Empat Penerbang Skadron Udara 12 Tuntaskan Terbang Solo Rafale, Taring Black Panther Menguat

Empat penerbang Skadron Udara 12 sukses terbang solo RafaleTNI AU
Empat penerbang Skadron Udara 12 sukses terbang solo Rafale.

AIRSPACE REVIEW – TNI Angkatan Udara kembali mencatatkan tonggak sejarah penting dalam proses modernisasi alutsista udara nasional. Sebanyak empat penerbang dari Skadron Udara 12 berhasil menuntaskan misi Terbang Solo Konversi Batch C pesawat tempur Rafale.

Upacara tradisi kelulusan dan penyematan patch Rafale tersebut berlangsung di Hanggar Skadron Udara 12, Wing Udara 3.1 Tempur, Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau pada 5 Oktober 2026.

Keempat perwira penerbang yang sukses melakoni penerbangan solo tersebut adalah Mayor Pnb M. Reza Sapta N., Mayor Pnb Fero Ahmando, Mayor Pnb M. Teguh Eko P., serta Kapten Pnb Ghazi Umar Marsuq.

Keberhasilan ini menandai penguasaan penuh para penerbang terhadap karakteristik penerbangan, sistem avionik, serta prosedur operasional dasar pesawat tempur generasi 4,5 buatan Dassault Aviation, Prancis tersebut secara mandiri tanpa didampingi instruktur di dalam kokpit.

Langkah Krusial Tingkatkan Kesiapan

Komandan Lanud Roesmin Nurjadin, Marsekal Pertama TNI Abdul Haris memimpin upacara tradisi penyematan patch Rafale kepada para penerbang.

Ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi dan kerja keras para penerbang beserta seluruh tim pendukung yang terlibat hingga program konversi Batch C ini berjalan aman dan lancar.

Ditegaskan bahwa keberhasilan terbang solo ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan langkah krusial dalam memperkuat kesiapan tempur alutsista modern yang dipercayakan negara kepada TNI Angkatan Udara.

Danlanud juga mengingatkan para penerbang agar tidak cepat berpuas diri dengan capaian awal ini. Penguasaan pesawat tempur bernilai strategis seperti Rafale menuntut komitmen belajar yang berkelanjutan, tingkat disiplin yang tinggi, serta profesionalisme tanpa kompromi.

Tahapan terbang solo merupakan pintu gerbang untuk memasuki kualifikasi taktis yang lebih kompleks, mulai dari pertempuran udara ke udara (air-to-air combat), serangan permukaan (air-to-ground), hingga integrasi operasi gabungan.

Selesainya program konversi Batch C ini secara langsung mendongkrak kesiapan operasional Skadron Udara 12 “Black Panther” yang bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Posisi strategis Lanud Roesmin Nurjadin di wilayah barat Indonesia menjadikan pemenuhan kualifikasi penerbang Rafale sebagai prioritas utama dalam memperkuat benteng pertahanan udara di kawasan Selat Malaka dan perbatasan negara.

Dengan bertambahnya kuantitas penerbang berkualifikasi solo pada platform Rafale, TNI Angkatan Udara semakin siap mengoperasikan armada jet tempur modernnya secara maksimal.

Keberhasilan ini diharapkan dapat meningkatkan daya gentar (deterrence power) Indonesia serta memperkokoh kemampuan pertahanan udara nasional dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah udara Republik Indonesia dari segala bentuk ancaman.

Transformasi Alutsista

Pengadaan pesawat tempur Rafale oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mencakup total 42 unit yang dikontrak secara bertahap dari pabrikan Dassault Aviation.

Jet tempur bermesin ganda Safran M88 ini mengusung filosofi omnirole, yang memungkinkannya menjalankan berbagai variasi misi sekaligus dalam satu penerbangan, mulai dari supremasi udara, serangan presisi jarak jauh, pengintaian taktis, hingga penyerangan antikapal.

Kehadiran armada Rafale menjadi bagian sentral dari program transformasi alutsista TNI Angkatan Udara guna menggantikan jet-jet tempur generasi terdahulu dan menjaga keseimbangan kekuatan udara di kawasan Asia Tenggara.

Dari segi kapabilitas teknis, Rafale dibekali sistem radar AESA RBE2, rangkaian peperangan elektronik dan pertahanan diri terintegrasi SPECTRA, serta sensor pencari dan pelacak inframerah Front Sector Optronics (FSO).

Dengan kapasitas muatan eksternal mencapai lebih dari 9 ton pada 14 gantungan (hardpoints), pesawat ini mampu mengusung ragam persenjataan canggih seperti rudal udara ke udara jarak jauh Meteor dan MICA, rudal jelajah SCALP, amunisi berpandu presisi AASM Hammer, hingga meriam internal GIAT 30 mm.

Kombinasi teknologi avionik modern, radius tempur yang luas, serta fleksibilitas muatan senjata tersebut memberikan lompatan teknologi (technological leap) yang signifikan bagi kedaulatan wilayah udara Indonesia. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *