Ini Penampakan Heli Serang AH-1Z Pesanan Pakistan yang Ditahan Amerika

AIRSPACE-REVIEW.com – Awan kelabu tengah menggelayuti oleh Korps Penerbangan Angkatan Darat Pakistan. Proses pengadaan heli serang T129 ATAK dari Turki menghadapi kendala setelah Amerika Serikat (AS) memboikot penjulanan mesin heli itu kepada Turki pada akhir 2018 lalu.

Sementara sebelumya, heli serang  Bell AH-1Z pesanan Korps Penerbangan AD Pakistan juga ditahan (tak diserahkan) oleh AS sejak 2017 silam.

Seperti diketahui, Korps Penerbangan AD Pakistan telah mengagendakan penggantian heli serang gaek Bell AH-1F Cobra yang telah berdinas sejak 1985. Semula heli akan akan diganti dengan varian terbaru Bell AH-1Z Zulu Cobra (Viper).

Departemen Luar Negeri AS sendiri telah memberi lampu hijau untuk penjualan 15 unit Viper dan 1.000 rudal AGM-114R Hellfire II pada April 2015 silam.

Namun, belakangan diketahui Pakistan hanya mengorder selusin saja. Tiga heli Viper pertama dipesan pada Agustus 2015 dan kontrak untuk sembilan lainnya dilakukan pada April 2016. Nilai komulatif paket termasuk pelatihan, suku cadang, dan dukungan pemeliharaan mencapai 952 juta dolar AS.

AH-1Z

Pabrik Bell Helicopter pun bekerja cepat memenuhi pesanan ekspor pertama dari AH-1Z ini. Dikutip dari situs Shephard Media saat gelaran Paris Air Show 2017, Bell telah menyelesaikan tiga Viper dan rencananya akan diserahkan pada Agustus 2017. Sementara sembilan sisanya pada 2018.

BACA  STPI Mantapkan Upaya Wujudkan EduAero Park di Kawasan Curug

Faktanya, selusin Viper ini belum diterima oleh Korps Penerbangan AD Pakistan hingga saat ini. Hal ini akibat dari imbas ketegangan politik antara AS dan Pakistan. Puncaknya terjadi pada Agustus 2017 di mana pemerintah AS resmi mengeluarkan embargo senjata terhadap Pakistan.

Menariknya, heli Viper pesanan Pakistan ini tertangkap kamera pada 19 Juli 2019 lalu. Situs theaviationist.com mendapatkan kiriman foto ekslusif dari pembacanya yang bernama Rodney Bastow.

Dua heli yang tertangkap kamera tersebut bernomor seri 786-064 dan 786-066. Diperkirakan, keduanya sedang diterbangkan dari tempat penyimpannya di NAS Patuxent River menuju AMARG 309th (Aerospace Maintenance And Regeneration Group) di Tuscon, Arizona.

Mengenai kisah pengembangan Viper sendiri, purwarupa heli ini mulai menjalani  penerbangan perdana pada 8 Desember 2000. Gelombang pertama dalam unit terbatas mulai dikirimkan tahun 2003. Total hingga kini sekurangnya 61 unit Viper telah berdinas di USMC (Korps Marinir AS).

BACA  Sambil Menyelam Minum Air, Saab Gabung Proyek Tempest Inggris Guna Kembangkan Gripen E

Dibandingkan dengan pendahulunya seri AH-1F/S, versi AH-1Z merupakan yang tercanggih dengan menggunakan perangkat aviasi modern terkini.

AH-1Z

Viper dibekali tabung AN/AAQ-30 Target Sight System (TSS) elektro-optik dan inframerah buatan Lockheed Martin serta TopOwl Helm-Mounted Display (HMD) garapan Thales.

Terdapat pula BAE AN/ALE-47 Flare Countermeasure Dispensers (FCD), AN/APR-39C Radar Warning Receivers (RWR) buatan Northrop serta AN/AAR-47 Missile Warning Receivers (MWR) yang disuplai oleh Orbital ATK.

Viper juga mendapatkan sistem teknologi rotor utama model baru. Heli dibekali empat bilah berbahan komposit. Baling-balingnya bisa dilipat untuk menghemat ruang bila ditempatkan di atas geladak kapal serbu amfibi (LHD).

Sebagai tenaga penggerak Viper dibekali sepasang mesin turboshaft General Electric T700-GE-401C, masing-masing berdaya 1.800 shp.

Kecepatan jelajahnya 296 km/jam, ketinggian terbang maksimum 6.000 m, dan jangkaun operasi sejauh 685 km.

AH-1F/Istimewa

Sebagai senjata penggebuk, pada stub wing baru Viper yang lebih panjang tersedia dua cantelan untuk tabung roket Hydra kaliber 70 mm dan empat rudal AGM-114 Hellfire.

Di ujung sayap kecilnya tersebut juga bisa dipasangi rudal anti pesawat AIM-9 Sidewinder. Persenjataan tetap lainnya adalah kanon M1987 kaliber 20 mm yang terpasang di lehernya.

BACA  Harapan Baru, Boeing 737 MAX 10 mulai lakukan uji taxi

Saat ini sang ular berbisa Viper baru digunakan oleh Korps Marinir AS. Sementara pelanggan ekspor selain Pakistan datang dari Kerajaan Bahrain. Negeri mungil di Timur Tengah ini akan menerima selusin Viper untuk Angkatan Udaranya pada 2022 mendatang.

Penulis: Rangga Baswara Sawiyya

Editor: Ron Raider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *