AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan asal Singapura, ST Engineering Land Systems, hadir di World Defense Show 2026 yang berlangsung di Riyadh Arab Saudi, dengan memamerkan kendaraan lapis baja Rhino MRAP (Mine-Resistant Ambush Protected).
Platform ini dikonfigurasi untuk kerja sama tim awak-nirawak (manned-unmanned teaming / MUM-T), sekaligus mendukung misi ekspedisi modern dan keamanan internal.
Rhino mengadopsi lambung monokok yang dirancang untuk memberikan tingkat perlindungan yang sesuai dengan lingkungan peperangan asimetris.
Untuk tingkat perlindungan balistiknya berada pada STANAG 4569 Level 2, yang tahan terhadap amunisi senapan serbu kaliber 5,56 mm atau 7,62 mm.
Sedangkan tingkat perlindungan terhadap ranjau berada pada STANAG 4569 Level 2a dan 2b, yang dapat mengatasi ancaman dari ledakan ranjau darat dan alat peledak improvisasi (IED) setara dengan 6 kg TNT.
Kendaraan ini berukuran panjang 7,3 m, lebar 2,7 m, dan tinggi 2,6 m. Berat kotornya mencapai 20 ton, dengan kapasitas muatan 4,5 ton.
Dalam konfigurasi standar, kendaraan diawaki dua kru (pengemudi dan komandan) dan kompartemen belakang menampung empat hingga sepuluh prajurit.
Konfigurasi ini memungkinkan Rhino MUM-T untuk melakukan misi pengangkutan pasukan sambil mengintegrasikan peralatan khusus yang terkait dengan komando dan kendali sistem nirawak.
Ditenagai mesin diesel berdaya 600 ps, kendaraan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 100 km/jam dan jangkauan operasi sekitar 780 km.
Kendaraan ini memiliki arsitektur terbuka yang sepenuhnya digital, termasuk dasbor digital dan sistem penglihatan berbasis kamera depan dan belakang dengan cakupan 360 derajat.
Sistem ini juga mendukung pengelolaan aliran informasi yang terkait dengan platform tanpa awak darat (UGV)! maupun drone (UAV) yang beroperasi dalam koordinasi dengan kendaraan.
Rhino dapat dilengkapi dengan berbagai stasiun senjata jarak jauh dari keluarga ADDER, dengan pilihan senjata seperti senapan mesin 12,7 mm atau kanon otomatis 30 mm. (RBS)

