USAF targetkan rudal serang jarak jauh berbiaya murah siap pakai pada 2033
USAF AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara AS (USAF) berencana mengembangkan rudal jelajah baru yang lebih terjangkau untuk diluncurkan dari udara. Senjata yang dinamakan Standoff Attack Weapon (SoAW) ini ditargetkan mulai digunakan di lapangan pada tahun 2033 mendatang.
Berdasarkan pengumuman dari Air Force Life Cycle Management Center (AFLCMC) pada 6 April, pihak militer akan mengadakan kegiatan “Industry Day” pada 17 Juni di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida.
Acara tersebut bertujuan untuk melakukan riset pasar dan mendiskusikan atribut yang diinginkan dari sistem senjata masa depan tersebut dengan para pengembang teknologi pertahanan.
SoAW dirancang sebagai rudal jelajah yang relatif murah namun mampu menembus target dengan sistem pertahanan udara yang sangat ketat.
Konsep ini sebenarnya pernah dieksplorasi pada tahun 2022, namun sempat tertunda sebelum akhirnya dihidupkan kembali seiring dengan lonjakan minat dan pendanaan untuk amunisi.
Saat ini, militer AS sangat bergantung pada senjata standoff (senjata yang diluncurkan dari jarak aman di luar jangkauan lawan) seperti JASSM-ER (Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range) dan LRASM (Long-Range Anti-Ship Missile).
Namun, harga per unit rudal-rudal tersebut sangat mahal, berkisar antara 2,6 juta – 3,6 juta USD (sekitar Rp41 miliar hingga Rp57 miliar) per unit.
Langkah ini sejalan dengan usulan anggaran fiskal 2027 dari Gedung Putih yang memproyeksikan peningkatan besar-besaran dalam pengadaan rudal.
USAF meminta dana sebesar 11,36 miliar USD untuk pengadaan rudal. Permintaan ini naik hampir tiga kali lipat dibandingkan anggaran fiskal 2026 yang berjumlah 3,7 miliar USD.
Selain SoAW, USAF juga tengah mengembangkan berbagai amunisi murah lainnya, seperti rudal jelajah presisi berbiaya rendab ERAM (Extended Range Attack Munition).
Kemudian FAMM (Family of Affordable Mass Munition). Ini adalah program yang fokus pada pembuatan mesin turbin kecil dan sensor yang murah namun bisa diproduksi massal.
Lalu proyek riset (AFRL) untuk menciptakan rudal dengan jangkauan minimal 350 mil laut dengan harga di bawah 250.000 USD per unit.
Strategi ini menunjukkan pergeseran fokus Angkatan Udara AS untuk tidak hanya memiliki senjata yang canggih secara teknologi, tetapi juga memiliki jumlah stok yang banyak dan berkelanjutan melalui produksi massal dengan biaya yang lebih efisien. (RNS)
