Diduga Rusak Jet Tempur Rafale di Pabrik Cergy, Seorang Pekerja Dassault Ditangkap Polisi
Dassault AviationAIRSPACE REVIEW – Produsen kedirgantaraan asal Prancis, Dassault Aviation, telah mengajukan laporan pidana ke pihak berwajib menyusul ditemukannya tindakan perusakan (damage) pada lini perakitan jet tempur Rafale di Pabrik Cergy, sebelah barat laut Paris.
Kepolisian setempat bergerak cepat dan telah menangkap seorang pekerja (collaborator) di situs industri tersebut yang diduga terlibat dalam aksi perusakan komponen pesawat.
Manajemen Dassault Aviation membenarkan langkah hukum tersebut melalui pernyataan resmi kepada stasiun televisi Prancis BFMTV pada 25 September 2026.
Perusakan Berulang
Pihak perusahaan mengonfirmasi pengajuan laporan pidana atas perusakan di fasilitas Cergy serta penangkapan seorang karyawannya, namun belum membeberkan secara rinci jenis kerusakan yang terjadi maupun dampaknya terhadap jadwal produksi dan pengiriman pesawat tempur serbaguna tersebut.
Kasus ini pertama kali diungkap oleh media lokal Le Parisien pada 25 September 2026, yang melaporkan bahwa Dassault menemukan kerusakan pertama pada satu unit jet tempur Rafale dalam proses perakitan pada akhir tahun 2025.
Perusahaan kemudian kembali mendeteksi tindakan perusakan susulan pada pesawat tempur lain di lini produksi Cergy pada Juni 2026.
Fasilitas Cergy yang baru diresmikan pada September 2025 dan mempekerjakan lebih dari 600 personel ini memegang peran vital dalam rantai produksi Dassault.
Pabrik ini bertugas merakit dan mengintegrasikan bagian badan pesawat (fuselage) serta memasang berbagai sistem utama sebelum fuselage tersebut dikirim ke pabrik Mérignac di dekat Bordeaux untuk proses perakitan akhir dan uji terbang.
Persaingan dan Target Produksi
Insiden perusakan ini bukanlah satu-satunya celah keamanan yang terdeteksi di situs tersebut, setelah pada Februari 2026 petugas keamanan internal sempat menahan seorang pekerja kontrak yang kedapatan membawa kacamata berkamera sebelum akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti merekam area sensitif.
Rangkaian peristiwa tersebut kian menyoroti pentingnya pengawasan internal di tengah ketatnya persaingan dan target produksi jet tempur Rafale untuk memenuhi pesanan armada domestik maupun pasar ekspor global.
Pengungkapan kasus perusakan ini terjadi hanya sepekan setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menginstruksikan jajaran pemerintahannya untuk menyusun rencana perlindungan ketat bagi infrastruktur kritis dan pangkalan industri pertahanan.
Langkah tersebut diambil guna mengantisipasi meningkatnya ancaman hibrida, serangan cyber, drone, hingga potensi aksi sabotase di situs-situs militer sensitif Prancis. (PN)
