Safran genjot produksi bom pintar AASM Hammer hingga 1.400 unit pada 2026
AAE AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan terkemuka asal Prancis, Safran, mengumumkan rencana besar untuk memproduksi hingga 1.400 unit kit bom pintar berpemandu presisi AASM Hammer pada tahun 2026.
CEO Safran, Olivier Andriès, mengonfirmasi target ambisius tersebut dalam sebuah wawancara dengan media Prancis, La Tribune.
Langkah ekspansi ini diambil guna merespons lonjakan permintaan global dan tingginya efektivitas operasional senjata tersebut di medan perang, khususnya dalam mendukung militer Ukraina.
Untuk merealisasikan target ini, Safran mengucurkan investasi khusus sebesar 120 juta euro (sekitar Rp2,1 triliun) untuk fasilitas produksinya di Montluçon, Prancis, sekaligus membuka 150 lapangan pekerjaan baru.
Investasi tersebut merupakan bagian dari paket anggaran global yang telah disetujui perusahaan sejak tahun 2025 demi meningkatkan kapasitas manufaktur di seluruh jaringan operasional mereka.
Mengubah Bom Bodoh Menjadi Bom Pintar
Pabrik Safran di Montluçon memegang peran krusial karena menjadi pusat perakitan peralatan berteknologi tinggi.
Di tempat ini, kit pemandu presisi dan mesin pendorong roket diproduksi untuk kemudian dipasangkan pada bom standar tanpa pemandu, seperti bom seberat 250 kg varian Mk.82, sehingga berubah menjadi amunisi pintar yang sangat mematikan.
Selain itu, fasilitas ini memproduksi giroskop canggih berpresisi tinggi yang memiliki ketahanan kuat terhadap sistem gangguan sinyal (anti-jamming).
Teknologi giroskop ini tidak hanya dipakai pada bom pintar, melainkan juga diintegrasikan ke dalam sistem navigasi inersia untuk pesawat terbang, kapal perang, hingga kendaraan tempur darat.
Dengan suntikan modal baru, Safran menargetkan produksi giroskop dapat melonjak tiga kali lipat, dari yang semula 10.000 unit per tahun menjadi 30.000 unit pada tahun 2032.
Dukungan untuk Militer Prancis dan Kebutuhan Ekspor
Peningkatan volume produksi AASM Hammer dalam beberapa tahun terakhir tercatat sangat fantastis.
Jika pada tahun 2022 Safran hanya memproduksi sekitar 200 unit per tahun, angka tersebut melejit pada tahun 2024 menjadi 830 unit, melampaui target awal pemerintah yang mematok angka 600 unit.
Tren kenaikan terus berlanjut di mana pada awal tahun 2026 dilaporkan bahwa produksi tahun 2025 meningkat sekitar 30% dibanding tahun sebelumnya, mencapai kisaran 1.080 unit.
Percepatan produksi ini juga didorong penuh oleh Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis yang pada Juli 2025 mengumumkan dukungan dana tambahan sebesar 128 juta euro demi mempercepat skala output amunisi ini karena terbukti sangat andal dalam pertempuran nyata di Ukraina.
Selain itu, produksi ini juga untuk memenuhi pasar ekspor.
Varian Baru Hammer XLR Bertenaga Mesin Jet
Di samping menggenjot kuantitas, Safran juga melakukan lompatan teknologi dengan memperkenalkan varian terbaru yang diberi nama AASM Hammer XLR pada Juni 2025.
Berbeda dengan versi standar yang mengandalkan pendorong roket, varian XLR mengintegrasikan mesin turbojet mini. Pembaruan ini secara drastis memperluas radius serang bom pintar tersebut.
Jika versi roket konvensional hanya memiliki daya jangkau sejauh 70 km, varian terbaru berkekuatan turbojet ini mampu meluncur dan menghantam target hingga jarak 150 hingga 200 km apabila dilepaskan oleh jet tempur dari ketinggian.
Kombinasi antara peningkatan produksi masal dan inovasi teknologi mutakhir ini semakin mengukuhkan posisi Safran sebagai salah satu pilar utama dalam industri kedirgantaraan dan pertahanan Eropa modern. (RNS)
