Angkatan Darat AS mengevaluasi drone kamikaze berbiaya rendah Hornet DE-2 dari Jerman
Thomas Dixon AIRSPACE REVIEW – Komando Latihan ke-7 Angkatan Darat AS (US Army) tengah melakukan pengujian dan evaluasi terhadap drone kamikaze ringan Hornet DE-2 buatan perusahaan Jerman, D-Pharma.
Pengujian berlangsung di Area Latihan Grafenwoehr di Jerman dan berfokus pada bagaimana sistem amunisi loiter yang didukung kecerdasan buatan (AI) dapat terintegrasi dengan formasi tembakan US Army.
Meskipun tidak ada spesifikasi teknis resmi yang dirilis, sumber yang hadir saat evaluasi menyebutkan bahwa Hornet memiliki jangkauan operasional sekitar delapan mil atau setara 12,8 km.
Sistem ini memiliki rangka badan yang sangat ringan dan penggunaan komponen yang tersedia secara komersial, sebuah pendekatan desain yang bertujuan untuk mengurangi biaya dan menyederhanakan proses manufakturnya.
Hornet DE-2 hanya berharga beberapa ribu dolar per unit, menempatkan sistem tersebut sebagai aset serangan taktis sekali pakai yang dapat dikerahkan dalam jumlah besar daripada amunisi berpemandu presisi konvensional.
Fitur utama drone ini adalah arsitektur kendali yang dibantu AI, yang memungkinkan drone untuk terus melacak dan menyerang target meskipun terdapat gangguan elektronik.
Kemampuan ini sangat relevan untuk kondisi medan perang modern, di mana gangguan GPS, pengacauan sinyal, dan penurunan kualitas komunikasi umum terjadi.
Drone ini dikendalikan dari jarak jauh melalui joystick dan modul kontrol khusus yang menyediakan transmisi video dan tautan perintah jarak jauh.
Hornet DE-2 dapat beroperasi secara independen maupun sebagai bagian dari kelompok, memungkinkan penggunaan beberapa drone sekaligus untuk melawan target yang tersebar atau posisi musuh yang terkonsentrasi.
Misi potensial drone ini mencakup serangan terhadap target yang telah diidentifikasi sebelumnya, seperti konsentrasi personel, kendaraan tanpa lapis baja, titik penyimpanan amunisi, dan depot bahan bakar. (RBS)

