Penghargaan Tertinggi “Bapak Dirgantara Indonesia” dari TNI AU kepada B.J. Habibie

AIRSPACE-REVIEW.com – Pada malam perayaan HUT TNI Angkatan Udara ke-73 di Gedung Puri Adhya Garini, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, 9 April 2019, TNI AU memberikan penghargaan tertinggi dengan menobatkan predikat “Bapak Dirgantara Indonesia” kepada Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie dan Marsekal Muda (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo.

Penghargaan saat itu diberikan langsung oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto didampingi Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna.

Acara yang digelar bersamaan dengan pemberian penghargaan kepada para prajurit teladan TNI AU, para pemenang lomba di lingkungan TNI AU, serta Anugerah Jurnalistik “Kasau Awards 2019” kepada para insan jurnalistik dan media ini berlangsung khidmat.

Habibie yang juga adalah Presiden Republik Indonesia ke-3 datang menghadiri acara penganugerahan bersama dengan putra sulung Nurtanio, Bambang Avianto, mewakili almarhum ayahnya dan keluarga.

Tribunnews

Secara kebetulan, Airspace Review yang menjadi anggota Dewan Juri Kasau Award diundang hadir ke acara dan bisa melihat kehadiran Habibie di tempat itu.

Sebelum prosesi penyerahan predikat “Bapak Dirgantara Indonesia”, terlabih dahulu Habibie didaulat menyampaikan sambutan atau berupa wejangan dan pandangannya terhadap TNI Angkatan Udara dan dunia kedirgantaraan Indonesia.

Dengan dipapah naik ke podium karena kondisinya yang sudah sepuh, Eyang Habibie tampak masih bergairan dan bersemangat berbicara tentang kedirgantaraan dan TNI AU.

Dengan gerakan khas kepala dan matanya yang berbinar-binar, ia mengawali cerita perjalannya pergi ke Jerman untuk menimba ilmu kedirgantaraan.

Habibie bercerita sangat detail dan masih ingat bingkai-bingkai perjalanan dan perjuangannya di Jerman hingga kembali ke Indonesia diminta oleh Presiden Soeharto untuk membangun industri kedirgantaraan.

Habibie
Youtube

Lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936, Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan tokoh intelektual yang mampu membawa nama Indonesia ke tingkat internasional atas kiprahnya mengembangkan IPTN (PTDI) hingga berhasil menciptakan pesawat komersial pertama fly-by-wire buatan Indonesia, yaitu N250 Gatotkaca.

Lulusan SMAK Dago, Bandung yang sempat kuliah di jurusan Teknik Mesin ITB selama enam bulan pada 1954 ini kemudian melanjutkan pendidikan Teknik Penerbangan selama 10 tahun di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman.

Di sana, Habibie lulus meraih dua gelar yaitu Diplom Ingenieur pada 1960 dan Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Habibie
Dok. Keluarga

Pengalamannya bekerja di pabrik pesawat Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB) di Hamburg, Jerman mengantarnya kembali pulang ke Indonesia tahun 1973 atas permintaan Presiden Soeharto. Habibie kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) pada kurun 1978-1998 atau selama 20 tahun.

Ia kemudian dipilih oleh Presiden Soeharto untuk mendampinginya menjadi Wakil Presiden RI dan bahkan kemudian menjadi Presiden RI ke-3.

Sebagai orang yang memiliki otak cemerlang di bidang teknologi, khususnya kedirgantaraan yang sangat ia cintai, dan atas lobi-lobi dan pengaruhnya yang besar, Indonesia pun berhasil menyelenggarakan dua kali pameran kedirgantaraan tingkat dunia yaitu Indonesia Air Show (IAS) pada 1986 dan 1996.

Sejumlah perusahaan-perusahaan kedirgantaraan dunia datang ke Indonesia. Demikian juga dengan angkatan udara sejumlah negara ikut memamerkan pesawat unggulannya di IAS.

Pada IAS 1996, misalnya, hadir pertama kali di Indonesia pembom strategis B-1B Lancer, Boeing 777, jet tempur Sukhoi, hingga pesawat komersial supersonik Concorde buatan Perancis dan Inggris.

Pada malam penghargaan dari TNI AU itu, Eyang Habibie mengingatkan TNI AU dan bangsa ini untuk terus meningkatkan teknologi agar dapat bersaing di tingkat internasional, terkhusus di kawasan Asia.

TNI AU, ujarnya, tidak bisa dipisahkan dengan teknologi. Apalagi TNI AU bekerja di matra udara yang berkaitan dengan pengoperasian pesawat dan persenjataan canggih.

N250-100
Roni Sontani/AR

Habibie mengingatkan, TNI AU akan bisa memenangkan peperangan apabila punya persenjataan yang unggul yang didukung dengan sumber daya manusianya yang andal.

“Angkatan Udara harus dapat berada di garis terdepan dengan memanfaatkan dan meningkatkan teknologi untuk kepentingan negara,” ujarnya.

Kasau Marsekal TNI Yuyu Sutisna dalam sambutannya mengawali seluruh rangkaian acara Malam Resepsi HUT TNI AU dan KASAU Award 2019 mengatakan, TNI AU terus berupaya meningkatkan kualitas teknologi alat utama sistem persenjataan dan kualitas SDM melalui rencana strategis yang telah ditetapkan hingga 2024 mendatang.

Kasau berpesan agar seluruh jajaran TNI AU bekerja secara profesional, militan, dan inovatif demi tercapainya tujuan para pendiri bangsa ini dan juga para sesepuh/perintis TNI Angkatan Udara.

Habibie
Istimewa

Kini, Bapak Dirgantara Indonesia itu telah berpulang pada Rabu, 11 September 2019, pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Ia meninggalkan bangsa ini menyusul istri tercinta dan para pendahulu lainnya.

Selamat jalan Pak Habibie, kami merasa sangat kehilangan Bapak. Terima kasih atas jasa-jasa yang telah diberikan kepada bangsa dan negara. Semoga Bapak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt, Tuhan Yang Mahakuasa. Aamiin…

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *