UAC pastikan Su-75 Checkmate sedang dikembangkan untuk militer Rusia dan pasar ekspor
Ilustrasi/Istimewa AIRSPACE REVIEW – Jet tempur mesin tunggal generasi kelima Rusia, Su-75 Checkmate, dipastikan sedang dikembangkan tidak hanya untuk kebutuhan Kementerian Pertahanan Federasi Rusia, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama United Aircraft Corporation (UAC), bagian dari Rostec, Vadim Badekha, dalam wawancara eksklusif dengan Kantor Berita TASS menjelang gelaran St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF).
“Kami mengembangkan pesawat ini baik untuk Kementerian Pertahanan Rusia maupun untuk pelanggan asing. Pesawat ini memiliki potensi yang sangat signifikan. Garis waktu pengiriman akan sangat bergantung pada bagaimana kami bekerja sama dengan pelanggan, minat, serta tujuan mereka,” ujar Badekha.
Badekha juga menambahkan bahwa militer Rusia memberikan penekanan khusus pada efisiensi anggaran.
“Kementerian Pertahanan telah menetapkan target untuk menekan biaya produksi akhir. Keunggulan utama dari jet tempur mesin tunggal ini adalah biaya pengadaan pesawat yang lebih rendah serta biaya operasional yang jauh lebih murah. Ini sangat penting bagi Kementerian Pertahanan, dan kami siap bermain dengan aturan main tersebut,” tambahnya.
Muncul Perdana di MAKS 2021
Proyek Su-75 Checkmate pertama kali menghentak dunia dirgantara internasional saat prototipe maket (mock-up) ukurannya yang penuh (full-scale) dipamerkan dalam ajang MAKS Airshow pada Juli 2021.
Tak lama berselang, pesawat ini juga diboyong ke luar negeri dalam ajang Dubai Airshow 2021 untuk menarik minat pasar global, khususnya negara-negara di Timur Tengah, Asia, dan Amerika Latin.
Dikembangkan oleh Sukhoi (di bawah naungan UAC), proyek ini awalnya dikenal sebagai Light Tactical Aircraft (LTS).
Su-75 dirancang sebagai komplemen ringan (low-end) untuk mendampingi jet tempur berat (high-end) bermesin ganda Su-57 (NATO: Felon) yang sudah lebih dulu beroperasi di Angkatan Dirgantara Rusia (VKS).
Secara filosofis, konsep ini mirip dengan strategi Angkatan Udara AS (USAF) yang memasangkan F-35 Lightning II (mesin tunggal) dengan F-22 Raptor atau F-15EX (mesin ganda).
Rusia ingin menawarkan alternatif jet siluman yang jauh lebih terjangkau bagi negara-negara yang tidak memiliki akses atau anggaran untuk membeli F-35.
Spesifikasi Teknis dan Performa
Sebagai jet tempur taktis ringan generasi kelima, Su-75 Checkmate mengusung arsitektur terbuka yang memudahkan modifikasi sesuai kebutuhan konsumen, serta dukungan kecerdasan buatan (AI) untuk meringankan beban kerja pilot.
Pesawat dirancang untuk dioperasikan oleh seorang kru tunggal pada versi berawaknya, meskipun Sukhoi juga tengah merencanakan pengembangan varian nirawak (unmanned).
Su-75 ditenagai satu mesin turbofan tunggal dengan Thrust Vectoring Control (TVC), yang kemungkinan besar menggunakan varian mesin canggih Izdeliye 30 atau AL-41F1.
Dengan dukungan mesin tersebut, Checkmate diestimasikan mampu melaju hingga kecepatan maksimum Mach 1.8 hingga 2.0, serta memiliki batas ketinggian terbang (service ceiling) mencapai 16.500 m (54.134 kaki).
Pesawat ini juga dirancang tangguh untuk menahan beban manuver ekstrem hingga kesiapan jepitan gravitasi sebesar 8G.
Keunggulan lain dari jet tempur ini adalah jarak tempuh operasionalnya yang cukup jauh, yakni berkisar antara 2.800 hingga 3.000 km tanpa perlu menggendong tangki bahan bakar eksternal.
Di sektor persenjataan dan elektronika, Su-75 Checkmate memiliki kapasitas muatan (payload) yang cukup masif hingga 7.400 kg.
Untuk mempertahankan profil silumannya, seluruh persenjataan utama, seperti rudal udara ke udara jarak pendek RVV-MD, jarak menengah RVV-SD, hingga rudal udara ke permukaan Kh-59MK2, akan disimpan di dalam kompartemen senjata internal (internal weapons bay).
Ketajaman operasionalnya di udara bakal dipandu oleh sistem radar AESA (Active Electronically Scanned Array) modern yang diklaim mampu melacak hingga 30 target udara dan mengunci enam target di antaranya secara simultan.
Perkembangan Terkini dan Tantangan Proyek
Sejat diperkenalkan pada tahun 2021, proyek Su-75 sempat menghadapi beberapa penyesuaian jadwal terbang perdana yang semula ditargetkan pada tahun 2023.
Hambatan rantai pasokan global serta dinamika geopolitik beberapa tahun terakhir memaksa pabrikan untuk melakukan redesain pada beberapa komponen guna memastikan kemandirian komponen dalam negeri (import substitution).
Pada akhir tahun 2023, Rostec mengumumkan telah memulai persiapan produksi untuk prototipe pertama setelah melakukan modifikasi pada desain badan pesawat untuk mengoptimalkan refleksi radar (Radar Cross Section/RCS).
Dokumen paten yang dirilis UAC juga menunjukkan adanya revisi pada bentuk sayap dan bagian ekor pesawat guna meningkatkan kemampuan silumannya.
Pernyataan terbaru dari Vadim Badekha menegaskan komitmen baru Moskow. Masuknya Kementerian Pertahanan Rusia sebagai salah satu pengguna potensial utama memberikan suntikan modal dan kepastian proyek yang krusial.
Kehadiran Su-75 di masa depan diharapkan tidak hanya memperkuat armada VKS Rusia, tetapi juga menjadi penantang serius di pasar ekspor jet tempur siluman dengan menawarkan harga yang terjangkau, di bawah harga jet tempur Barat sekelasnya. (RNS)

