Lancer dan Stratofortress kepung Iran: Kekuatan pengebom strategis AS di Inggris capai rekor tertinggi
USAF AIRSPACE REVIEW – Kehadiran pesawat pengebom strategis Amerika Serikat di Eropa telah mencapai tingkat baru yang belum pernah terlihat dalam beberapa tahun terakhir dengan kedatangan gelombang tambahan B-1B Lancer di RAF Fairford, Inggris, pada akhir Maret 2026.
Pengerahan ini menjadikan total armada pengebom strategis yang ditempatkan di pangkalan tersebut mencapai 21 unit, terdiri dari 15 unit B-1B Lancer dan 6 unit B-52H Stratofortress.
Konsentrasi sebesar ini di luar daratan AS menandai pergeseran taktis yang luar biasa, mengingat 15 unit Lancer tersebut mewakili sepertiga dari seluruh armada B-1B yang masih aktif di dunia.
Pengerahan masif ini memperkuat peran strategis RAF Fairford sebagai pangkalan aju untuk Operasi Epic Fury, yang berfokus pada netralisasi infrastruktur rudal dan fasilitas bawah tanah Iran.
Data operasional menunjukkan, penggunaan Fairford sebagai pangkalan depan sangat krusial karena mampu memangkas waktu penerbangan secara drastis dibandingkan misi yang diluncurkan langsung dari Amerika Serikat.
Dengan enam unit B-52H dari 5th Bomb Wing yang siap beroperasi berdampingan dengan armada Lancer, AU AS mampu meningkatkan frekuensi sorti secara signifikan untuk menjaga tekanan konstan di wilayah udara Timur Tengah.
Selain kedua jenis pengebom tersebut, keterlibatan jet hitam Northrop B-2 Spirit pada fase awal kampanye, menunjukkan strategi berlapis yang menggabungkan kemampuan siluman untuk penetrasi awal dengan tembakan volume tinggi dari armada pembom konvensional yang bermarkas di Inggris.
Pesawat B-1B Lancer memainkan peran sentral sebagai “truk bom” utama berkat kapasitas muatan internal terbesar dalam inventaris AS, yang mencapai 30 ton, biasanya dikombinasikan dengan bom berpemandu presisi JDAM.
Sementara itu, 6 B-52H Stratofortress memberikan keunggulan melalui penggunaan rudal jelajah JASSM, memungkinkan penghancuran target dari jarak jauh tanpa harus memasuki zona pertahanan udara lawan yang paling padat.
Penggunaan amunisi khusus penghancur bunker seperti GBU-31 dan GBU-72 seberat 2.000 pon menegaskan bahwa misi ini tidak hanya sekadar unjuk kekuatan, melainkan upaya sistematis untuk menghancurkan instalasi militer yang sangat terlindungi dan terkubur dalam.
Di balik operasional jet-jet raksasa ini, aspek logistik di RAF Fairford kini bekerja pada intensitas puncak dengan dukungan ribuan personel teknis yang dikirim langsung dari Pangkalan Angkatan Udara Ellsworth dan Dyess di Amerika Serikat.
Para kru darat bekerja dalam sistem rotasi 24 jam untuk memastikan kesiapan setiap sorti, mengingat tingginya tingkat pemeliharaan yang dibutuhkan oleh pesawat pembom berat dalam kondisi tempur.
Dukungan infrastruktur yang masif ini membuktikan bahwa AS telah membangun rantai pasokan tempur yang sangat berkelanjutan di Inggris, memungkinkan mereka untuk mempertahankan tempo serangan yang tinggi selama kampanye militer ini berlangsung.
Mobilisasi yang mencapai rekor tertinggi ini juga berfungsi sebagai instrumen pencegahan strategis terhadap eskalasi lebih lanjut di sekitar Selat Hormuz.
Dengan menempatkan kekuatan pemukul strategis dalam jumlah besar di gerbang Eropa, AS dan sekutunya secara efektif menciptakan payung kekuatan yang mampu menjangkau pusat pertahanan lawan hanya dalam hitungan jam.
Keputusan Pemerintah Inggris untuk mengizinkan penggunaan fasilitas Fairford secara penuh tidak hanya memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara, tetapi juga mengukuhkan pangkalan tersebut sebagai titik saraf utama dalam arsitektur keamanan global yang siap mengubah jalannya konflik dalam waktu singkat. (RNS)
