Cegah Kebocoran Data Intelijen, AS Larang Mobil BYD China Masuk Pangkalan Udara Kadena
USAF. XinhuaAIRSPACE REVIEW – Militer Amerika Serikat resmi melarang seluruh kendaraan listrik buatan pabrikan China, BYD, untuk memasuki kawasan Pangkalan Udara Kadena di Okinawa, Jepang. Keputusan tegas ini dilaporkan oleh media Jepang, Kangnam Times, sebagai langkah preventif guna mencegah potensi kebocoran rahasia militer dan data intelijen sensitif.
Pembatasan tersebut berlaku menyeluruh, tidak hanya bagi kendaraan pribadi milik personel militer, tetapi juga armada kontraktor, taksi, kendaraan pengiriman barang, hingga transportasi komersial. Setiap kendaraan BYD yang tiba di pintu gerbang pangkalan akan langsung diperintahkan untuk berputar balik dan dilarang melintas.
Langkah pengamanan ketat ini diambil mengingat Pangkalan Udara Kadena merupakan salah satu instalasi luar negeri paling vital bagi Angkatan Udara AS di kawasan Indo-Pasifik. Di pangkalan ini terdapat Wing ke-18 (18th Wing) yang mengoperasikan pesawat tanker KC-135 Stratotanker, pesawat peringatan dini E-3 Sentry, helikopter penyelamat HH-60W, serta jet tempur F-35A Lightning II, F-22 Raptor, dan F-16C Fighting Falcon secara bergantian.
Selain itu, pangkalan ini juga menampung sistem rudal darat Typhon yang mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dan SM-6.
Kecanggihan Mobil Listrik Modern
Kekhawatiran utama muncul dari kecanggihan mobil listrik modern yang sarat dengan kamera, sensor lingkungan, serta perangkat lunak yang terus terhubung ke jaringan. Fitur-fitur tersebut dinilai berisiko merekam tata letak fasilitas, pergerakan alutsista, serta detail aktivitas operasional pangkalan secara diam-diam.
Saat ini, pejabat militer AS dilaporkan sedang mendiskusikan kemungkinan untuk memperluas larangan serupa ke fasilitas militer AS lainnya di kawasan tersebut.
Pembatasan ini berpotensi diterapkan di Pangkalan Udara Korps Marinir Futenma di Okinawa, hingga berbagai pangkalan militer AS yang berada di Korea Selatan. Langkah ini sejalan dengan rekam jejak kebijakan AS dalam membatasi teknologi Tiongkok demi keamanan nasional.
Sebelumnya, Pentagon telah melarang penjualan perangkat Huawei dan ZTE di kawasan pangkalan militer sejak 2018, serta memberlakukan aturan ketat terkait impor kendaraan berkemampuan lunak dan keras asal China dan Rusia.
Isu keamanan ini juga semakin menguat setelah militer Norwegia baru-baru ini menemukan bahwa mobil sewaan buatan China secara otomatis merekam dan menyimpan data video selama latihan militer mereka berlangsung. (PN)
