Jet tempur F-35C Angkatan Laut AS menembak jatuh drone Shahed Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln

F-35C menembak drone Shahed Iran yang mendekati USS Abraham LincolnIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Sebuah jet tempur F-35C Lightning II Angkatan Laut AS (US Navy) yang beroperasi dari kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone serang Shahed Iran yang mendekati kelompok tempur US Navy di Laut Arab, Selasa, 3 Februari 2026.

Insiden tersebut pertama kali dilaporkan oleh koresponden regional Reuters Idrees Ali dan Phil Stewart dan kemudian dibenarkan oleh pejabat AS anonim kepada Associated Press.

Hal ini menyoroti kecanggihan ancaman asimetris dan respons berteknologi tinggi yang digunakan oleh AS di wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan terbaru dari Komando Pusat AS (CENTCOM), dipaparkan bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan kronologi sebagai berikut.

Sebuah jet tempur siluman F-35C Lightning II yang tergabung dalam Skadron VMFA-314 “Black Knights” lepas landas dari kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) untuk mencegat sebuah drone yang diidentifikasi sebagai Shahed-139 milik Iran.

Lokasi pencegatan berada di sekitar 800 km (500 mil) dari pesisir selatan Iran. AS melakukan penindakan terhadap drone tersebut setelah drone itu mendekati gugus tempur kapal induk dengan cara yang agresif dan mengabaikan langkah-langkah de-eskalasi yang telah diambil oleh pasukan AS.

Jet F-35C berhasil menghancurkan drone tersebut untuk melindungi aset dan personel di kapal induk. Tidak ada cedera pada personel AS maupun kerusakan pada peralatan.

Bila kita amati, penggunaan F-35C dengan kemampuan siluman untuk misi tersebut bukan sekadar intersepsi sederhana.

F-35 dengan rangkaian sensor canggihnya, termasuk Sistem Deteksi dan Pencarian Apertur Terdistribusi Elektronik (EODAS) dan radar AESA, sangat ideal untuk mendeteksi dan melacak target udara dengan jejak radar kecil, seperti drone Shahed, pada jarak jauh.

Aksi tersebut mewakili aplikasi operasional yang signifikan dari kemampuan pesawat tempur generasi kelima dalam peperangan laut kontemporer.

Sejak diluncurkannya Operation Prosperity Guardian pada Desember 2023, drone dan rudal buatan Iran telah digunakan tanpa henti.

Pada tahun 2025, Houthi mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan terhadap kapal, termasuk kapal induk USS Harry S. Truman (CVN-75).

Pertahanan dalam kasus-kasus ini dilakukan melalui kombinasi kompleks dan berisiko tinggi dari sistem pertahanan anti-pesawat di kapal (seperti rudal SM-2 dan ESSM) dan intersepsi udara yang dilakukan oleh sayap udara kapal induk.

Para ahli yang diwawancarai oleh kantor berita Reuters memberikan pendapat mereka tentang motif di balik peluncuran drone tersebut.

Tindakan dengan satu perangkat saja bisa jadi merupakan provokasi yang diperhitungkan oleh Iran, yang bertujuan untuk menguji waktu respons dan pertahanan AS, tanpa bermaksud untuk melakukan eskalasi terbuka dan besar-besaran.

Michael Knights dari Washington Institute for Near East Policy mengatakan kepada Associated Press bahwa taktik seperti ini adalah bagian dari “kampanye tekanan berkelanjutan” yang bertujuan untuk melemahkan dan membebani kehadiran militer AS di Teluk.

Oleh karena itu, respons resmi Washington akan dicermati dengan saksama, karena akan menentukan batas toleransi terhadap serangan terhadap aset angkatan lautnya yang paling penting.

Kantor berita resmi Iran, Tasnim, kemudian melaporkan bahwa drone yang dimaksud sebenarnya adalah Shahed-129, yang lebih mirip dengan Elbit Systems Hermes 450.

Menurut Tasnim, drone Shahed 129 sedang menjalankan misi rutin dan sahnya di perairan internasional, melakukan kegiatan pengintaian, pemantauan, dan pengambilan gambar, yang dianggap sebagai tindakan normal dan sah.

“Drone ini berhasil mengirimkan gambar pengintaian dan identifikasi ke pusat kendali, tetapi kemudian kehilangan komunikasi. Penyebab gangguan ini sedang diselidiki, dan detailnya akan dirilis segera setelah dikonfirmasi,” tulisnya.

Beberapa jam setelah pencegatan drone, pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan sempat mengganggu kapal dagang berbendera AS, Stena Imperative, di Selat Hormuz.

Namun aset militer AS lainnya yaitu kapal perusak (destroyer) rudal kendali kelas Arleigh Burke, USS McFaul (DDG-74) segera turun tangan. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Widya Satria Budhi berkata:

    “Jet F-35C berhasil menghancurkan drone tersebut untuk melindungi aset dan personel di kapal induk. Tidak ada cedera pada personel AS maupun kerusakan pada peralatan.”

    Kerahkan jet tempur generasi ke-5 hanya untuk identifikasi dan hancurkan drone? Apakah generasi 4.5 seperti F/A-18 tak bisa melakukannya? Apalagi bisa dipersenjatai Hydra kaliber 70 mm, yang dipasangkan kit pemandu Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) 🤔

  2. Fahri berkata:

    Itukan baru satu nanti dikirim ratusan saya yakin kapal induknya di hujani sama rudal Iran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *