Leonardo raih kontrak Rp650 miliar untuk pasokan suku cadang pesawat militer Inggris
UK MoD AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan terkemuka, Leonardo, meraih kontrak £27 juta (sekitar Rp650 miliar) dari National Armaments Director (NAD) Group.
Kontrak tersebut untuk memasok suku cadang habis pakai kritis (critical consumable spares) bagi armada pesawat militer sayap tetap (fixed-wing) dan sayap putar (rotary-wing) milik Angkatan Bersenjata Inggris.
Kontrak bertajuk Aircraft Consumables Commodities (ACC) ini memiliki jangka waktu awal selama tiga tahun.
Perjanjian ini juga mencakup opsi perpanjangan hingga empat periode tambahan masing-masing satu tahun.
Sediakan 11.000 Suku Cadang Berstandar NATO
Jika opsi perpanjangan ini diambil secara penuh, total nilai investasi berpotensi membengkak hingga £70 juta (sekitar Rp1,48 triliun) dalam kurun waktu tujuh tahun.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Leonardo akan menyediakan sekitar 11.000 Nomor Stok NATO (NATO Stock Numbers/NSNs).
Ribuan komponen tersebut mencakup berbagai peralatan esensial yang diperlukan untuk mendukung operasional dan pemeliharaan harian pesawat, mulai dari pengikat kabel (cable ties), ring (washers), paku keling (blind rivets), hingga masker wajah.
Beberapa jenis armada udara utama Inggris yang akan didukung oleh kontrak ini meliputi jet tempur Typhoon, helikopter serang Apache, helikopter angkut Chinook, serta pesawat angkut militer A400M dan C-17.
Saat ini, beberapa dari armada tersebut sedang dikerahkan secara aktif untuk mendukung operasi militer Inggris di kawasan Timur Tengah.
Meningkatkan Efisiensi Manajemen Logistik
Selama periode pelaksanaan kontrak, proyek ini diperkirakan akan menyediakan sekitar 75 lapangan pekerjaan di sektor pertahanan Inggris. Sebagian besar posisi tersebut berbasis di wilayah Edinburgh, Coningsby, dan Bristol.
Selain pengadaan barang, kontrak baru ini dirancang untuk menyederhanakan dan meningkatkan efisiensi manajemen logistik suku cadang militer.
Pendistribusian peralatan kini akan dikonsolidasikan langsung di tingkat depo, menggantikan model lama yang menyuplai komponen secara eceran ke masing-masing unit militer.
Dalam operasionalnya, Leonardo akan menerapkan strategi manajemen hibrida. Perusahaan akan mengelola item yang memiliki permintaan tinggi (fast-moving) secara proaktif guna memastikan ketersediaan stok, sementara suku cadang yang jarang diganti (slow-moving) akan ditangani berdasarkan kebutuhan saat itu juga.
Leonardo juga akan memegang kendali atas pemodelan suku cadang, perkiraan kebutuhan (forecasting), pemeliharaan proaktif, pengadaan, serta manajemen usia pakai komponen (obsolescence management). (PN)
