Garda depan di Selat Hormuz: Strategi dua matra AS hadapi ancaman 6.000 ranjau Iran

USS Canberra LCS and MH-60 SeahawkWikimedia

AIRSPACE REVIEW – Departemen Perang AS (DoW/Pentagon) sedang mematangkan opsi militer dari matra laut dan udara untuk mengamankan Selat Hormuz, menyusul laporan meningkatnya aktivitas peperangan ranjau oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Meski Menteri Perang AS, Pete Hegseth, menyatakan belum ada “bukti jelas” terkait penyebaran ranjau baru, komando militer Amerika Serikat telah mengambil langkah preventif yang signifikan.

Seperti diberitakan sebelumnya, ketegangan memuncak setelah Laksamana Brad Cooper, Panglima CENTCOM, mengonfirmasi bahwa pasukan AS telah menghancurkan bunker penyimpanan ranjau laut di Pulau Kharg dalam sebuah serangan presisi pada Jumat lalu.

Selain itu, CENTCOM juga melaporkan telah melumpuhkan sedikitnya 16 kapal penyebar ranjau milik Iran dalam operasi militer seminggu terakhir.

Teheran diperkirakan memiliki gudang senjata bawah laut yang masif, mencapai 6.000 ranjau dari berbagai jenis, mulai dari ranjau tempel hingga ranjau dasar laut yang sulit dideteksi.

Diberitakan oleh Defense News, untuk menetralisir ancaman asimetris ini, Pentagon kemungkinan akan mengandalkan kombinasi teknologi deteksi udara dan kapal penyapu ranjau khusus.

Dari matra laut, AS akan mengerahkan dua jenis kapal utama dengan filosofi operasional yang berbeda. Peratama, kapal kelas Avenger, yaitu kapal yang dibangun dari kayu dan fiberglass untuk meminimalisir jejak magnetik.

Kapal ini bekerja di dalam zona bahaya menggunakan sonar dan kendaraan kendali jarak jauh (ROV).

Kedua, adalah dengan mengerahkan kapal tempur pesisir (LCS) kelas Independence. Kapal modern ini telah ditempatkan di Bahrain, yaitu USS Canberra dan USS Tulsa.

Berbeda dengan kelas Avenger, LCS tetap berada di luar zona ancaman dan mengandalkan drone bawah air untuk mencari dan menghancurkan ranjau.

Sementara itu, kekuatan udara yang akan dilibatkan di antaranya mencakup helikopter MH-60S Seahawk.

Helikopter ini dilengkapi dengan sistem deteksi laser untuk menemukan ranjau terapung dan dapat mengerahkan kendaraan bawah air tak berawak untuk eksekusi penghancuran tanpa membahayakan kapal permukaan.

Selain ranjau konvensional, AS mewaspadai penggunaan drone angkatan laut oleh Iran. Investigasi sumber terbuka (OSINT) menunjukkan adanya potensi penggunaan pesawat atau kapal yang dapat dioperasikan secara jarak jauh (unmanned) setelah kru aslinya turun.

Kondisi geografis Selat Hormuz yang sempit memberikan keuntungan taktis bagi Iran, karena mempermudah kontrol radio bagi drone-drone murah namun mematikan, yang kini menjadi ancaman nyata bagi kapal tanker komersial yang tidak bersenjata. (RNS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *