AS mengerahkan jet tempur F-16, F-15E, F-35A, F-22, dan pesawat E-3 Sentry AWACS ke Timur Tengah

Jet tempur USAF dan Yunani dalam suatu latihan bersama_1USAF

AIRSPACE REVIEW – Amerika Serikat mengerahkan jet tempur generasi keempat dan generasi kelima serta pesawat AWACS ke Timur Tengah dalam dua beberapa hari terakhir.

Laporan terbaru dari pejabat AS yang dikutip Axios menyebutkan bahwa ada lebih dari 50 jet tempur tambahan yang digeser ke Timur Tengah hanya dalam waktu 24 jam terakhir.

Pesawat-pesawat yang dikerahkan tersebut mencakup F-16 Fighting Falcon, F-15E Strike Eagle, F-35A Lightning II, F-22 Raptor, serta pesawat peringatan dini dan kontrol udara E-3 Sentry.

Bila dibagi dalam peran masing-masing, F-16 dan F-15E merupakan pesawat tempur multiperan yang menjadi tulang punggung untuk serangan darat sejak lama.

F-35A berfokus pada misi penghancuran pertahanan udara musuh (SEAD) dan serangan presisi siluman.

F-22 untuk peran superioritas udara terbaik di dunia guna memastikan tidak ada pesawat lawan yang bisa mengancam ruang udara operasional AS.

Sementara E-3 berperan sebagai “mata di langit” yang mengoordinasikan seluruh pertempuran udara dan mendeteksi ancaman dari jarak sangat jauh.

Kekuatan pesawat dari Angkatan Udara AS (USAF) ini melengkapi gugus tugas dua kapal induk Angkatan Laut AS (US Navy) yang disiagakan di Laut Arab.

Kedua kapal induk, yaitu USS Abraham Lincoln (CVN-72) dan USS Gerald R. Ford (CVN-78), membawa total sekitar 150 jet tempur gabungan dari US Navy dan Korps Marinir AS (USMC).

Berdasarkan data pelacakan penerbangan, jet-jet tempur AS tambahan itu disebar ke beberapa lokasi strategis, seperti Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, dan Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.

Kehadiran dua kapal induk di Timur Tengah memberikan AS kemampuan untuk meluncurkan serangan udara dari dua arah berbeda secara simultan, yang akan menyulitkan sistem pertahanan udara lawan.

Kedua kapal induk ini dijaga ketat oleh armada kapal pengawalnya, maupun jet-jet tempur yang dikerahkan ke udara dari dek kapal.

Pada awal Februari, terjadi insiden di mana sebuah jet tempur F-35C dari USS Abraham Lincoln menembak jatuh sebuah drone Shahed-139 Iran yang terbang terlalu dekat dengan kapal induk tersebut tersebut.

Analis mengaitkan pengerahan besar-besaran armada tempur udara AS dengan negosiasi nuklir yang berlangsung di Jenewa.

AS menggunakan kekuatan militernya sebagai bentuk daya tawar (leverage) agar Iran menyetujui kesepakatan baru yang lebih ketat.

Pemerintahan Presiden Donald Trump tampaknya menjalankan strategi yang disebut “Peace through Strength” (Perdamaian melalui Kekuatan).

Di satu sisi, diplomat AS seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff melakukan pembicaraan di Jenewa, namun di sisi lain, Pentagon menyiapkan kekuatan yang diproyeksikan dapat melumpuhkan pertahanan lawan dalam hitungan jam. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

14 Respon

  1. iwan pansir berkata:

    Saran nih buat iran, jangan sampai tragedi Maduro terulang, yaitu tanpa perlawanan, sebelum pespur AS nyerang, Segera serang duluan kapal induk AS dengan salvo ribuan rudal, pasti nyungsep itu kapal induk, banyak pelaut tewas, maka rakyat AS pasti marah pada om donal, dan serangan ke iran dibatalkan senat, selesai deh😁🚀

    • Anonim berkata:

      Kalau Iran punya kemampuan itu, kapal Induk AS gak bakal bisa sedekat itu dengan teluk.

    • Mario Suripatty berkata:

      Analisa ente kayak semudah bikin telenovela coy. Berani menyerang duluan, AS ada alasan meratakan teheran.
      Ini zaman canggih coy, drone2 baru jalan dari Iran, udah ke deteksi satelit, dan langsung dimusnahkan dengan puluhan armada pesawat tempur sebelum bisa mendekati kapal induk

    • Nicky berkata:

      Lu pikir angkatan laut as bnyk yg mati terus serangan ke iran dihentikan? 🤣 inget peristiwa pearl harbor? Yang ada iran bakal di ratakan tanah,jangan mengganggu raksasa tidur kata jepang 😅

  2. Nanangthedeerhunter berkata:

    Saat para orang bule d’awal² abad masehi masih ngunyah daging yg cuma dibakar a’la kadarnya, orang² Persia telah menguasai hampir setengah dunia. Tinggal kita lihat apakah sejarah akan berulang kembali…???

  3. Sting berkata:

    Mungkin khomeni perlu kontak Prabowo utk minta saran bagaimana caranya mendekati Trump

  4. Pemilu berkata:

    Demo di Iran telah menelan korban hingga 15 ribu jiwa, kenapa AS belum juga mengganti rezim laknat, rezim pembunuh?

  5. Surach Man berkata:

    Sasaran empuk rudal RHAN

  6. Bondan berkata:

    Amerika di timur tengah berani karena persia dan negara2 arab ga kompak, coba lihat aja,Amerika itu mempreteli satu persatu,ini jatuh nya udh ibarat Israel vs persia

  7. Apabila perang pecah. Saya yakin baik amerika maupun iran akan rugi besar. AS memang cabggih. Namun Iran juga cukup canggih. Kapal Induk mereka akn jadi sasaran empuk bagi Iran.

  8. Hahahihi berkata:

    Sangat sulit untuk menenggelamkan kapal induk us sekalipun iran memiliki berbagai macam jenis rudal

  9. Widya Satria Budhi berkata:

    Kok banyak amat yang dikerahin, CENTCOM siaga dalam status Defcon 3 atau Defcon 2? 🤔

  10. Rachmat berkata:

    “Iran Bangsa & Negara Berdaulat jangan mau di dikte atau di injak2 siapapun, lawan dengan alat & cara apapun lebih dulu dan jangan melunak dng teroris yg sdh pernah lbh dulu mencoreng arang di muka anda dan aneh juga kalau Rusia, China, Korut, dll kalau diam tidak turut, bersatu & melawan teroris.”

  11. Amerika tentunya sdh memperhitungkan sgl sesuatunya, mk bertindak demikian. Klw crt nuklir, Amerika pny bnyk. Klw Iran mlncurkn rudal, blm jalan jg psti sdh ditembak duluan tuh rudal. Yg gosong ya Iran sndri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *