FDR telah ditemukan, selanjutnya menguak penyebab jatuhnya PK-CLC

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Berbagai teori penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-500 registrasi PK-CLC milik Sriwijaya Air bermunculan, walaupun diakui saat ini tidak terlalu masif seperti tahun-tahun terdahulu.

Semua pihak secara lebih arif memilih untuk bersabar menunggu hasil investigasi tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Kunci jawaban untuk menemukan penyebab-penyebab kecelakaan pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ182 rute Jakarta-Pontianak ini, tidak lain ada pada dua kotak hitam di pesawat tersebut, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

FDR merekam semua parameter-parameter penerbangan sejak mesin pesawat dihidupkan hingga kecelakaan terjadi dan sistem di pesawat tidak bekerja lagi.

Sementara CVR merekam percakapan di kokpit antara pilot dan kopilot, maupun percakapan awak kokpit dengan pengontrol lalu lintas udara maupun dengan pihak lainnya.

Seperti diketahui, pesawat Boeing 737-500 PK-CLC milik Sriwijaya Air hilang kontak dari radar pada pukul 14.40 WIB, Sabtu, 9 Januari 2021. Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 14.36 WIB. Artinya, pesawat hilang kontak setelah empat menit mengudara.

Telah ditemukannya FDR oleh para penyelam tim gabungan dari TNI AL pada Selasa, 12 Januari 2021, membuka harapan besar parameter-parameter penerbangan yang menyebabkan jatuhnya PK-CLC akan terungkap lebih terang benderang.

Pengumuman telah ditemukannya FDR disampaikan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Dermaga JITC, Tanjung Priok, Jakarta pada Selasa sore.

Saat itu juga FDR diserahkan oleh Panglima TNI kepada Kepala Bagus Puruhito dan dari Kabasarnas kepada ketua KNKT.

Ketua KNKT mengatakan, dibutuhkan waktu 2-5 hari untuk mengunduh data-data dari FDR.

Sedangkan untuk CVR hingga saat ini belum ditemukan. Diharapkan, kotak hitam yang satu ini juga segera dapat ditemukan untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan dalam proses investigasi kecelakaan pesawat.

Rekaman data radar ADS-B dari Airnav Indonesia

Sementara itu, KNKT dalam siaran persnya menyatakan, KNKT telah mengumpulkan data radar (ADS-B) dari Perum LPPNPI (Airnav Indonesia).

Dari data tersebut tercatat, PK-CLC terbang menuju arah barat laut dan pada pukul 14.40 telah mencapai ketinggian 10.900 kaki. Tercatat pesawat mulai turun dan data terakhir pesawat pada ketinggian 250 kaki.

Terekamnya data sampai dengan ketinggian 250 kaki, mengindikasikan bahwa sistem pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim data.

“Dari data ini kami menduga bahwa mesin masih dalam kondisi hidup sebelum pesawat membentur air,” kata Ketua KNKT.

Data langapan lain yang didapat KNKT dari KRI Rigel yang dikerahkan oleh TNI AL, adalah  fakta bahwa sebaran puing-puing pesawat PK-CLC berada pada area dengan lebar 100 meter dan panjang 300-400 meter. Luas sebaran ini, kata Ketua KNKT, konsisten dengan dugaan bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air.

Temuan bagian pesawat yang telah dikumpulkan oleh Basarnas, salah satunya adalah bagian mesin yaitu turbine disc dengan fan blade yang mengalami kerusakan.

“Kerusakan pada fan blade menunjukkan bahwa kondisi mesin masih bekerja saat mengalami benturan. Hal ini sejalan dengan dugaan sistem pesawat masih berfungsi sampai dengan pesawat pada ketinggian 250 kaki,” kata Soerjanto.

Mari kita tunggu laporan pendahuluan hasil penyelidikan kecelakaan pesawat yang biasanya disampaikan setelah satu bulan setalah penyelidikan dilaksanakan.

Setelah itu, hasil final penyelidikan yang menerangkan faktor-faktor penyebab kecelakaan pesawat berikut rekomendasinya, biasanya akan disampaikan dalam waktu rata-rata satu tahun. Bisa lebih cepat atau lebih lama tergantung kompleksitas kendala yang dihadapi selama investigasi dilaksanakan.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *