Indonesia tidak ikut dalam produksi jet KF-21 Boramae, Kemhan RI: Kita beli yang sudah jadi

KF-21 Boramae meluncurkan rudal MeteorKAI
KF-21 Boramae meluncurkan rudal Meteor.

AIRSPACE REVIEW – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) menyatakan Indonesia tidak terlibat dalam produksi bersama pesawat tempur KF-21 Boramae dengan Korea Selatan. 

Namun, Indonesia akan memperoleh pesawat tempur tersebut melalui skema pembelian langsung dari pemerintah Korea Selatan. 

“Indonesia tidak melakukan produksi KF-21 bersama, tetapi langsung membeli dari Korea,” kata Kepala Badan Logistik Pertahanan (Kabaloghan) Kemhan Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari, di Jakarta Pusat, Jumat (26/6) seperti diberitakan Kompas.com

Korea Berharap Indonesia Jadi Pemasok Suku Cadang

Sebelumnya seperti diberitakan Airspace Review, Korea Aerospace Industries (KAI) menyatakan harapannya agar PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dapat menjadi bagian dari rantai pasok global sebagai pemasok komponen jet tempur generasi 4,5, KF-21 Boramae.

Keinginan untuk memperluas kemitraan ini disampaikan oleh perwakilan KAI di Sacheon, Korea Selatan.

Kerja sama strategis pertahanan ini juga mencakup program pesawat latih dasar KT-1B Woongbi dan pengiriman satu unit prototipe KF-21 nomor 5 ke Indonesia dalam waktu dekat.

Selain proyek KF-21, KAI juga berencana memindahkan lini produksi pesawat KT-1B ke Indonesia demi mendukung program ekspor tambahan di masa depan.

Saat ini, PTDI sendiri sudah terlibat aktif dan mengerjakan sebagian besar program penguatan struktur pesawat KT-1B tersebut.

Hubungan yang kian erat ini diharapkan dapat memantapkan posisi Indonesia sebagai mitra yang kuat dalam industri penerbangan militer internasional.

Sementara itu, Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) telah resmi menyatakan KF-21 Boramae siap tempur (combat-ready), menandai dimulainya fase produksi massal komponen untuk varian Block I.

KAI mengejar target pengiriman gelombang pertama unit operasional kepada Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) pada akhir tahun 2026.

Sesuai dengan komitmen bersama, Indonesia juga terus berjalan sesuai rencana untuk merampungkan akuisisi sebanyak 16 unit dari total produksi massal tersebut.

Sebagai jet tempur generasi 4,5, KF-21 dirancang untuk menjembatani celah antara pesawat tempur generasi keempat dan kelima melalui bentuk aerodinamis mutakhir dan kemampuan semi-stealth.

Jet ini ditenagai mesin turbofan ganda General Electric F414 dengan kecepatan maksimal Mach 1,8.

Sistem avioniknya pun telah dibekali kecanggihan radar AESA, sistem perang elektronik terintegrasi, kemampuan mengendalikan drone tempur (Manned-Unmanned Teaming), serta persenjataan mematikan seperti rudal udara ke udara jarak jauh Meteor.

Indonesia Sudah Melunasi Seluruh Kewajiban Pembayaran KF-21

Pemerintah Indonesia dilaporkan telah resmi merampungkan seluruh kewajiban pembayaran kontribusi akhir dalam proyek pengembangan bersama jet tempur Boramae dengan Korea Selatan.

Berdasarkan laporan media Korea Selatan, pembayaran final sebesar 63,6 miliar won (sekitar Rp742 miliar) telah diselesaikan, sehingga total iuran yang disetorkan Indonesia genap mencapai 600 billion won (sekitar Rp7 triliun).

Angka ini sesuai dengan revisi kesepakatan tahun 2024 yang sebelumnya telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Pelunasan ini sekaligus mengakhiri dinamika panjang terkait penundaan pembayaran iuran yang sempat berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Dengan selesainya komitmen finansial tersebut, hubungan kemitraan strategis antara Indonesia dan Korea Selatan di sektor pertahanan udara kini memasuki babak baru yang lebih stabil.

Selesainya fase pengembangan ini memuluskan langkah kerja sama operasional berikutnya yang sempat tertunda.

Sebagai kompensasi dari pelunasan kontribusi tersebut, Indonesia dipastikan akan menerima satu unit pesawat prototipe KF-21 Boramae (diketahui sebagai prototipe nomor 5) beserta dokumen teknis dan transfer teknologi (technology transfer).

Selain itu, para insinyur dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan mendapatkan pengalaman industri yang berharga untuk mendukung kemandirian teknologi dirgantara di dalam negeri. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi penguatan kapasitas industri militer nasional.

Setelah sukses menyelesaikan fase kontribusi pengembangan, fokus utama Indonesia kini beralih pada rencana akuisisi jet tempur tersebut untuk memperkuat TNI Angkatan Udara.

Pembahasan dan negosiasi saat ini sedang diarahkan pada rencana pengadaan total 48 unit KF-21 Boramae secara bertahap. Langkah pengadaan skala besar ini diharapkan dapat segera mengantongi persetujuan anggaran dari pemerintah guna merealisasikan modernisasi armada tempur Indonesia. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *