Tinggalkan FCAS, Prancis Geber Pengembangan ACF dan Super Rafale F5

Dassault akan pasarkan Rafale F5 mulai 2035Dassault Aviation
Dassault akan pasarkan Rafale F5 mulai 2035.

AIRSPACE REVIEW – Prancis secara resmi mengambil langkah mandiri setelah memutuskan keluar dari program gabungan pengembangan pesawat tempur generasi keenam Eropa, FCAS (Future Combat Air System), bersama Jerman dan Spanyol.

Paris kini berkonsentrasi untuk menggeber program baru jet tempur masa depan ACF (Avion de combat du futur) dan Super Rafale F5.

Pernyataan resmi mengenai arah baru kekuatan udara Prancis ini disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara dan Antariksa Prancis (AAE), Jenderal Jérôme Bellanger, sebagaimana dilaporkan Les Echos.

Program Jet Tempur Mandiri

Setelah keluar dari proyek FCAS, Prancis merancang jet tempur generasi keenam ACF. Fase pengembangan prototipe ACF dijadwalkan dimulai pada 2027, sedangkan tahap pembuatan varian produksi massal ditargetkan berjalan mulai 2029.

Sementara itu, sebelum hadirnya ACF, Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis dijadwalkan secara resmi meluncurkan fase pengembangan jet tempur Super Rafale F5 pada Desember mendatang.

Varian Super Rafale akan dibekali mesin baru berkinerja tinggi, sistem avionik berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem elektro-optik generasi baru, serta integrasi rudal hipersonik untuk mendukung misi detren nuklir strategis Prancis.

HypAIRion dan Integrasi Drone Tempur

Untuk mendukung integrasi kecerdasan buatan pada jet tempur ACF, AAE meluncurkan proyek riset khusus bernama HypAIRion.

Proyek ini melibatkan konversi dua unit pesawat Mirage 2000 menjadi laboratorium terbang (flying laboratory) guna menguji dan memvalidasi sistem AI tempur.

Sasaran utama dari proyek ini adalah melakukan uji terbang kolaboratif pertama pada tahun 2028, di mana satu unit jet tempur Rafale akan terbang berpasangan secara otonom dengan guided wingman drone.

Ekspansi Armada dan Skuadron Baru

Di samping pengembangan alutsista baru, Prancis menetapkan target untuk memperbesar ukuran armada jet tempurnya secara signifikan.

Jumlah pesawat tempur yang dioperasikan ditargetkan meningkat menjadi minimal 230 unit pada tahun 2035, naik dari jumlah armada saat ini yang berada di kisaran 170 unit.

Guna menampung penambahan kekuatan tersebut, Angkatan Udara Prancis memfungsikan dua skuadron baru di Pangkalan Udara Cazaux.

Skuadron pertama dialokasikan khusus untuk mengoperasikan drone pengintai dan drone tempur (reconnaissance and strike drones).

Sementara itu, skuadron kedua ditugaskan menangani ancaman di elevasi tinggi, termasuk intersepsi rudal balistik serta pemantauan balon pengintai. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *