Kapal induk China Fujian meluncurkan dua pesawat (J-15 dan J-35) dari deknya secara bersamaan, benarkah?

Fujian CV18 meluncurkan dua pesawat sekaligus - benarkah CGIVia X

AIRSPACE REVIEW – Baru-baru ini beredar klip video yang memperlihatkan kapal induk China yang terbaru, Fujian (CV 18) atau Type 003, terihat meluncurkan sekaligus, secara bersamaan, dua jet tempur yang diidentifikasi sebagai J-15 dan J-35, dari atas deknya menggunakan Sistem Peluncuran Pesawat Terbang Elektromagnetik (EMALS).

Video berdurasi 18 detik memperlihatkan bahwa pengambilan video dilakukan dari udara, yang umumnya saat ini menggunakan drone.

Pengunggah menambahi keterangan videonya dengan menuliskan narasi kurang lebih seperti ini:

Kapal induk Fujian meluncurkan dua pesawat sekaligus! Menghancurkan rumor tentang “cacat” ketapel elektromagnetik, menampar keras media penyebar rumor di luar negeri! (Perhatikan nomor 18 di haluan)

Kapal induk Tiongkok memiliki keunggulan sebagai pendatang baru dalam teknologi. Tidak hanya mampu melakukan operasi ketapel elektromagnetik yang lancar dan mulus, tetapi juga dapat meluncurkan dua pesawat sekaligus — satu J-35 dan satu J-15.

Anda dapat membayangkan betapa besarnya kapasitas pembangkit daya kapal induk Fujian, dan ini masih hanya kapal induk bertenaga konvensional dengan mesin diesel — sekarang kapal induk bertenaga nuklir Tipe 004 Tiongkok telah mulai dibangun, dan diperkirakan akan diluncurkan dalam waktu sekitar dua tahun. Pada saat itu, kemampuan tempur ketapel elektromagnetik Angkatan Laut Tiongkok akan meningkat pesat lagi.

Bagi warganet yang gampang terpukau dengan beragam postingan di berbagai platform media sosial, tentunya akan mudah percaya begitu saja.

Terlebih pada video-video yang memperlihatkan keunggulan China dibanding Amerika Serikat, Rusia dibanding AS, atau sebaliknya di mana teknologi yang dikembangkan China dan Rusia belum ada apa-apanya dengan teknologi yang dikembangkan oleh AS, sesuai dengan ekspektasi masing-masing.

Lepas dari masalah suka atau tidak suka, saat ini klip video dapat dengan mudah dibuat menggunakan Computer-Generated Imagery (CGI) atau simulasi atau video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Video CGI/AI dapat digunakan untuk beragam tujuan, termasuk propaganda, atau bahkan hoax.

Airspace Review dalam hal ini, tidak bermaksud mengatakan bahwa video mengenai peluncuran dua pesawat sekaligus dari kapal induk Fujian tersebut adalah hasil CGI. Silakan pembaca menanyakannya kepada Grok di X soal keaslian video tersebut.

Hanya saja, bila berpatokan pada sumber resmi dari pihak otoritas Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) belum ada rilis resmi yang memberitakan bahwa kapal induk Fujian meluncurkan dua pesawat secara bersamaan. Kapal induk ini bahkan masih dalam tahap awal pengoperasiannya.

Hingga saat ini, pihak otoritas China (PLA Navy/PLAN) belum merilis video resmi seperti itu, atau yang membenarkan bahwa Fujian meluncurkan J-15 dan J-35 secara bersamaan dari deknya.

Tentang J-15 Flying Shark ini adalah versi terbaru, China telah mengembangkan J-15T, yang telah mendapatkan modifikasi agar bisa diluncurkan menggunakan sistem elektromagnetik, bukan lagi sekadar sistem ski-jump seperti di kapal induk Liaoning dan Shandong.

Huruf T pada J-15T sering dihubungkan dengan kata Tánshè yang berarti “ketapel” dalam bahasa Mandarin.

Sementara J-35 adalah jet tempur generasi kelima (siluman) China yang dirancang khusus untuk beroperasi dari kapal induk dengan EMALS. China, dalam hal ini perusahaan Shenyang, selain membuat J-35, juga memproduksi J-35A yang dirancang untuk operasi berbasis dari darat bagi angkatan udara.

Ada satu lagi sebenarnya pesawat yang menjadi komponen utama dari kapal induk ini, yaitu KJ-600 (mirip dengan E-2 Hawkeye AS) yang berperan sebagai kapal peringatan dini dan kontrol udara (AEW&C) bagi pesawat-pesawat tempur China.

