Jet tempur dan diplomasi Menhan Prabowo, Indonesia mau membeli F-35?

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Kabar mengenai rencana kunjungan resmi Menteri Pertahanan Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Amerika Serikat (AS) dalam rangka memenuhi undangan Menteri Pertahanan AS Mark Esper sontak membuat banyak netizen pemerhati militer dalam negeri mulai kasak-kusuk dan menduga-duga.

Ya, tentu yang ramai diperbincangkan netizen adalah tak jauh dari seputar kemungkinan transaksi pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan AS sebagai hasil dari kunjungan diplomasi pertahanan tersebut.

Meskipun tentu saja, belum tentu juga akan terjadi kesepakatan pembelian apa pun mengingat situasi yang belum kondusif di saat dunia dan khususnya Indonesia masih sibuk menghadapi pandemi COVID-19.

Seperti telah diberitakan oleh sejumlah media, Kementerian Pertahanan RI dalam keterangan tertulis yang disampaikan oleh Juru Bicara Menhan Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diundang oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Pertahanan Mark Esper untuk berkunjung ke Amerika Serikat pada 15-19 Oktober 2020.

Sah-sah saja netizen menebak-nebak. Sudah jadi rahasia umum bahwa TNI AU memang masih menunggu satu skadron jet tempur pengganti F-5E/F Tiger II yang sudah purna tugas sejak 2016 lalu. Sedianya direncanakan pengganti Sang Macan Tempur tersebut adalah jet canggih generas 4,5 buatan Rusia, Su-35 Super Flanker.

Namun sejulah kendala yang disinyalir lebih banyak bersifat politis, membuat burung besi yang juga sudah dibeli China dan Mesir itu hingga kini tak ada kabar beritanya apakah jadi menjaga langit Nusantara.

AS sendiri pernah menawarkan F-16 Viper (Block 70/72), yaitu generasi penerus Fighting Falcon, untuk memenuhi kebutuhan TNI AU.

Ada pula sejumlah pihak yang berpendapat sebaiknya Indonesia tak tanggung-tanggung meminta AS untuk menjual jet tempur siluman F-35 Lightning II kepada Indonesia.

Beberapa tahun lalu seorang petinggi Lockheed Martin, produsen F-35, memang sempat berani menyatakan bahwa “kemungkinan menjual F-35 ke Indonesia sangat logis mengingat jet tempur ini banyak dibeli negara-negara sekutu dan sahabat AS yang juga pernah mengoperasikan F-16.”

F-15XBoeing

Namun demikian perlu diingat bahwa sejatinya AS tak akan gampang begitu saja melepas izin ekspor F-35. Sejumlah syarat ketat baik soal keamanan dan politik pastinya ikut mengemuka.

Di luar Lockheed dengan F-16V dan F-35-nya, tentu saja jangan dilupakan Boeing yang tengah memproduksi F-15EX Advanced Eagle pesanan AU AS. Varian tercanggih keluarga F-15 Strike Eagle ini kabarnya tengah diperjuangkan Boeing agar bisa diekspor ke sejumlah negara.

Di luar semua tebak-tebakan yang beredar, selain faktor politis ada dua aspek utama yang harus diperhitungkan dalam pembelian jet tempur baru, yaitu soal harga dan biaya perawatan dalam pengoperasiannya kelak.

Antonius KK

15 Replies to “Jet tempur dan diplomasi Menhan Prabowo, Indonesia mau membeli F-35?”

  1. Beli F15 Japan saja dengan persetujuan upgrade USA min. 2 – 3 skuadron itu sudah mempunyai Efek gentar di negara Kawasan dengan harga lebih masuk akal….

  2. Andai F-35 dibeli mungkinkah spek f-35 TNI sama dengan spek yang dimililiki australia dan singapura mengingat dua negara tersebut tangan kanan amerika di asia tenggara. lebih-lebih australia yang saya yakin keberatan bila kita membeli f-35 apalagi speknya sama, mengingat ketika kita akan mendatangkan f-16a/b tahun 80an lewat peace bima sena 1, australia sempat meradang kepada amerika… Apakah mungkin amerika akan mendowngrade f-35 kita sesuai permintaan australi?

    1. Tetep di downgrade kurasa.. tapi ngga papa.. yang penting pilot2 TNI-AU punya pengalaman ngoperasikan F-35 dulu..
      sambil nyisihkan anggaran untuk tetap beli Su-35 sebagai penyeimbang internal (antisipasi embargo)..
      Klo F-35 ga boleh dibeli, ya F-16V lah, ato Boeing F-15X ato Boeing F/A-18E/F Block III (ASH)..
      Yang penting baik AS maupun Rusia wajib dilarisi semua menurutku..
      karena sudah pilihan politik luar negeri kita yang Non-Blok.. jadi harus ngerangkul dua2-nya dan ngelarisi produk dua2-nya..
      Akan bahaya klo menitik-beratkan pada produk AS saja ato Rusia saja..
      memang secara teknis lebih berat ngoperasikan 2 produk dari teknologi blok barat dan blok timur secara bersamaan.. tapi itu pilihan yang terbaik..

