Dassault MD.450 Ouragan, Pembom Tempur yang Tak Pernah Diinginkan Israel Tapi Berhasil Menembak Jatuh Vampire Mesir
Istimewa/Ar AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Di tahun 1955 Israel tak pernah berpikir sedikit pun untuk mengakuisisi pembom tempur (fighter-bomber) buatan Dassault, Prancis yaitu MD.450 Ouragan (Badai). Sebab, Angkatan Udara Israel (Hey Ha’Avir/IAF) dua tahun sebelumnya baru dilengkapi dengan jet tempur buatan Inggris, Gloster Meteor.
Akan tetapi, situasi di mana kekuatan udara negara-negara Arab terus meningkat, mendorong Israel untuk menambah lagi kekuatan jet tempurnya dengan jet tempur bersayap menyapu ke belakang (swept-wing).
Jet tempur mulai memasuki pasar Timur Tengah sejak 1949 ketika Mesir mengakuisisi Gloster Meteor di tahun itu dan membeli de Havilland Vampire, juga dari Inggris, setahun kemudian. Angkatan Udara Inggris masuk ke kawasan Terusan Suez dengan jet tempur Gloster Meteor tahun 1950, sekaligus sebagai pihak yang memperkenalkan pesawat ini ke Israel.
Inggris menawarkan stok pesawatnya kepada Israel. Akan tetapi, syarat-syarat ekspor yang dinilai ambigu oleh Israel, menyebabkan Tel Aviv mencari pesawat dari negara Eropa lainnya. Sementara untuk mendapatkan jet tempur dari AS dan Soviet kala itu, juga terkendala.
Dibandingkan Inggris, Prancis saat itu tidak punya stok jet tempur yang banyak untuk dijual. Meski demikian, Prancis menunjukkan sikap yang simpatik kepada Israel dan menyatakan dapat melepas persediaan yang ada. Prancis pun menawarkan dua tipe jet tempur generasi pertama, yaitu SNASCO Triton dan Dassault Ouragan.
SNASCO Triton telah terbang perdana pada 1946, namun belum masuk produksi massal. Sementara Dassault Ouragan terbang perdana pada 1949 dan baru akan masuk jalur produksi di tahun 1953. Israel menyatakan negaranya sangat membutuhkan segera jet tempur tambahan dengan segera.
Pada 15 Juli 1954, kesepakatan pun ditandatangani di mana Prancis akan memasok Israel dengan 15 Dassault Mystere II dan 15 Mystere IVA. Namun, kesepakatan ini tak berjalan lama karena segera dibatalkan setelah terdengar kekecewaan atas kinerja buruk Mystere II. Israel pun menyatakan hanya memilih untuk membeli Mystere IVA saja.
Namun batu sandungan terus datang, sebab Mystere IVA bagaimanapun belum siap untuk dapat memasuki layanan Angkatan Udara Israel. Pesawat ini menghadapi masalah teknis dalam produksinya. Akhirnya disetujui bahwa Israel memilih untuk membeli 12 Ouragan, cukup untuk melengkapi kebutuhan satu skadron.
Israel Membeli lebih banyak Ouragan
Pengiriman Ouragan ke Israel dimulai pada 6 Oktober 1955. Pesawat pertama mendarat di Hazor AFB dan bergabung dengan Skadron ke-113 yang baru dibentuk.
Saat itu, ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dengan terjadinya perpecahan antara Mesir dan Inggris yang makin memperburuk era Perang Dingin.
Pada akhir September 1955, kesepakatan senjata besar-besaran antara Mesir dan Cekoslowakia diumumkan. Kesepakatan itu mencakup pengiriman seratus jet tempur MiG-15 dan MiG-17 ke Mesir serta 50 pembom Ilyushin Il-28.
Dihadapkan dengan prospek yang semakin mengkhawatirkan untuk menghadapi musuhnya yang jauh lebih unggul, Israel akhirnya memutuskan untuk membeli dua lusin Ouragan lagi pada tanggal 4 November 1955.
Langsung digunakan dalam perang, tembak jatuh Vampire Mesir
Ketegangan Timur Tengah yang meningkat ini secara tidak langsung membantu mempererat hubungan antara Prancis dan Israel di mana pesawat milik Angkatan Udara Prancis dikirimkan dalam waktu sebulan pada bulan November tersebut menyebabkan Angkatan Udara Prancis kehabisan stok pesawatnya.
Di IAF, Ouragan langsung memainkan perannya. Pada tanggal 12 April 1956, dua jet Ouragan dikerahkan Israel untuk mencegat dua jet tempur Mesir de-Havilland Vampire yang telah menembus ruang udara Israel.
Di situlah, Ouragan untuk pertama kalinya berhasil mencatatkan kill pertamanya di dunia setelah berhasil menembak jatuh satu jet Vampire Mesir.
Dalam Krisis Suez tahun 1956 itu, Israel mengoperasikan satu skadron Ouragan yang terdiri dari 22 unit jet ini.
Rencana awal yang dibuat oleh IAF sebelum krisis terjadi, Ouragan akan ditugaskan untuk menyerang lapangan udara di Sinai guna menghancurkan sebanyak mungkin pesawat Mesir di darat.
Namun, rencana itu diubah setelah pertempuran pecah pada 29 Oktober. Misi pertama Skadron Ouragan adalah mengawal 16 C-47 yang menerjunkan satu batalion pasukan Israel di atas Celah Mitla, titik strategis impor di Sinai.
Sepanjang perang, Ouragan menerbangkan banyak misi melawan target darat Mesir, menghancurkan lusinan kendaraan musuh menggunakan bom 250 kg, bom napalm, roket udara ke darat, maupun dengan empat meriam 20 mm mereka.
Pada hari kedua operasi, Israel menerbangkan tiga puluh serangan mendadak di atas Celah Mitla, selain misi lain yang diterbangkan ke seluruh Sinai.
Dicegat MiG-15 Mesir
Pada tanggal 31 Oktober 1956, enam Ouragan yang sedang melaksanakan misi serangan darat dicegat oleh delapan MiG-15 Mesir.
Tidak ada pesawat yang ditembak jatuh tetapi satu ditabrak dan kembali dengan selamat ke pangkalannya. Sementara yang lain harus melakukan pendaratan darurat setelah kehabisan bahan bakar.
Pada tanggal 31 Oktober 1956, Kapal Perusak Angkatan Laut Mesir Ibrahim Al Awal menembaki Haifa, salah satu kota terbesar Israel dan satu-satunya pelabuhan laut utama Israel saat itu.
Kapal Perusak Mesir itu berhasil menghindari serangan Angkatan Udara dan Angkatan Laut Israel sampai diserang oleh sepasang Ouragan pada pagi hari tanggal 1 November di tahun itu.
Kedua pesawat berhasil melumpuhkan kapal perusak Mesir menggunakan meriam dan roket udara ke darat mereka, hingga memaksa kapal itu untuk menyerah.
Secara keseluruhan, meskipun delapan Ouragan rusak selama Operasi Kadesh, tidak ada satu pesawat pun yang jatuh.
Tipe ini terbukti sangat kuat. Israel pun mengakuisisi lagi 45 unit Ouragan setelah perang dan membentuk Skadron Ouragan kedua di Pangkalan Angkatan Udara Ramat David.
Terlepas dari kedatangan jet yang lebih canggih seperti Super Mystere dan Mirage IIIC dari Prancis, jet Ouragan terus memainkan peran penting sebagai pesawat serang darat khusus di tahun-tahun setelah Operasi Kadesh.
Pada November 1964, lima unit Ouragan berpartisipasi dalam serangan terhadap posisi Suriah yang menembaki permukiman Israel.
Pada 13 Juli 1966, Ouragan kembali berpartisipasi dalam serangan terhadap upaya Suriah untuk mengalihkan Sungai Yordan. Kemudian pada 13 November di tahun yang sama melakukan serangan terhadap kendaraan lapis baja Yordania.
Saat pecah Perang Enam Hari pada 5 Juni 1967, Angkatan Udara Israel memiliki 51 Ouragan yang bertugas. Mereka berada dalam naungan Skadron Kepala Macan Tutul di Lod dan Skadron Hornet di Hazor.
Kawanan Ouragan selanjutnya dikerahkan dalam Operasi Moked dan ditugaskan untuk menyerang lapangan udara Mesir di Sinai dan dekat Terusan Suez.
Empat jet Ouragan terkena tembakan selama gelombang serangan pertama operasi, meskipun satu berhasil menjatuhkan MiG-21 Mesir sebelum terkena tembakan darat.
Selama gelombang serangan kedua dan ketiga, Ouragan Israel juga berpartisipasi dalam serangan terhadap Pangkalan Udara Yordania dan Suriah.
10 Ouragan hilang dalam perang, 12 dijual ke El Savador
Menyusul Operasi Moked yang telah mengamankan kendali Israel atas langit, Ouragan juga menerbangkan misi serangan darat terhadap pasukan musuh di ketiga front perang, melawan Mesir di Sinai, Yordania di Tepi Barat, dan Suriah di Dataran Tinggi Golan.
Sebanyak 10 Ouragan hilang selama Perang Enam Hari, sembilan terkena tembakan darat sementara satu ditembak jatuh oleh satu pesawat tempur Arab.
Kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari tidak mengakhiri pertempuran antara Israel dan tetangga Arabnya.
Perang Atrisi pada akhir 1967 memberikan lebih banyak kesempatan bagi Ouragan untuk melakukan misi tempurnya.
Pesawat digunakan untuk melawan artileri dan SAM Mesir, pasukan Yordania dan Irak di Yordania dan kamp-kamp teroris di Lebanon selatan. Dua Ouragan hilang selama periode tersebut.
Dengan berakhirnya Perang Atrisi di tahun 1970, Ouragan yang tersisa dialihkan ke Sekolah Penerbangan untuk melatih pilot pesawat tempur IAF.
Kawanan jet tempur buatan Prancis yang awalnya tidak pernah diharapkan itu akhirnya pensiun dari layanan Angkatan Udara pada Israel pada bulan Januari 1973.
Sebanyak 12 unit pesawat ini dijual ke Angkatan Udara El Salvador pada tahun 1977.
Total Dassault Aviation memproduksi sebanyak 567 unit jet Ouragan. Selain Prancis, Israel, dan El Savador, “Si Badai” juga digunakan oleh India.
-RNS-
