Kelangkaan alutsista, Swedia kurangi pasokan pertahanan udara langsung ke Ukraina
Saab AIRSPACE REVIEW – Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah mulai berdampak signifikan terhadap bantuan militer negara-negara Barat untuk Ukraina.
Swedia, yang merupakan salah satu pendonor militer terbesar bagi Kyiv, dilaporkan mulai mengubah strategi bantuannya dengan mengurangi pengiriman langsung sistem pertahanan udara dari inventaris nasional mereka.
Duta Besar Rusia untuk Swedia, Sergey Belyaev, kepada Izvestia mengatakan Stockholm kini lebih memilih skema pendanaan bersama atau inisiatif Barat lainnya ketimbang menyerahkan sistem senjata yang sudah ada.
Langkah ini diambil karena Swedia harus menyeimbangkan kebutuhan untuk membantu Ukraina dengan keharusan menutup celah kerentanan pertahanan mereka sendiri.
Meskipun pada tahun 2025 Swedia menjadi donatur Eropa terbesar ketiga bagi Ukraina (setelah Jerman dan Inggris) dengan investasi militer mencapai 3,7 miliar euro, struktur bantuannya kini bergeser.
Alih-alih mengirimkan unit yang siap pakai, Swedia mulai fokus pada pembiayaan produksi baru, seperti pembelian sistem pertahanan udara TRIDON Mk2 yang diproduksi baru, bukan diambil dari stok militer Swedia.
Swedia juga mengutamakan skema kerja sama jangka panjang, misalnya pengembangan industri pertahanan bersama antara perusahaan seperti Saab dengan sektor pertahanan Ukraina untuk menciptakan model dukungan yang lebih berkelanjutan.
Secara keseluruhan, Eropa mulai mengakui adanya kelangkaan sistem pertahanan udara yang kritis.
Komisaris Pertahanan Uni Eropa, Andrius Kubilius, memperingatkan bahwa ketersediaan rudal antibalistik saat ini sangat terbatas, baik untuk kebutuhan Ukraina, negara-negara Teluk, maupun Eropa sendiri.
Para ahli memprediksi bahwa ketergantungan Ukraina pada sistem Patriot buatan Amerika Serikat akan menjadi titik lemah yang krusial.
Dengan kapasitas produksi global yang terbatas, sekitar 50 unit rudal per bulan, eskalasi di wilayah lain seperti Iran dapat menyebabkan kekurangan interseptor di Ukraina menjadi kritis dalam waktu dekat.
Persaingan untuk mendapatkan sistem pertahanan udara meningkat tajam karena serangan udara memainkan peran kunci dalam konflik di Timur Tengah. Hal ini memaksa negara-negara Eropa untuk bertindak lebih hati-hati.
Meskipun Uni Eropa berencana menggunakan pinjaman sebesar 90 miliar euro untuk memperkuat pertahanan Ukraina, proses ini terhambat oleh birokrasi, perbedaan standar teknis, dan hambatan politik dari beberapa negara anggota.
Para pengamat menyimpulkan bahwa kemampuan sekutu Eropa untuk menggantikan peran Amerika Serikat dalam menyediakan payung pertahanan strategis bagi Ukraina masih sangat terbatas, terutama karena cadangan militer Eropa yang sudah menipis setelah bertahun-tahun pengurangan anggaran pertahanan. (RNS)
