AIRSPACE REVIEW – Perusahaan Italia Leonardo menyatakan telah secara resmi menawarkan jet tempur Eurofighter Typhoon kepada Angkatan Udara Filipina (PAF) untuk ikut serta dalam tender program pengadaan pesawat multiperan negara tersebut.
Proposal yang ditawarkan tidak sekadar penjualan pesawat, melainkan berikut pembiayaan yang disesuaikan dengan realitas ekonomi Filipina, kerja sama industri, dan kemitraan jangka panjang untuk membangun kemampuan pertahanan udara nasional.
Tawaran dari Leonardo ini datang pada saat Filipina sedang berupaya untuk mendapatkan kembali kemampuan intersepsi penuh angkatan udaranya, yang hilang sejak pensiunnya pesawat tempur F-5 pada tahun 2005.
PAF pernah mengoperasikan 37 jet tempur Northrop F-5A/B Freedom Fighter mulai tahun 1965 dan sejumlah F-5E/F Tiger II hibah dari beberapa negara sejak akhir tahun 1990-an.
Meskipun PAF saat ini telah mengoperasikan FA-50PH dari Korea Selatan, platform ringan tersebut memiliki keterbatasan dalam misi superioritas udara dan patroli berkepanjangan di wilayah maritim yang luas.
PAF membutuhkan pesawat tempur baru yang lebih tangguh dan jangkauan operasional yang lebih besar.
Menurut sumber informasi yang mengetahui proyek tersebut, paket yang ditawarkan Eropa mencakup hingga 32 pesawat dalam konfigurasi modern. Jumlah ini dinilai cukup untuk membangun cakupan siaga cepat berkelanjutan di berbagai wilayah kepulauan.
Pengenalan pesawat tempur kelas berat ini akan secara signifikan memperluas misi pertahanan udara, patroli maritim, dan kehadiran pencegah di wilayah sengketa Laut Filipina Barat, di mana ketegangan regional tetap tinggi dan kedaulatan udara telah menjadi prioritas strategis utama bagi pemerintah.
Potensi Typhoon bagi Filipina terkait langsung dengan kemampuannya untuk beroperasi dalam misi jangka panjang dan berintegrasi dengan mitra internasional.
Latihan militer baru-baru ini menunjukkan meningkatnya minat Manila dalam memperkuat interoperabilitas dengan pasukan sekutu.
Mengakuisisi pesawat tempur multiperan yang lebih canggih dapat memperluas partisipasi Filipina dalam operasi gabungan dan meningkatkan PAF dalam lingkungan regional yang semakin kompetitif.
Persaingan dalam tender yang digelar Manila, semakin ketat dan melibatkan proposal relevan lainnya di pasar internasional, seperti jet tempur F-16 Block 70 dari Lockheed Martin Amerika Serikat, Gripen E/F dari Saab Swedia, maupun yang terbaru yaitu KF-21 Boramae dari Korea Selatan.
Sementara ini, Gripen mempertahankan posisinya sebagai alternatif dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Meski demikian, setiap opsi menawarkan implikasi politik dan industri yang melampaui karakteristik pesawatnya itu sendiri.
Hingga saat ini Manila masih terus menimbang tawaran mana yang cocok, disesuaikan dengan anggaran pertahanan negara di Asia Tenggara tersebut. (RNS)


Buat RI yg nonblok, eurofighter riskan utk dibeli krn pespur ini diproduksi secara konsorsium oleh bbrp negara NATO shg rawan embargo. Harganya pun paling mahal. Tapi buat Filipina, pespur ini aman utk dibeli krn Filipina secara geopolitik cenderung pro NATO dan pro AS. Mungkin kendalanya cuma satu: mahal.
gripen seperti nya lebih cocok untuk PH, maintenance dua mesin butuh biaya lebih banyak