  3. Sukhoi SU35 lebih realistis, mengingat wilayah kita yang sangat luas. Dengan jangkauan kurang lebih 4000 km, SU35 lebih tangguh daripada kompetitor2 yang hanya mempunyai jangkauan 1000-1500 km dan SU 35 mempunyai daya gentar yang luar biasa sampai Australia beli 100 F35, padahal rencana Indonesia hanya mau beli 11 SU35.

    1. SU 35 hanya unggul di manuverbility & jarak jelajah dari pada F 35,F 16 V & F 15 EX pruduk USA,radar su 35 masih pesa,biaya cpfh 500jt perjam,sukhoi maintenance besarnya harus di Rusia kalau su 35,harga SU 35 $100jt perbiji belum kena CAATSA kalau beli.realistisnya upgrade F 16 yg ada dengan standar F 16 V & beli F 16 V yang baru dan jangan lupa buat MRO&U sbg support seperti plan taiwan.

    2. Su-35 itu boros perawatan bro.. coba liat pengalaman AU India ngoperasikan 250 lebih Su-30MKI mereka.. puyeng tuh kepala mereka.. padahal punya pabrik Su-30MKI segala lho..
      Produk Rusia emang murah harga belinya, tapi MAHAL-nya biaya perawatannya.. blom lagi soal “bagi ilmu” alias ToT, Rusia PELIT..

      Gpp sih beli Su-35, tapi jangan banyak2.. liat pengalaman AU India.. mereka lebih mengandalkan Dassault Mirage 2000 dan Dassault Rafale (Buatan Perancis – Barat) yang kesiapan operasionalnya lebih tinggi..
      Beli produk Rusia gpp, tapi jangan juga mengesampingkan produk Barat/AS, mereka juga harus dilarisi.. sebagai penyeimbang di internal kita.. Rusia ato Barat/AS, semua harus dirangkul utk kasus negara kita ini..

  4. Amerika nggak bakalan menjual F-35 ke Indonesia, diluar harganya yang mahal dan pemeliharaannya yang juga sangat mahal. Paling Amerika nawari kita F-16 terbaru karena udah lama mereka nawari Indonesia F-16 bekas yang ditingkatkan artinya Australia dan Singapura tetap unggul dengan F-35. Belum lagi yang menurut Belanda bahwa F-35 rentan disambar petir jika sedang mengudara atau di parkir di area terbuka selama musim hujan. Apalagi Australia dan Singapura nggak bakal ikhlas kalau AU Indonesia unggul atas mereka. Yang terbaik bagi kita saat ini adalah membeli SU-35 dari Rusia yang bisa membuat Amerika, Australia dan Singapura panas dingin. Kita berharap para pemimpin kita/pembuat keputusan sadar dan mampu membuat kita dihargai sebagai suatu bangsa yang merdeka. Bravo Indonesia 🇮🇩

    1. klo menurutku sebaiknya Rusia dan AS, di larisi semua..
      Su-35 satu skadron, F-16 (varian tercanggih) satu skadron (klo ga boleh beli F-35)..
      kenapa?
      1. Produk Rusia murah harga belinya, tapi sangat mahal biaya perawatannya (liat pengalaman AU India dengan 250 lebih Su-30MKI), di samping itu utk urusan “bagi ilmu” alias ToT, Rusia lebih pelit dari Barat. Tapi Rusia ga suka embargo senjata klo ada masalah politis.
      2. Produk Barat/AS harga belinya emang mahal, tapi biaya perawatan lebih murah. Silakanlah, mau F-16 ato F-35. ato malah mau buatan Boeing (F-15X ato F/A-18E/F Block III). Tapi Barat suka embargo klo ada masalah

      Jadi amannya, dua-duanya kita larisi.. ga usah anti Barat/AS secara berlebihan, kita beli produk Barat/AS, tapi juga kita beli produk Rusia sebagai penyeimbang internal..
      Tinggal itung2’an.. berapa persen produk Rusia dan berapa persen produk Barat/AS.

  5. Beli sukhoi su 35 karna lebih cocok di negara luas kepulauan kayak indonesia, dan beli f 35/f 16 buat nyogok biar nggak kena Sanksi AS.
    Wkwkwkwk

    1. Ya memang posisi kita di mata AS ga akan sebagus Singapura dan Australia bro.. hehe..
      tapi bahaya klo kita cuma beli produk Rusia aja tanpa melarisi AS juga..
      yaaa.. jaga hubungan baik ajalah sama AS dan Rusia.. dua2 nya dilarisi produknya..

  6. Menurut saya bagi negara non agresor seperti indonesia,lebih ke memperbanyak sistem pertahanan udara seperti patriot,s400,masam 2. pertahanan pantai(laut) seperti yakhont.sistem radar ,dan perangkat lunak.

    1. klo menurutku, kemampuan agresi tetep kita harus punya..
      tapi dalam jumlah yang tidak terlalu makan anggaran..
      misal kita batasi dalam 1 masa renstra TNI, pengadaan 1 skadron Su-35 Rusia dan 1 skadron jet tempur AS (bisa F-35 ato F-16V ato F-15X ato F/A-18 Advanced SH), tapi tetep harus punya penambahan jumlah jet tempur terkini..
      Minimal untuk memelihara skill para pilot tempur TNI-AU dan para teknisinya (belajar teknologi terkini).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *