Mengenang Karya Emas Bapak Teknologi B.J. Habibie: Pesawat N250 dan Mobnas Maleo

AIRSPACE-REVIEW.com – Indonesia harus merelakan kehilangan putra terbaiknya, Prof. Dr. Ing BJ Habibie, yang mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 18.05 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta (11/9).

Berkisah mengenai sepak terjangnya di Tanah Air, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936 ini pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset & Teknologi (Menristek) berturut-turut selama empat periode (1978-1998).

Puncak karier politiknya adalah menjabat sebagai Wakil Presiden dan kemudian menjadi Presiden ke-3 menggantikan Presiden Soeharto pada Mei 1998.

Sebelum dipanggil pulang ke Indonesia oleh Presiden Soeharto, pakar dunia kedirgantaraan ini sempat menduduki posisi karier strategis sebagai Wakil Direktur/Direktur Teknologi di pabrik pesawat Messerschmitt Bolkow Blohm (MBB), Jerman (Barat) dari 1974-1978.

NC212i

Sepulangnya dari Jerman pada 1976, Bacharuddin Jusuf Habibie dipercaya untuk membangun industri kedirgantaraan modern di Tanah Air. Ia menjabat sebagai Direktur Utama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) yang kini menjelma menjadi PT Dirgantara indoonesia (PTDI).

Dibawah kepemimpinannya, PTDI mulai merintis pembuatan pesawat angkut ringan serbaguna berdasar lisensi CASA Spanyol. Pesawat dinamai NC212. Hebatnya, pesawat ini masih diproduksi oleh PTDI hingga saat ini dengan seri terakhir NC212i-400.

Selanjutnya, lahir pesawat serbaguna bermesin turboprop yang lebih besar hasil kerja sama dengan CASA. Ini adalah CN235 Tetuko pada awal 1980-an. CN235 juga menjadi pesawat andalan PTDI saat ini dengan seri terakhir CN235-220.

CN235-220 MPA
Rangga Baswara Sawiyya

Puncak karya B.J. habibie dalam rancang bangun pesawat bersama tim dari PTDI, adalah pesawat penumpang komuter regional hasil desain asli dalam negeri N250 (2 mesin dan berkapasitas angkut 50).

Saat itu, pesawat N250 terbilang paling maju di kelasnya karena yang pertama menggunakan teknologi fly-by-wire (FBW).

Selanjutnya, pesawat N250 berhasil mengudara pertama kali pada 10 Agustus 1995 yang sekaligus dipersembahkan sebagai kado ulang tahun emas RI ke-50.

N250 ditenagai mesin Allison AE 2100C dengan baling-baling berbilah enam. Pesawat mampu melaju maksimum 610 km/jam, ketinggian terbang maksimum 7.620 m, serta jangkauan operasi sejauh 1.480 km.

N250-PA0
Rangga Baswara Sawiyya

Sayangnya N250 tak pernah masuk jalur produki akibat krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997. PTDI tak mendapatkan dana lagi dari pemerintah untuk melanjutkan pengembangannya.

PTDI sendiri telah menghasilkan dua purwarupa terbang N250 yakni PA1 bernama Gatot Kaca dan PA2 yang badannya telah diperpanjang dinamai Krincing Wesi.

Diusia senjanya, Eyang Habibie masih berupaya kembali menghidupkan proyek pesawat komuter bermesin turboprop baru yang dinamai R80.

Ia dibantu oleh putra sulungnya Ilham Habibie mendirikan PT Regio Aviasi yang merancang pesawat berkapasitas 80 penumpang. Direncanakan, pesawat akan mengudara sekitar tahun 2022 mendatang.

R-80
Rangga Baswara Sawiyya

Tak hanya pesawat terbang, saat menjabat Menristek pada periode ke-4 yakni tahun 1993-1998, Habibie juga dipercaya untuk mengembangkan mobil nasional (mobnas).

Proyek mobnas yang dinamai Maleo (burung endemik Sulawesi) ini dijalankan melibatkan sejumlah industri startegis nasional yang bernaung dalam BPIS. Di antaranya adalah PTDI, PT Pindad, PT LEN, PT INTI dan PT. Krakatau Steel.

Untuk rancang bangunnya, mobnas Maleo melibatkan rumah desain dan pembuatan protoitpe dari Australia bernama Millard Design pada 1994. Dalam proses perancangannya sejumlah desainer dan insinyur Indonesia turut dilibatkan.

Mobnas Maleo
Maleo
Mobnas Maleo
A. Arifin

Mobnas Maleo adalah jenis sedan berpenumpang untuk 4-5 orang. Kendaraan ditenagai jenis mesin orbital berkapasitas 1.200 cc. Di kelasnya di Indonesia, kala itu Maleo akan bersaing dengan mobnas lain yakni Timor S515.

Tahun 1997, purwarupa Maleo telah berwujud dan mulai menjalani rangkaian uji di Australia. Maleo sendiri rencananya diluncurkan pada Agustus tahun 1997, sayang krisis moneter melanda Indonesia. Proyek ini akhirnya dibekukan hingga saat ini.

Memang tak semua hasil pemikiran B.J. Habibie berwujud menjadi nyata. Namun, upayanya merintis penerapan teknologi canggih dalam indutri nasional dampak manfaatnya masih dapat dirasakan hingga kini.

Contohnya adalah industri strategis PTDI, PT PAL, dan PT Pindad yang bisa menghasilkan devisa dari ekspor produk canggihnya, bersaing dengan produk mancanegara.

Maka sangat pantaslah bila B.J. Habibie dianugerahi gelar sebagai Bapak Teknologi Indonesia atas jasa-jasanya yang banyak di bidang teknologi.

Rangga Baswara Sawiyya

editor: ron raider

One Reply to “Mengenang Karya Emas Bapak Teknologi B.J. Habibie: Pesawat N250 dan Mobnas Maleo”

  1. Sungguh sangat berduka atas berpulangnya bapak teknologi kita ini.
    Semoga beliau diberikan ganjaran yang pantas oleh-Nya.
    Semoga kita yang ditinggalkannya dapat tabah dan kuat serta mewarisi beliau untuk menjadi lebih baik lagi. Amin ya robbal ‘alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *