Cara pilot mengambil keputusan saat terbang dalam kondisi cuaca buruk

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Seorang pilot harus dapat mengambil keputusan yang tepat saat menerbangkan pesawat bermesin ganda dalam keadaan Instrument Meteorological Condition (IMC) atau cuaca buruk.

Bagaimana caranya? Untuk memaparkan hal itu Capt. Gema Merdeka Goeyardi, Instruktur Penerbang FAA sekaligus pendiri dari 14 Day Pilot Flight Academy, menggelar workshop bertema “Pilot in Command Decision Making in Multi Engine Instrument Flight”.

Kegiatan dilaksanakan di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (31/1). Dalam kegiatan ini, 14 Day Pilot Flight Academy mengundang Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug.

Acara dihadiri oleh Direktur PPI Curug Capt. Avirianto beserta Instruktur Penerbang PPI yaitu Capt. Arsanto Noorwahyu dan Capt. Dody Wahyu Widodo serta 15 Taruna Penerbang PPI Curug yang sudah memiliki lesensi PPL (Private Pilot License).

BACA  Singapura Bentuk Detasemen Pesawat Tempur RSAF di Guam

“Acara ini bertujuan untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan kemampuan rekan-rekan di PPI Curug ke depannya. Sehingga safety campaign ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi pendalaman ilmu,” ujar Capt. Gema kepada Airspace Review.

Aeronautical Decision Making

Materi yang disampaikan dalam workshop ini cukup beragam. Mulai dari aerodinamika seperti ground effect, daya angkat pesawat, center of gravity effect, cara memulihkan keadaan pesawat dari kondisi spin, hingga terbang instrumen (instrument flying) untuk bekal para taruna yang nantinya akan memasuki fase tersebut.

Namun demikian, hal yang paling ditekankan sesuai tema acara adalah ADM (Aeronautical Decision Making).

Dalam menyampaikan materi pelajarannya, Capt. Gema menggunakan skenario penerbangan yang nantinya para peserta diminta mencari solusi dari permasalahan yang disampaikan dan membahasnya secara bersama-sama.

BACA  Israel Hancurkan Sishanud Jarak Pendek-Menengah Pantsir-S1 di Suriah
workshop pilot
14daypilot

Capt Gema menjelaskan, pembahasan melalui skenario ini akan membuat para siswa penerbang bisa berpikir dalam mencari solusi lebih luas.

Diharapkan, nantinya mereka dapat menggunakan ilmunya dan juga membagikan pengalamannya.

FAA dan ICAO

Dalam kesempatan ini Capt. Gema juga turut menyampaikan bahwa FAA (Federal Aviation Administration) sebagai lembaga regulator penerbangan sipil Amerika Serikat dan pionir dari semua penerbangan di dunia tetap tunduk pada ICAO (International Civil Aviation Organization).

Dikatakan, FAA menetapkan standar slow flight single engine 50 knot. Sedangkan di Indonesia rata-rata sekolah penerbang menetapkan slow flight untuk pesawat mesin tunggal adalah 70–80 knot.

Direktur PPI dan Capt. Gema
14daypilot Direktur PPI Curug dan pendiri 14daypilot

“Dalam silabus FAA juga diterapkan accelerated stall recovery di mana pada dasarnya pesawat dapat kehilangan daya angkat (stall) di kecepatan berapa pun,” lanjut FAA safety training provider di Indonesia ini.

BACA  Bidik Pasar Asia Tenggara: Rusia Tawarkan Sosna, Sishanud Gerak Jarak Pendek Terbaru

Sehingga, ketika pesawat stall dalam kecepatan rendah maupun tinggi, seorang siswa penerbang mampu untuk mengatasinya.

Rachmat Kartakusuma

editor: ron raider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *