NATO Pilih Cuek Terhadap Ancaman Nuklir Rusia Terkait Kaliningrad

Rudal NuklirTASS
Rudal balistik antarbenua RS-28 Sarmat Rusia.

AIRSPACE REVIEW – Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menegaskan pihaknya tidak menanggapi secara serius ancaman Rusia terkait penggunaan senjata nuklir atas situasi di wilayah eksklave Kaliningrad.

Pernyataan tersebut disampaikan Rutte di sela-sela gelaran Euronews Defence & Space Summit 2026 di Brussel pada 30 September, sebagaimana dilaporkan oleh media Suspilne.

Saat ditanya mengenai kemungkinan Rusia menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara anggota NATO jika aliansi mencoba mengisolasi Kaliningrad, Rutte merespons singkat.

“Saya tidak terlalu menganggap serius hal ini,” ujar Rutte.

Ia menambahkan, Presiden Rusia Vladimir Putin menyadari sepenuhnya bahwa Rusia tidak akan mampu mengalahkan NATO dalam konflik langsung.

NATO juga menekankan sifat defensif aliansinya serta mendesak Rusia untuk menghentikan retorika ancaman nuklir dan mengakhiri perang di Ukraina.

Berbahaya dan Ceroboh

Tanggapan aliansi militer tersebut merespons peringatan keras dari Moskow sebelumnya. Perwakilan diplomatik Rusia di Belgia, Inggris, dan Irlandia menyatakan siap menggunakan seluruh persenjataan militer yang dimiliki, termasuk senjata nuklir, apabila negara-negara NATO berupaya mengisolasi wilayah Kaliningrad.

Moskow menganggap aliansi tersebut tengah menempuh langkah “berbahaya dan ceroboh” yang memicu risiko tinggi terjadinya konflik bersenjata secara langsung.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengonfirmasi posisi tersebut dan menyebut pernyataan para diplomat Rusia sebagai pengingat bagi pihak-pihak yang emosional di Eropa mengenai doktrin penggunaan senjata nuklir Rusia.

Menurut Peskov, gertakan tersebut merupakan respons atas pernyataan dari Polandia dan sejumlah negara Eropa lainnya terkait Kaliningrad.

Meskipun melontarkan ancaman, pihak Rusia tetap membantah bersiap menyerang negara-negara Eropa dan mengklaim tidak memiliki alasan atau motif untuk memicu eskalasi ketegangan, kendati tetap menganggap aktivitas militer NATO di dekat perbatasannya sebagai ancaman keamanan nasional. (ON)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *