesin militer ke Ankara sangat kontradiktif. Pasalnya, Turkiye masih dijatuhi sanksi oleh AS di bawah undang-undang CAATSA sejak tahun 2020 akibat keputusan mereka membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.

“Ankara belum mengambil tindakan nyata untuk menyelesaikan kekhawatiran keamanan yang diajukan AS terkait S-400,” ujar Nick Larigakis, Presiden AHI.

Menurutnya, membiarkan ekspor mesin jet ini berjalan akan merusak kredibilitas sanksi AS dan mengirimkan sinyal keliru kepada sekutu-sekutu NATO lainnya.

Tidak sendirian, kelompok lobi Armenia-Amerika juga ikut bergabung dalam kampanye ini untuk meyakinkan para anggota parlemen agar menolak transaksi tersebut.

Mereka menilai penguatan militer Turkiye dapat mengancam stabilitas wilayah Mediterania Timur, khususnya bagi Yunani dan Siprus.

Di tingkat parlemen, penolakan ini juga disuarakan oleh politisi Demokrat, Gregory Meeks, yang mempertanyakan keputusan Gedung Putih, serta Dina Titus yang mengajukan resolusi resmi untuk memblokir kesepakatan tersebut.

Mesin AS: Kunci Utama Program KAAN

Bagi Turkiye sendiri, mesin F110-GE-129 buatan General Electric dari AS adalah komponen yang bersifat krusial dan mendesak.

Meskipun perusahaan domestik seperti TRMotor dan TEI sedang mengembangkan mesin lokal, para pengamat militer memperkirakan teknologi propulsi dalam negeri tersebut masih membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga benar-benar matang dan siap operasional.

Tanpa pasokan mesin dari AS, lini produksi massal awal jet KAAN terancam mengalami penundaan (delay) yang parah dari jadwal yang sudah ditentukan.

Padahal, jet KAAN yang sukses melakukan penerbangan perdana pada Februari 2024 ini dirancang menjadi tulang punggung Angkatan Udara Turkiye untuk menggantikan armada F-16 yang menua.

Jet ini juga diproyeksikan menjadi komoditas ekspor andalan demi mewujudkan kemandirian teknologi Ankara.

Proyek KAAN sendiri baru saja mendapat dorongan besar setelah Indonesia menandatangani kontrak bernilai tinggi untuk memesan 48 unit jet tempur ini, disusul dengan negosiasi aktif bersama calon konsumen lain di Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

Sikap Washington

Meski dihujani protes, Departemen Luar Negeri AS sejauh ini tetap membela keputusan tersebut. Mereka menyatakan bahwa ekspor mesin ini telah melalui analisis mendalam dari aspek politik, militer, hingga hak asasi manusia, dan dinilai masih selaras dengan kepentingan strategis serta kebijakan luar negeri AS.

Walau Kongres memiliki hak legal untuk mengajukan resolusi bersama guna memblokir penjualan, upaya semacam itu jarang berhasil jika kesepakatan sudah mendapatkan lampu hijau penuh dari Gedung Putih.

Namun, para analis menilai bahwa andai saja penjualan mesin F110 ini lolos, hal tersebut tidak berarti hubungan diplomatik Washington dan Ankara telah sepenuhnya membaik.

AS menegaskan pintu program jet siluman F-35 tetap tertutup rapat bagi Turkiye selama sistem rudal S-400 Rusia masih aktif di tanah mereka.

Penjualan mesin F110 murni dipandang sebagai kebijakan terbatas untuk mengamankan proyek KAAN, tanpa mengubah status kebuntuan strategis kedua negara anggota NATO tersebut. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *