Bertambah lagi satu pesaing N219, pesawat serbaguna LUS-222 dari Portugal
EEA AIRSPACE REVIEW – Untuk pertama kalinya dalam sejarah kedirgantaraan, Portugal akan memproduksi dan menggunakan pesawat buatan dalam negeri secara mandiri.
Disebut sebagai LUS-222, pesawat ringan regional serbaguna ini akan diproduksi oleh konsorsium Empresa de Engenharia e Aeronáutica (EEA).
Saat ini EAA terlibat dalam proyek pembuatan komponen untuk pesawat angkut Embraer C-390 Millennium dari Brasil serta pembuatan drone ET15 untuk mengangkut perlengkapan medis ke daerah bencana atau terpencil.
Proyek LUS-222 sendiri telah memasuki fase Critical Design Review (CDR) atau tinjauan teknis formal pada akhir fase desain untuk memastikan sistem akhir memenuhi persyaratan kinerja dan spesifikasi.
CDR ini akan memverifikasi kelayakan desain agar dapat disetujui untuk masuk ke tahap manufaktur, fabrikasi, atau demonstrasi pengujian terbang.
Disebutkan, LUS-222 akan memiliki kapasitas angkut untuk 19 penumpang atau 2.000 kg kargo dengan jangkauan operasi sekitar 2.000 km.
Dibekali dua mesin turboprop, pesawat dirancang memiliki kemampuan tinggal landas dan mendarat jarak pendek (STOL) dan beroperasi dari landasan tidak beraspal atau perintis.
Di kelasnya, LUS-222 akan bersaing langsung dengan Cessna 408 Skycourier Amerika Serikat, PTDI N219 Indonesia, Harbin Y-12 China, dan Viking DHC-6 Twin Otter dari Kanada.
Karena memiliki tampilan yang serupa dengan CASA C212 Aviocar Spanyol tetangganya, media Portugal menjuluki LUS-222 sebagai”Aviocar Portugal”.
Sebelumnya, Angkatan Udara Portugal (FAP) adalah salah satu operator C212 Aviocar. Mereka membeli 20 unit dalam dua varian, C-212-100A1 (4 unit) dan C-212-100-A2P (16 unit).
Pada tahun 2011, FAP mempensiunkan seluruh C212 mereka dan menggantinya dengan C295 yang jauh lebih besar, dengan membeli tujuh unit pesawat angkut taktis C-295M dan lima unit pesawat patroli maritim C-295 Persuader.
Namun, C295 adalah pesawat angkut taktis menengah, dan dalam beberapa misi, pesawat angkut ringan seperti C212 sangat dibutuhkan. Inilah celah yang ingin diisi oleh LUS-222 buatan dalam negeri nantinya. (RBS)
