Embraer melakukan pembicaraan dengan USAF, tawarkan KC-390 sebagai pelengkap KC-135 dan KC-46
Embraer AIRSPACE REVIEW – CEO perusahaan kedirgantaraan Embraer dari Brasil, Francisco Gomes Neto, mengkonirmasi pihaknya sedang berdiskusi dengan Angkatan Udara AS (USAF) guna menawarkan pesawat tanker KC-390 Millennium.
Proposal ini menekankan misi pengisian bahan bakar daripada transportasi, karena tanker berat USAF saat ini seperti KC-135 dan KC-46 digunakan di bawah kapasitas optimal dalam operasi yang ada, khususnya di Timur Tengah.
Tanker tersebut ditugaskan untuk misi jangka panjang dan penempatan berulang, yang pada akhirnya meningkatkan siklus perawatan dan mengurangi margin ketersediaan.
Inisiatif ini memperkenalkan kemungkinan memasukkan pesawat berkapasitas menengah ke dalam armada yang ada saat ini.
Armada pesawat tanker AS saat ini sebagian besar terdiri dari Boeing KC-135 Stratotanker model lama dan Boeing KC-46 Pegasus yang baru.
Kedua pesawat dirancang untuk mentransfer bahan bakar berkapasitas tinggi, mampu mengirimkan lebih dari 90.000 pon (40.800 kg) bahan bakar per sorti.
KC-135 dan KC-46 mendukung misi seperti gugus tugas pembom, penempatan pesawat tempur antarbenua, dan jalur pengisian bahan bakar berkelanjutan yang berlangsung hingga 12 jam.
Persyaratan operasional mereka mencakup landasan pacu beraspal yang panjang dan pangkalan udara yang sudah mapan, yang membatasi fleksibilitas pengerahan.
Struktur ini menyebabkan tidak ada pesawat yang dioptimalkan untuk misi pengisian bahan bakar berkapasitas menengah.
Sementara KC-390 beroperasi dalam kategori berat dan kapasitas yang lebih rendah, dengan berat lepas landas maksimum (MTOW) sekitar 87 ton dibandingkan dengan 188 ton untuk KC-46 dan 146 ton untuk KC-135.
Kapasitas bahan bakar yang dapat ditransfer ke pesawat lain dalam kisaran 40.000 dan 50.000 pon (18.000 hingga 23.000 kg), setengah dari kapasitas yang dapat diangkut oleh KC-46.
KC-390 dirancang untuk beroperasi dari landasan pacu yang lebih pendek dan permukaan semi siap, memperluas jumlah lapangan terbang yang dapat digunakan.
Kemampuan ini memungkinkan pesawat untuk dikerahkan lebih dekat ke area operasional dari pada pesawat tanker berat seperti KC-135 atau KC-46. (RBS)
