AIRSPACE REVIEW – Azerbaijan dilaporkan sedang menjajaki kemungkinan mengakuisisi jet tempur multiperan Gripen E/F dari Saab, Swedia sebagai bagian dari modernisasi besar-besaran angkatan udaranya.
AzeMedia melaporkan, kesepakatan potensial tersebut dapat melibatkan hingga 48 pesawat, disertai dengan paket dukungan dan pelatihan yang komprehensif.
Perkiraan sumber terbuka menunjukkan bahwa nilai perjanjian prospektif tersebut dapat mencapai sekitar 6,5 miliar USD (Rp109,18 triliun), termasuk dukungan logistik jangka panjang, suku cadang, pelatihan pilot dan teknisi, dan sistem terkait.
Jika negosiasi berlanjut ke tahap akhir, pengiriman awal kemungkinan akan dilakukan setelah tahun 2029.
Sumber-sumber menunjukkan bahwa minat Azerbaijan meluas melampaui pengadaan platform hingga paket kemampuan spektrum penuh, sejalan dengan strategi Baku yang lebih luas untuk beralih ke aset penerbangan tempur yang lebih canggih.
Pendekatan seperti itu mencerminkan upaya terbaru negara tersebut untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya melalui akuisisi selektif teknologi canggih daripada peningkatan bertahap.
Gripen E/F, yang diklasifikasikan sebagai pesawat tempur generasi 4.5. Pesawat ini dilengkapi dengan avionik canggih, sistem peperangan elektronik, dan radar AESA, yang memungkinkan operasi efektif di wilayah udara yang diperebutkan.
Dirancang untuk fleksibilitas dan penyebaran cepat, jet Gripen dioptimalkan untuk operasi dari lingkungan infrastruktur yang tersebar dan terbatas, konsep operasional yang dianggap relevan untuk berbagai teater regional.
Gripen E/F menggunakan mesin yang diproduksi oleh General Electric, Amerika Serikat. Dengan adanya komponen ini, maka ekspor Gripen memerlukan persetujuan dari Amerika Serikat.
Para analis mencatat bahwa kondisi keterlibatan politik saat ini antara Baku dan Washington dapat menjadi faktor penting dalam menentukan apakah persetujuan tersebut akan diberikan.
Di kalangan keamanan regional, potensi akuisisi ini dipandang sebagai perkembangan yang dapat secara substansial meningkatkan kemampuan tempur udara Azerbaijan dan memengaruhi keseimbangan militer yang berkembang di Kaukasus Selatan, khususnya di tengah upaya modernisasi pertahanan yang sedang berlangsung di seluruh wilayah tersebut.
Pada tahap ini, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh otoritas Azerbaijan atau Swedia mengenai status atau detail spesifik dari diskusi yang dilaporkan tersebut.
Azerbaijan saat ini sedang dalam masa transisi dari ketergantungan pada teknologi Soviet/Rusia menuju aliansi dengan Pakistan, Turki, dan Israel.
Kekuatan udara Azerbaijan sangat bertumpu pada helikopter, dengan sekitar 50% dari total aset udara mereka adalah unit rotary-wing. Helikopter yang dioperasikan meliputi Mi-24 Hind, Mi-35M, dan ratusan helikopter angkut seri Mi-17.
Di sektor jet tempur, fokus utama saat ini adalah jet tempur JF-17 Thunder Block III yang dibeli dari Pakistan.
Pesawat tersebut mulai dioperasikan secara bertahap sejak akhir 2024 untuk menggantikan armada MiG-29 yang sudah menua.
Sementara untuk serang darat, Angkatan Udara Azerbaijan mengoperasikan Su-25 Frogfoot dalam jumlah sekitar 30-38 unit.
Menariknya, pesawat-pesawat ini telah dimodernisasi oleh Turki agar bisa mengangkut bom pintar dan rudal presisi standar NATO.
Azerbaijan juga telah melengkapi kekuatan udaranya dengan sejumlah drone. Dalam perang dengan Armenia tahun 2020, Azerbaijan diketahui telah menggunakan drone Bayraktar TB2 dari Turkiye.
Baku juga telah mengakuisisi drone dari Turkiye yang berukuran lebih besar, yakni Bayraktar Akinci.
Sementara untuk drone kamikaze, Azerbaijan mengoperasikan drone IAI Harop dan SkyStriker dari Israel. (RNS)

