Pertama kali di luar Australia, MQ-28 Ghost Bat sukses terbang di pangkalan militer AS
Boeing AIRSPACE REVIEW – Boeing secara resmi mengumumkan drone tempur otonom buatannya, MQ-28 Ghost Bat, telah berhasil melaksanakan serangkaian uji coba penerbangan operasional pertamanya di wilayah udara Amerika Serikat.
Hal ini menandai momen perdana bagi pesawat tanpa awak (UAV) tersebut mengudara di luar negara asalnya, Australia.
Drone berteknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) tersebut sukses menyelesaikan tiga misi penerbangan uji coba di Point Mugu Sea Range, yang berlokasi di Naval Base Ventura County, Point Mugu, California.
Penerbangan bersejarah di lepas pantai California Selatan ini menggunakan varian Ghost Bat dengan skema warna abu-abu (all-gray livery) terbaru.
Pesawat otonom ini juga terlihat dilengkapi dengan sistem sensor pencarian dan pelacakan inframerah (IRST) terintegrasi pada bagian hidungnya, menandai peningkatan teknologi yang membedakannya dari prototipe-prototipe awal.
Kesiapan Operasional Sekutu
Glen Ferguson, Direktur Program Global MQ-28 Boeing, menyatakan aktivitas pengujian di Point Mugu merupakan bagian penting dari program uji terbang Boeing yang sedang berjalan.
Misi utamanya adalah untuk mematangkan sistem otonom MQ-28 serta mendemonstrasikan fleksibilitas pengoperasiannya dari pangkalan militer milik negara sekutu.
“MQ-28 menggunakan lokasi ini untuk membuktikan lebih lanjut kematangan program dan memberikan informasi terkait peluang ekspor di masa mendatang,” ujar Ferguson dalam keterangan persnya.
Tiga misi penerbangan di California tersebut dirancang khusus untuk memvalidasi sejumlah kemampuan krusial.
Pertama adalah penyebaran cepat aliansi (Rapid Allied Deployment). Hal ini membuktikan bahwa MQ-28 dapat dengan mudah dipindahkan lintas samudra (dari fasilitas produksinya di Brisbane, Australia) dan langsung siap dioperasikan di pangkalan militer asing.
Kedua adalah kemampuan otonom, yang memastikan drone mampu bernavigasi dan merespons instruksi secara mandiri di koridor ruang udara yang diatur ketat dengan tetap mematuhi standar keselamatan pangkalan.
Dan ketiga, adalah integrasi jaringan komando, yaitu menguji kemampuan sistem kendali Ghost Bat agar dapat terhubung secara mulus dengan jaringan komando dan kendali (command-and-control) militer Amerika Serikat.
Hal ini berarti operator di AS dapat mengendalikan pesawat yang awalnya dikembangkan untuk Angkatan Udara Australia (RAAF).
Daya Tarik CCA di Pasar Global
MQ-28 Ghost Bat dirancang oleh Boeing Australia sebagai pesawat Collaborative Combat Aircraft (CCA) atau yang populer disebut dengan konsep “Loyal Wingman”.
Dengan panjang sekitar 11,7 m dan ditenagai mesin jet, drone ini dibangun untuk mendampingi jet tempur berawak (seperti F-35, F/A-18 Super Hornet, atau E-7 Wedgetail) di medan tempur yang sengit.
Tugas utamanya meliputi penginderaan jarak jauh, peperangan elektronik (jamming), hingga bertindak sebagai umpan pertahanan.
Keberhasilan uji coba di pangkalan Angkatan Laut (US Navy) ini dipandang sebagai strategi pemasaran yang kuat dari Boeing untuk memikat perhatian Pentagon serta calon pembeli internasional lainnya.
Dibandingkan dengan program CCA dalam negeri AS yang masih dalam tahap pengembangan dini, Ghost Bat memiliki keunggulan kompetitif besar karena sistemnya sudah matang, telah mengantongi ratusan jam terbang, memiliki lebih dari 10 airframe dalam armada uji cobanya, dan lini produksinya siap untuk ditingkatkan ke skala massal. (RW)

Interesting to see the MQ-28 Ghost Bat debut outside Australia. How did it perform compared to other aircraft?