Vietnam-Rusia pererat aliansi energi: Dari PLTN hingga skema ‘rahasia’ bayar senjata
AFP AIRSPACE REVIEW – Di tengah guncangan harga energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, Vietnam resmi mempererat aliansi strategisnya dengan Rusia.
Melalui perusahaan nuklir negara Rosatom, kedua negara telah menandatangani kesepakatan hukum untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Vietnam.
Kesepakatan monumental ini dicapai dalam kunjungan Perdana Menteri Pham Minh Chinh ke Rusia pada 22-25 Maret.
Langkah ini dipandang sebagai upaya darurat Hanoi untuk mengamankan pasokan energi nasional yang mulai terganggu.
Sejak pecahnya konflik antara AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu, Vietnam menghadapi tekanan ekonomi hebat.
Sebagai pusat manufaktur global, lonjakan harga bensin oktan 95 sebesar 50% dan solar hingga 70% telah mengancam stabilitas industri mereka.
Proyek PLTN Ninh Thuan yang sempat tertunda sejak 2010 kini kembali menjadi prioritas.
Rencananya, dua reaktor dengan kapasitas total 2.400 MW akan dibangun untuk memperkuat kemandirian energi Vietnam.
“Perjanjian ini adalah fondasi kemitraan industri jangka panjang yang akan membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru bagi Vietnam,” ujar Kepala Rosatom, Alexey Likhachev.
Tak hanya nuklir, raksasa gas Rusia, Novatek, juga mengonfirmasi kesepakatan pasokan LNG dengan pembeli di Vietnam setelah negosiasi selama lima tahun.
CEO Novatek, Leonid Mikhelson, menyatakan kesiapan untuk memulai pengiriman dalam waktu dekat.
Selain itu, PM Rusia Mikhail Mishustin turut mengonfirmasi adanya perjanjian baru terkait produksi minyak dan gas lintas negara melalui kantor berita TASS.
Mekanisme ‘Bawah Tanah’ Pembayaran Alutsista
Di balik kerja sama energi ini, terungkap adanya mekanisme keuangan tertutup untuk menghindari sanksi internasional.
Dokumen internal menunjukkan bahwa Hanoi dan Moskow menggunakan keuntungan dari proyek minyak dan gas bersama di Siberia untuk melunasi kontrak pertahanan.
Sistem ini memungkinkan Vietnam membayar pengadaan jet tempur, tank, hingga kapal perang tanpa melalui jaringan perbankan global, SWIFT.
Strategi ini dirancang untuk melindungi kedua negara dari pengawasan ketat Barat serta risiko sanksi sekunder, sekaligus memperdalam kemitraan militer mereka di kawasan. (RNS)

Keren sih gebrakan Vietnam, kemandirian energi + pertahanan