AS gunakan bom penghancur bunker paling kuat dalam serangan terhadap Iran
Istimewa AIRSPACE REVIEW – Amerika Serikat dilaporkan telah menggunakan bom berpemandu GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator (MOP). Ini adalah bom non-nuklir paling kuat untuk menyerang markas bawah tanah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di pinggiran Teheran.
Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik di Timur Tengah.
Izvestia melaporkan, perintah serangan datang dari Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Brad Cooper, yang menargetkan pusat komando bawah tanah IRGC.
Serangan tersebut diluncurkan menggunakan pembom strategis siluman B-2 Spirit.
Foto satelit yang beredar menunjukkan kerusakan pada pusat komunikasi dan pintu masuk terowongan bawah tanah yang sebelumnya dianggap sangat terlindungi.
Bom MOP dirancang khusus untuk menembus perlindungan beton yang sangat tebal, tanah berbatu, atau hambatan alami lainnya guna menghancurkan bunker, gudang senjata, dan fasilitas produksi militer yang terletak jauh di dalam gua atau bawah tanah.
Para ahli menyebutkan bahwa penggunaan pembom strategis ini menunjukkan bahwa AS telah mengerahkan hampir seluruh kemampuan konvensional non-nuklirnya.
Pakar militer Dmitry Kornev mencatat bahwa serangan di masa depan kemungkinan akan menyasar infrastruktur transportasi seperti jembatan, terowongan, dan rel kereta api.
Namun, diperkirakan pemerintahan Donald Trump akan menghindari serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas guna mencegah guncangan ekonomi pada pasar global.
Meskipun digempur, Iran dilaporkan masih mampu meluncurkan serangan balasan, meski intensitasnya menurun menjadi sekitar 20-30 peluncuran roket per hari. Dominasi udara koalisi saat ini memungkinkan AS untuk terus memburu posisi peluncur rudal Iran.
Meskipun serangan udara saat ini sangat intens, para ahli memperingatkan tentang masalah keberlanjutan.
Analis militer Vladimir Popov menjelaskan bahwa intensitas serangan tinggi ini hanya bisa dipertahankan selama beberapa minggu sebelum membutuhkan pasokan ulang amunisi yang dikirim melalui laut, yang memakan waktu sekitar 10 hingga 12 hari.
Selain itu, pengamat dari HSE School of Oriental Studies, Andrey Chuprygin, menilai bahwa sumber daya AS di kawasan tersebut terbatas untuk konflik jangka panjang yang meluas. Hal ini memaksa Washington untuk mulai menarik aset militer dari wilayah lain, termasuk dari Samudra Pasifik.
Situasi saat ini menempatkan Teheran dalam posisi sulit, di mana mereka diprediksi akan terus meningkatkan tuntutan dan taruhan dalam menghadapi tekanan militer AS yang semakin besar.
Konflik ini kini memasuki fase yang sangat berbahaya dengan potensi berubah menjadi perang yang berkepanjangan jika kedua belah pihak tidak menemukan jalan keluar diplomatik. (RNS)

