Eks KSAU: Menjaga Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – “Kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menjaga Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa,” demikian disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) ke-14 Marsekal (Purn) Chappy Hakim sekaligus chairman Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) dalam pertemuan bulanan rutin Pusat Studi Air Power Indonesia melalui Zoom Meeting, Rabu (10/2).

Dalam kesempatan ini turut hadir KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo untuk memberikan dukungan dan sambutan terhadap PSAPI.

KSAU sebagai pegiat dirgantara turut menyampaikan bahwa masih sangat sedikit lembaga think-thank yang dapat memberikan pengetahuan khususnya di bidang dirgantara di negeri ini. KSAU juga turut menyampaikan apresiasi terhadap para pelopor PSAPI karena terus memberikan informasi terkini seputar kedirgantaraan kepada masyarakat.

Marsekal Fadjar juga menyampaikan, sebagai KSAU tentu memandang PSAPI lebih kepada sudut pertahanan negara, yang baginya adalah sebuah domain terpenting di era disrupsi.

“Tentu kita tidak dapat pungkiri bahwa kekuatan udara telah berkembang sangat pesat bahkan hingga merambah ke luar angkasa, dan tentunya untuk mengkaji ilmu kedirgantaraan ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja,” kata Kasau.

Dalam rapat rutin bulanan ini turut hadir beberapa tokoh kedirgantaraan lainnya seperti Captain Christian Bisara, Captain Shadrach Nababan, Captain John Brata, Marsdya (Purn) Eris Herryanto, Dr. Tommy Tamtomo, Sulistyo Atmadi, Julius Hassan, Hendra Arifin, Samudra Sukardi, dan lain lain.

Dalam kesempatan ini mantan penerbang tempur F-5 E/F Tiger II, Marsdya (Purn) Eris Herryanto menyampaikan pendapatnya terkait penegakan hukum.

Pilot dengan julukan “Mustang” itu menyampaikan kekhawatirannya jika ada aparat penegak hukum dalam proses investigasi kecelakaan pesawat akan berakibat tidak maksimalnya proses investigasi.

Tidak hanya itu, lain hal juga disampaikan oleh salah satu peserta bahwa industri penerbangan yang adalah pariwisata sebaiknya tidak dikaitkan dengan hal-hal yang terjadi di salah satu perusahaan BUMN saat ini, seperti dikaitkan pada hotel, tour, dan travel.

Karena, hal ini akan menyebabkan satu bisnis tersebut menjadi tidak strategis. Ia menuturkan bahwa Menhub dan Menteri BUMN memiliki pola pemikiran yang berbeda.

Rachmat Kartakusuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *