Taktik cerdik Iran, luncurkan rudal balistik berhulu ledak klaster untuk menembus kubah-kubah pertahanan Israel

Rudal balistik hipersonik Iran yang dinamai FattahReuters

AIRSPACE REVIEW – Iran telah melakukan perubahan taktik serangan yang lebih mengkhawatirkan menggunakan rudal balistiknya terhadap target-target di Israel.

Dalam serangannya tersebut, Iran menggunakan hulu ledak klaster (cluster warheads) yang dilepaskan pada ketinggian yang sangat tinggi.

Ini adalah sebuah metode yang dirancang khusus untuk membingungkan dan melampaui kapasitas sistem pertahanan rudal Israel yang berlapis.

Berdasarkan bukti rekaman video dan analisis teknis dari serangan baru-baru ini, para ahli militer mencatat bahwa rudal Iran tidak lagi sekadar mengandalkan satu hulu ledak tunggal.

Sebaliknya, rudal tersebut pecah menjadi puluhan submunisi sebelum memasuki fase terminal, menciptakan efek “hujan” proyektil yang sulit ditangani oleh kubah-kubah pertahanan udara Israel, seperti sistem pencegat Arrow, David’s Sling, maupun Iron Dome.

Dengan melepaskan banyak submunisi di ketinggian tinggi, menggunakan teknis saturasi, sistem radar pertahanan Israel harus mengidentifikasi dan melacak puluhan target sekaligus.

Hal ini dapat menyebabkan “kejenuhan” pada sistem komputerisasi pertahanan yang harus memutuskan target mana yang paling mengancam, tulis The War Zone.

Untuk menangkisnya, Israel harus menggunakan rudal pencegat yang sangat mahal, seperti rudal Arrow yang berharga jutaan dolar, demi menghancurkan submunisi yang jauh lebih murah.

Jika satu rudal balistik pecah menjadi 30 submunisi, secara matematis hampir mustahil untuk mencegat semuanya secara efektif.

Berbeda dengan hulu ledak tunggal yang presisi, hulu ledak klaster dirancang untuk menghancurkan target di area yang luas, seperti pangkalan udara atau konsentrasi kendaraan militer, menjadikannya senjata psikologis dan fisik yang sangat efektif.

Submunisi dilepaskan saat rudal masih berada di luar atau di pinggir atmosfer (ekso-atmosfer), sehingga memberikan area sebaran yang lebih luas saat jatuh ke bumi.

Penggunaan hulu ledak klaster di ketinggian tinggi menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi pemisahan hulu ledak Iran.

Hal ini menandakan bahwa Iran telah mempelajari cara kerja sistem pertahanan udara Barat dan menemukan celah dalam algoritma pencegatan mereka.

Beberapa rudal yang diduga menggunakan teknologi ini antara lain adalah varian dari keluarga Kheibar Shekan atau Fattah, yang dikenal memiliki kecepatan hipersonik dan kemampuan manuver tinggi.

Dengan kombinasi kecepatan dan penyebaran submunisi, waktu reaksi yang dimiliki oleh operator pertahanan udara Israel menjadi sangat terbatas.

Situasi ini memaksa Israel dan Amerika Serikat untuk memikirkan kembali strategi pertahanan mereka.

Meskipun sistem Arrow terbukti sangat efektif melawan ancaman balistik tradisional, menghadapi “awan” submunisi memerlukan pendekatan yang berbeda, mungkin melibatkan sistem senjata laser (Iron Beam) yang saat ini sedang dipercepat pengembangannya untuk memberikan solusi pertahanan yang lebih murah dan cepat.

Analisis ini menyimpulkan bahwa meskipun Israel memiliki salah satu jaringan pertahanan udara tercanggih di dunia, Iran telah berhasil membuktikan bahwa dengan inovasi taktik yang tepat, perisai tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa ditembus

Taktik ini sangat efektif untuk melumpuhkan landasan pacu dan hanggar pesawat di pangkalan udara seperti Nevatim atau Tel Nof, yang sering menjadi target utama serangan Iran. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *