Banyak masalah, Angkatan Darat AS mengalihkan program pertahanan laser Valkyrie miliknya ke Golden Dome bersama dengan Angkatan Laut
Lockheed Martin AIRSPACE REVIEW – Angkatan Darat AS (US Army) dilaporkan meninggalkan program pertahanan udara laser berenergi tinggi Valkyrie miliknya dan beralih ke sistem gabungan dengan Angkatan Laut AS (USN).
Langkah ini menandai pergeseran menuju pertahanan rudal multi domain terintegrasi di bawah arsitektur “Golden Dome” milik Kementerian Perang AS (Pentagon).
Keputusan diambil menyusul keterbatasan teknis yang terus-menerus dalam intersepsi berbasis laser, termasuk pembangkit daya, kontrol pancaran, dan keandalan penargetan terhadap rudal jelajah yang bermanuver.
Para pemimpin US Army kini berkoordinasi dengan program energi terarah yang dipimpin USN untuk menggabungkan pendanaan pengembangan dan mempercepat jadwal penyebaran.
Upaya bersama ini diharapkan akan berkontribusi pada Golden Dome, sebuah konsep pertahanan berlapis yang dirancang untuk melawan ancaman tingkat tinggi di domain udara, laut, dan berpotensi ruang angkasa.
Sementara, jadwal penyebaran awal masih belum jelas, meskipun para pejabat mengindikasikan bahwa integrasi dan skalabilitas menjadi pendorong persyaratan.
Sistem sebelumnya adalah Laser Energi Tinggi Kemampuan Perlindungan Tembakan Tidak Langsung (IFPC-HEL), yang biasa disebut Valkyrie.
Dirancang sebagai senjata energi terarah kelas 300 kilowatt, Valkyrie dimaksudkan untuk mengalahkan rudal jelajah dan drone dengan mempertahankan pancaran gelombang kontinu pada target cukup lama untuk meledakkan hulu ledaknya atau mengganggu sistem navigasi inersianya.
Dalam praktiknya, mempertahankan kualitas pancaran dan waktu tinggal target terhadap ancaman yang bergerak cepat dan tangguh terbukti lebih kompleks daripada yang diperkirakan.
Tantangan ini meliputi distorsi atmosfer, getaran pancaran, dan kesulitan mempertahankan pelacakan tepat pada target yang bermanuver pada jarak operasional.
US Army telah mengurangi proyek Valkyrie-nya menjadi satu prototipe saja, yang diperkirakan akan dikirimkan pada bulan September 2026 ini.
Alih-alih beralih ke produksi massal, prototipe ini akan berfungsi sebagai aset uji untuk memberikan informasi bagi Sistem Senjata Laser Gabungan (Joint Laser Weapon System/JLWS), yang sedang dikembangkan bekerja sama dengan USN.
JLWS diposisikan sebagai iterasi selanjutnya dari teknologi laser antirudal jelajah, yang mengintegrasikan pelajaran yang dipetik dari program Angkatan Darat dan Angkatan Laut sebelumnya.
Secara paralel, USN terus mengerjakan program High Energy Laser Counter Anti-Ship Cruise Missile (HELCAP-ASCM).
Program ini mengeksplorasi tingkat daya yang lebih tinggi dan kontrol pancaran lebih baik untuk melawan rudal jelajah antikapal, termasuk yang mendekat dengan kecepatan subsonik atau supersonik.
Senjata laser dalam kelas ini mengandalkan optik adaptif dan pengarah pancaran canggih untuk mengkompensasi turbulensi atmosfer, sambil memanfaatkan sistem daya kapal yang mampu mendukung keluaran energi tinggi berkelanjutan.
Sedangkan konsep Golden Dome yang lebih luas bertujuan untuk mengintegrasikan kemampuan ini ke dalam jaringan pertahanan komprehensif yang menggabungkan pencegat berbasis darat, sistem angkatan laut, dan berpotensi komponen berbasis ruang angkasa.
Dalam kerangka kerja ini, senjata energi terarah diharapkan untuk melengkapi, bukan menggantikan rudal pencegat kinetik yang ada.
Sistem laser ini akan memberikan respons yang terukur terhadap ancaman tingkat rendah sambil mempertahankan rudal yang lebih mahal untuk target prioritas tinggi. (RBS)


September 26… Apa gak keburu habis penangkal rudalnya.
AS super power sibuk ciptakan senjata baru berteknologi dan berbiaya tinggi.
Faktanya, meladeni Iran yang konvensional saja panas dingin,..belum kalau menghadapi BRICS berbareng dgn negara2 Eropa pecahan NATO dan Amerika Selatan. Emang sanggup perang di belasan front. Semoga saja California, Texas, Nevada, Alabama, Florida, dsb, minta merdeka dan gabung menjadi SOUTH UNITED AMERICA (SUA) biar Bill Gate Cs gantung diri.