Menarik juga untuk mencermati narasi penggunaan dua EMALS sekaligus pada Fujian, yang dikatakan menunjukkan “besarnya kapasitas pembangkit daya kapal induk Fujian, dan ini masih hanya kapal induk bertenaga konvensional dengan mesin diesel.”

Perlu dicermati, berdasarkan data dari hasil penelusuran di internet, disebutkan bahwa EMALS tidak mengambil daya secara mentah dari mesin diesel saat peluncuran. Sebab, energi tersebut disimpan terlebih dahulu dalam flywheels atau kapasitor raksasa.

Kapal induk Fujian, seperti dua kapal induk China lainnya, memang masih menggunakan mesin konvensional (bukan tenaga nuklir), namun sistem integrasi elektriknya sangat maju untuk memastikan daya yang cukup guna mengoperasikan tiga jalur ketapel elektromagnetik secara bergantian atau bersamaan dalam interval pendek.

Perlu ditegaskan di sini memang, bahwa Fujian memang memiliki tiga rel ketapel dari sistem EMALS-nya. Tetapi ini bukan sesuatu yang “terbanyak”, karena kapal induk nuklir AS kelas USS Gerald R. Ford (CVN-78) malah memiliki empat jalur sistem EMALS. So, tidak ada yang spesial dalam hal ini.

Tiga jalur EMALS pada kapal induk Fujian terdiri dari dua di dek haluan (bow), yaitu di bagian depan kapal. Dua jalur EMALS inilah yang digunakan dan tampak dalam klip video peluncuran bersama J-15 atau J-35 yang beredar.

Kemudian satu jalur EMALS lagi terletak di dek pinggir (waist/angled deck), yaitu di sisi kiri kapal pada landasan pacu yang miring. Jalur ini memungkinkan peluncuran pesawat sambil tetap menjaga area pendaratan tetap terbuka jika diperlukan.

Penggunaan tiga jalur EMALS memberikan keuntungan karena Fujian bisa meluncurkan hingga tiga pesawat dalam interval waktu yang sangat singkat.

Secara teoritis, dua pesawat di haluan bisa diluncurkan hampir bersamaan, namun ini pernuh risiko terkait keselamatan.

Penggunaan tiga jalur EMALS, sebenarnya lebih ke penggunaan cepat dan juga cadangan, bila misalnya satu jalur mengalami masalah, masih ada dua jalur lainnya yang dapat digunakan.

Hal ini berbeda dengan dua kapal induk China lainnya, yaitu Liaoning (CV 16) dan Shandong (CV 17) yang tidak menggunakan sistem peluncuran EMALS, namun menggunakan sistem ski-jump.

Peluncuran pesawat menggunakan EMALS tentu saja memberikan keuntungan karena mampu melontarkan pesawat tempur dengan muatan senjata dan bahan bakar penuh (J-15T dan J-35), demikian juga dengan pesawat KJ-600 yang berat.

Fakta lainnya dalam kaitan untuk menjawab kebenaran soal video yang beredar tersebut, adalah bahwa hingga saat ini tidak ada catatan resmi atau bukti video yang menunjukkan Angkatan Laut AS (US Navy) meluncurkan dua pesawat secara bersamaan menggunakan sistem EMALS dari kapal induknya.

Meskipun secara teknis, seperti disinggung tadi, bahwa USS Gerald R. Ford yang bertenaga nuklir (CVN-78) memiliki empat jalur ketapel (lebih banyak dari Fujian), ada beberapa alasan operasional dan keamanan mengapa peluncuran “barengan” jarang dilakukan atau tidak pernah dilakukan.

Dalam operasi dek penerbangan yang nyata, peluncuran secara bersamaan sangat berisiko, khususnya jika terjadi sesuatu pada salah satu atau kedua pesawat yang dapat menyebabkan kecelakaan fatal.

Oleh karenanya dipilih jeda waktu (interval) yang singkat, untuk menghindari faktor risiko tersebut, ketimbang melakukan peluncuran secara bersamaan

Selain faktor kerusakan teknis, perlu diingat juga bahwa setiap pesawat dalam penerbangannya akan menghasilkan jet blast dan turbulensi udara yang sangat kuat di belakangnya.

Meluncurkan dua pesawat tepat di saat yang sama dapat menciptakan gangguan aliran udara yang bisa membahayakan stabilitas pesawat, terutama jika angin laut sedang tidak stabil.

Terlepas dari semua yang telah Airspace Review uraikan, bila Anda menyakini bahwa pilot-pilot China itu jago-jago dan hebat-hebat, dan karenanya faktor risiko sangat kecil, Anda boleh percaya kalau video itu nyata. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *