Waduh, proyek jet tempur FCAS resmi berakhir: Jerman dan Prancis tidak mencapai titik temu

NGFEPA

AIRSPACE REVIEW – Proyek jet tempur generasi keenam Eropa paling ambisius, Future Combat Air System (FCAS), resmi dinyatakan berakhir alias dibatalkan.

Keputusan runtuhnya proyek bernilai 110 miliar USD (sekitar Rp1.790 triliun) ini terjadi setelah perselisihan industri selama bertahun-tahun antara raksasa dirgantara Airbus dan Dassault Aviation menemui jalan buntu dan sulit untuk diselesaikan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron mencapai kesimpulan bersama bahwa kedua perusahaan tersebut tidak dapat menemukan titik temu dalam membangun pesawat ini secara bersama-sama.

Merz kemudian merekomendasikan kepada Macron agar kedua negara menghentikan pengembangan jet tempur bersama ini, sebuah usulan yang akhirnya disetujui oleh Presiden Prancis.

Adopsi Sistem Combat Cloud

Meskipun komponen jet tempur berawak resmi dihentikan, kedua pemerintah menyatakan bahwa proyek FCAS tidak sepenuhnya mati.

Jerman dan Prancis berniat untuk terus melanjutkan pengembangan komponen Combat Cloud, yaitu arsitektur jaringan digital yang dirancang untuk menghubungkan berbagai sistem senjata, sensor, dan platform tempur ke dalam satu peta operasional yang terpadu.

Namun, pembatalan jet tempur itu sendiri dinilai telah memangkas visi awal dari megaproyek pertahanan ini.

Rebutan Kendali Industri

Program FCAS pertama kali diluncurkan pada Juli 2017 oleh Kanselir Jerman saat itu, Angela Merkel, dan Presiden Emmanuel Macron.

Proyek ini awalnya digadang-gadang sebagai simbol utama kerja sama pertahanan Prancis-Jerman serta kemandirian strategis Eropa agar tidak bergantung pada teknologi militer Amerika Serikat.

Jet tempur ini direncanakan untuk menggantikan armada Eurofighter Typhoon Jerman dan Rafale Prancis mulai tahun 2040, dengan Spanyol ikut bergabung sebagai mitra negara ketiga.

Namun, sejak tahap awal, proyek ini terus didera drama internal.

Pemicu utama kegagalan ini adalah perselisihan yang tidak berkesudahan antara Dassault Aviation (pabrikan asal Prancis yang membuat Rafale) dan Airbus (yang mewakili kepentingan industri Jerman dan Spanyol).

Dassault menuntut porsi kerja industri yang jauh lebih besar serta kepemimpinan penuh atas program tersebut.

Di sisi lain, Jerman mendesak agar Dassault menghormati perjanjian awal yang membagi porsi kerja secara adil dan setara.

Perbedaan Kebutuhan Militer

Selain masalah internal industri, Kanselir Merz juga mengidentifikasi adanya perbedaan mendasar pada kebutuhan militer kedua negara.

Prancis membutuhkan jet tempur generasi baru yang mampu mengangkut senjata nuklir demi mendukung sistem penangkal nuklir mandiri mereka.

Pesawat tersebut juga harus mampu beroperasi dari kapal induk militer angkatan laut Prancis.

Sementara Jerman sama sekali tidak membutuhkan kedua kemampuan tersebut.

Jerman sempat mengusulkan solusi untuk mengembangkan dua varian badan pesawat (airframe) yang berbeda di bawah payung FCAS agar bisa memenuhi kebutuhan masing-masing negara dengan tetap berbagi sistem internal yang sama.

Namun, usulan tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak Prancis. Tanpa adanya kesepakatan konsep dasar pesawat, proyek ini pun tidak lagi memiliki arah masa depan.

Jerman Intensifkan Typhoon dan F-35

Pembatalan ini menjadi pukulan politik yang sangat telak bagi Presiden Macron, yang selama bertahun-tahun gencar mengampanyekan otonomi strategis Eropa demi mengurangi ketergantungan militer pada AS.

Kegagalan FCAS akibat rebutan persentase kerja dan ego industri lokal menjadi catatan buruk bagi masa depan integrasi pertahanan Uni Eropa.

Bagi Jerman, runtuhnya proyek ini diprediksi akan mempercepat pertimbangan Berlin untuk mencari jalur alternatif lain.

Ini termasuk potensi melanjutkan pengembangan jet Typhoon secara mandiri atau memperdalam interoperabilitas dengan program F-35 buatan Amerika Serikat, yang saat ini sudah banyak dioperasikan oleh sekutu-sekutu NATO lainnya.

Sementara itu, pihak Spanyol belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah apa yang akan mereka ambil menyusul keputusan mengejutkan dari dua mitra utamanya ini. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. izzuddin berkata:

    Yah drama program EFA terulang lagi dengan masalah yang sama. Akhirnya Prancis mengembangkan Rafale dan negara eropa lain lanjut jadi Eurofighter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *