Proyek FCAS rungkad, Jerman ‘gercep’ satukan 8 raksasa dirgantara dalam Team Gen 6
Airbus Defence and SpaceAIRSPACE REVIEW – Menyusul keputusan mengejutkan terkait rungkad (runtuh)-nya proyek jet tempur masa depan FCAS (Furute Combat Air System), Pemerintah Jerman melakukan tindakan gercep (gerak cepat) mengumpulkan delapan perusahaan papan negara ini untuk bersiap meluncurkan aliansi industri baru bernama “Team Gen 6”.
Team Gen 6 dibentuk untuk mengamankan kelanjutan pengembangan pesawat tempur generasi keenam di Eropa, yang sebelumnya digagas bersama Prancis dan Spanyol (yang bergabung belakangan).
Langkah taktis ini sebagai jawaban Berlin setelah tidak tercapainya kesepakatan dengan Paris terkait proyek FCAS.
Seperti diberitakan sebelumnya, Prancis dan Jerman sepakat untuk membatalkan pilar utama FCAS. Keputusan ini muncul setelah kedua negara menyimpulkan bahwa kebuntuan (deadlock) antarpemegang saham industri dari kedua belah pihak sudah tidak bisa lagi dicarikan jalan keluar.
Perusahaan Super dalam Team Gen 6
Aliansi baru Team Gen 6, seperti diberitakan Aero Time, menggabungkan kekuatan perusahaan-perusahaan Jerman yang sebelumnya sudah memegang peran penting dalam proyek FCAS, ditambah dengan beberapa nama baru untuk memperluas basis industri nasional Jerman.
Pemain lama FCAS, yaitu Airbus Defence and Space (koordinator industri nasional Jerman), MTU Aero Engines (pilar mesin), MBDA Deutschland (sistem drone pendukung/remote carrier), serta konsorsium sistem misi dan sensor yang terdiri dari Hensoldt, Diehl Defence, dan Rohde & Schwarz, menjadi kekuatan inti Team Gen 6.
Sementara anggota baru adalah Autoflug dan Liebherr. Masuknya kedua perusahaan ini memperkokoh ambisi Jerman untuk memperluas kendali mandiri atas rantai pasok teknologi jet tempur masa depan mereka.
Menurut laporan yang beredar, delapan perusahaan tersebut telah mengirimkan surat proposal resmi terkait pembentukan aliansi Team Gen 6 ini langsung ke kantor Kanselir Friedrich Merz dan Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius.
Targetnya, aliansi ini akan dideklarasikan secara publik pada ajang pameran dirgantara bergengsi, ILA Berlin pada 10-14 Juni ini.
Penyebab FCAS Bubar
Menyingkap penyebab bubarnya proyek FCAS, sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya mengejutkan.
Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan di internal proyek terus meningkat. Hubungan antara Airbus (Jerman) dan Dassault Aviation (Prancis) kerap diwarnai konflik tajam mengenai.
Ketegangan tersebut terkait pembagian porsi kerja (workshare), hak kekayaan intelektual atas teknologi sensitif, dominasi kepemimpinan proyek,, dan perbedaan kebutuhan operasional militer antara Berlin dan Paris
Bahkan Kanselir Jerman sempat melontarkan keraguan secara terbuka mengenai apakah Jerman dan Prancis benar-benar membutuhkan profil jet tempur yang sama.
Peta Kekuatan Baru Eropa
Dengan kolapsnya kerja sama lini utama ini, peta kekuatan jet tempur masa depan Eropa kini terpecah menjadi beberapa skenario.
Jerman melalui Team Gen 6 ingin membuktikan bahwa industri mereka sanggup membangun ekosistem tempur udara masa depan “untuk Eropa, di Eropa”.
Saab dari Swedia santer dikabarkan menjadi salah satu kandidat mitra potensial bagi Airbus ke depannya.
Sementara Prancis diprediksi kuat akan berjalan sendiri (solo-path) mengandalkan Dassault Aviation untuk mengembangkan jet tempur generasi keenam sebagai penerus Rafale.
Di tempat lain, Inggris, Italia, dan Jepang sudah lebih dahulu solid mengamankan program mereka sendiri lewat Global Combat Air Programme (GCAP).
Meski pilar jet tempurnya resmi karam, bagian non-jet tempur dari proyek FCAS lama, seperti sistem jaringan tempur terintegrasi (networked systems) dan pengembangan pesawat nirawak (drones), dikabarkan masih berpeluang untuk dilanjutkan oleh pihak Jerman dan Prancis secara terpisah atau dalam format kerja sama yang berbeda. (RNS)
