Awan hitam menggelayuti pengembangan jet tempur generasi keenam FCAS

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Program pengembangan jet tempur generasi keenam yang digagas oleh Perancis dan Jerman dan kemudian diikuti oleh Spanyol, yaitu Future Combat Air System (FCAS) sedang menghadapi kendala terkait masa depan kerja sama tiga negara ini.

Pasalnya, menurut siaran pers yang dikeluarkan oleh Komisi Senat Perancis untuk Urusan Luar Negeri, Pertahanan dan Angkatan Bersenjata pada minggu lalu, dapat diibaratkan program ini tengah kehilangan momentum, daya angkat, dan semakin mendekati kecepatan stall (jatuh).

Pernyataan ini dirilis usai Komisi Senat Perancis usai melakukan audisi dengan CEO Dassault Aviation Eric Trappier, Kepala Strategi, Merger & Akuisisi, dan Urusan Publik Airbus Antoine Bouvier, serta CEO Airbus Defense and Space Dirk Hoke.

FCAS merupakan satu dari dua program yang digagas bersama oleh Perancis dan Jerman dan terbuka bagi peserta Eropa lainnya.

Program lainnya adalah Main Ground Combat System (MGCS) yang akan menggantikan tank tempur utama (MBT) dan kendaraan lapis baja berat lainnya pada waktunya.

Jerman memimpin program MGCS dengan Krauss-Maffei Wegmann sebagai pemimpin proyek. Pabrik ini memang sudah terbutki menghasilkan MBT Eropa Barat yang paling banyak diproduksi yaitu tank Leopard 2.

Sedangkan Prancis melalui Dassault Aviation memimpin proyek FCAS di bawah naungan Airbus.

Terjadi kurang sepemahaman antara Perancis dan Jerman

Informasi beredar, terjadi kurang kesepahaman antara Perancis dan Jerman dalam program FCAS di mana Perancis ingin menambahkan kemampuan penerbangan untuk Angkatan Laut dan kemampuan membawa senjata nuklir.

Mengomentari terjadinya hal tersebut, Ketua Komisi Senat Perancis mengatakan, sebaiknya kerja sama ini dikembalikan kepada semangat “win-win” dan prinsip-prinsip yang telah disepakati pada 2017-2018 lalu.

Terjadinya “gesekan” antara kedua negara pemimpin proyek besar ini, dapat berpotensi merusak kerja sama yang telah dibangun.

Untuk diketahui, program FCAS dicanangkan guna melahirkan jet tempur generasi keenam yang akan dioperasikan pada 2040. Total biaya program ini mencapai 50-80 miliar euro dan sangat berat untuk ditanggung oleh satu negara.

Apakah Perancis pada akbhirnya akan mengundurkan diri dan membangun proyek ini sendiri? Hal seperti ini pernah terjadi dalam proyek bersama Eurofighter 2000 yang melahirkan Eurofighter Typhonn pada 1980-an.

Rencana pengembangan FCASLivefist

Perancis pada akhirnya melakukan pengembangan jet tempur Rafale yang kini tengah naik daun dan diminati oleh sejumlah negara.

Mengenai program jet tempur generasi keenam, sudah ada beberapa negara yang juga mengerjakannya, termasuk proyek Team Tempest yang digagas Inggris bekerja sama dengan Italia dan dibantu Swedia.

Amerika membidik jet tempur generasi lima minus

Berbeda dengan negara lain yang menggembar-gemborkan proyek ini, Amerika Serikat melalui Angkatan Udara AS (USAF) malah lebih condong pada pengembangan jet tempur generasi kelima minus alias jet tempur generasi keempat plus yang mengakomodir teknologi pada jet tempur generasi kelima dan keenam.

Hal tersebut dicetuskan oleh Kepala Staf USAF Jenderal Charles Q Brown Jr. yang menyebut USAF tidak memerlukan jet canggih F-35 dalam jumlah terlalu banyak akibat biaya pengoperasian dan pemeliharaan yang sangat tinggi.

Merespons keinginan Jenderal Brown, kini sudah muncul salah satu desain yang ditawarkan kepada USAF dan Pentagon, yaitu F-36 Kingsnake.

Mari kita tunggu perkembangan berikutnya, apakah program jet tempur generasi keenam ini akan melenggang secara mulus atau direvisi.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *