AS dan Israel Rancang Serangan Baru ke Iran, Ambisi Meratakan Teheran atau Gol Bunuh Diri Baru?
IDFAIRSPACE REVIEW – Dinamika geopolitik di Timur Tengah kembali berada pada titik nadir setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan makin intensif merancang skenario serangan militer baru terhadap Iran. Berdasarkan laporan investigatif terbaru The New York Times, operasi militer gabungan ini diproyeksikan bakal berlangsung secara singkat namun sangat intensif, dengan waktu pelaksanaan yang dirancang setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) AS pada November mendatang.
Langkah agresif ini diambil di tengah kebuntuan diplomasi atas program nuklir Teheran dan macetnya nota kesepahaman yang sempat dimediasi oleh Pakistan dan Qatar pada Juni lalu. Militer kedua negara bahkan dilaporkan telah meningkatkan latihan tempur secara intensif, termasuk melakukan penerbangan di atas wilayah Irak untuk mematangkan manuver serangan udara lintas negara.
Dalam perundingan tingkat tinggi yang berlangsung pekan lalu, Menteri Perang AS, Pete Hegseth, dikabarkan telah bertemu langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel untuk membahas kemungkinan serangan lanjutan tersebut. Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan rezim di Tehran memiliki kapabilitas yang mengancam eksistensi bangsanya, serta siap mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk melumpuhkan ancaman nuklir dan jaringan rudal Iran.
Akal-Akalan Musnahkan Senjata Nuklir?
Sejak awal, Pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya murni ditujukan untuk kepentingan sipil, seperti pembangkit listrik dan riset medis, sesuai aturan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) serta fatwa keagamaan setempat. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa program nuklir mereka berada di bawah pengawasan ketat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan tidak bermaksud dikembangkan menjadi senjata pemusnah massal.
Kendati demikian, kalkulasi intelijen AS dan Israel tetap menyoroti tingkat pengayaan uranium Iran yang telah mencapai 60 persen, jauh di atas batas sipil standar sebesar 3 hingga 5 persen.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, turut memperingatkan bahwa tingkat pengayaan uranium Iran yang mendekati kadar kualitas senjata (weapons-grade) 90 persen membutuhkan pengawasan amat intensif, seraya menekankan bahwa tindakan militer terhadap fasilitas nuklir hanya akan membawa risiko bencana radiologi dan ketidakpastian keamanan jangka panjang.
Ketakutan akan makin singkatnya breakout time untuk memproduksi bom nuklir mendorong AS dan Israel mengincar target berisiko tinggi, seperti kompleks bawah tanah Pickaxe Mountain (Kūh-e Kolang Gaz Lā) yang berada di kedalaman ekstrem.
Apakah alasan rencana serangan AS dan Israel terhadap Iran ini benar-benar berdasarkan keyakinan penuh bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir atau hanya sebuah akal-akalan saja?
Belum Ada Kepastian Tanggal Serangan
Meski persiapan militer meningkat, hingga kini belum ada kepastian apakah Presiden AS Donald Trump akan langsung menyetujui operasi tersebut, mengingat Trump sebelumnya menyatakan keengganannya untuk kembali melibatkan AS dalam pertempuran besar tahun ini dan menilai jalur diplomasi masih terbuka.
Selain isu nuklir, Washington dan Tel Aviv berambisi mengikis kapasitas gempur asimetris Iran dengan menargetkan depot rudal balistik, fasilitas produksi drone tempur, serta jaringan pertahanan udara.
Pihak Pentagon dan Gedung Putih menggarisbawahi bahwa meskipun opsi diplomasi tetap menjadi prioritas utama, semua opsi militer dan strategis tetap berada di atas meja untuk mencegah ancaman yang lebih besar, di mana seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berkomentar mengenai rencana militer yang mungkin ada atau mungkin tidak ada.
Langkah ini sekaligus ditujukan untuk memutus rantai pasokan logistik kepada kelompok-kelompok sekutu Iran dalam Axis of Resistance. Kendati demikian, AS menyadari risiko ekonomi yang amat rentan.
Rencana penyerangan dilaporkan membatasi atau menghindari fasilitas kilang minyak murni Iran demi mencegah lonjakan inflasi dan harga bahan bakar global, yang dapat membahayakan ekonomi dunia sekaligus menjadi pemicu kerugian politik bagi pemerintah AS menjelang pemilu sela pada awal November mendatang.
Di sisi lain, potensi gol bunuh diri dari operasi militer ini mengintai dari ketangguhan doktrin pertahanan berlapis (layered defense) milik Iran. Mengingat pengalaman konflik sebelumnya pada 28 Februari lalu di mana Iran membalas gempuran dengan serangan rudal dan drone serta menutup Selat Hormuz, Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Hossein Salami, memberikan peringatan keras bahwa benteng-benteng pertahanan dan kemampuan rudal Iran telah disiagakan penuh.
Jika AS dan Israel membuat kesalahan strategis dengan menyerang tanah Iran, balasan Teheran tidak akan terbatas pada satu titik dan siap membuka “pintu neraka” bagi pangkalan serta kepentingan Barat di seluruh kawasan.
Pertempuran Simultan, Balasan Serangan Milisi
Selain mengandalkan benteng-benteng bawah tanah di Pegunungan Zagros serta sistem pertahanan udara Bavar-373 dan Khordad 15, Iran siap menggerakkan milisi sekutunya di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman untuk membuka front pertempuran simultan yang dapat menguras pasokan amunisi perisai udara lawan.
Ancaman terbesar yang paling berisiko menjadi bumerang bagi ekonomi global dan posisi AS adalah tindakan balasan IRGC Navy di Selat Hormuz. Dengan taktik swarming bot cepat, penaburan ranjau laut, dan rudal antikapal, Iran berpotensi melumpuhkan jalur lalu lintas utama pasokan minyak dunia tersebut.
Pembatasan navigasi di Selat Hormuz dipastikan memicu kenaikan drastis biaya asuransi pelayaran, melonjakkan harga energi global, dan menyeret negara-negara Barat ke dalam krisis stagflasi.
Para pengamat pun memperingatkan bahwa alih-alih melumpuhkan Teheran, kampanye militer berskala besar ini justru berisiko tinggi terjebak dalam pusaran perang regional berkepanjangan yang sangat menguras sumber daya militer dan politik Washington serta Tel Aviv.
Arah politik Donald Trump yang sering disampaikan secara terbuka dalam wawancara singkat dengan para jurnalis, memang sulit dipegang. Sesekali Trump mengatakan bahwa AS segera menyudahi perang dengan Iran karena semua tujuan telah tercapai, namun di sisi lain ia terkesan masih berambisi untuk kembali menggempur Negeri Persia. (RNS)
