Penerbang Tempur Turkiye Memulai Pelatihan Eurofighter Typhoon di Inggris

Jet tempur Eurofighter Typhoon Inggris.RAF
Jet tempur Eurofighter Typhoon Inggris.

AIRSPACE REVIEW – Gelombang pertama penerbang dari Angkatan Udara Turkiye resmi memulai program pelatihan jet tempur Eurofighter Typhoon bersama Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) di Skadron 29 yang berbasis di RAF Coningsby, Lincolnshire.

Dua pilot tempur Turkiye yang baru tiba tersebut dilatih di Typhoon Operational Conversion Unit (OCU) milik RAF guna mempelajari sistem penerbangan Typhoon serta prosedur ruang udara militer Inggris sebelum melakoni penerbangan perdana mereka.

Program pelatihan konversi penerbang ini dijadwalkan berlangsung hingga sembilan bulan, yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan kualifikasi instruktur selama tiga bulan tambahan.

Setelah menyelesaikan rangkaian kursus tersebut, kedua pilot Turkiye akan tetap bertugas di Skadron 29 RAF sebagai instruktur penerbang hingga pesanan jet Typhoon baru milik Turkiye mulai dikirimkan oleh BAE Systems pada tahun 2030 mendatang.

Akuisisi 20 Unit Typhoon

Pengiriman penerbang ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan bernilai hingga 8 miliar poundsterling (sekitar Rp162 triliun) yang ditandatangani Turkiye pada Oktober 2025 untuk pengadaan 20 unit jet tempur Eurofighter Typhoon beserta paket persenjataan, dukungan operasional, dan pelatihan terkait.

Selain memperkuat kekuatan udara nasional Turkiye dan kehadiran NATO di wilayah strategis, kerja sama ini sekaligus memperkokoh kemitraan strategis serta interopabilitas antara angkatan udara kedua negara.

Direktur Program Kantor Manajemen Program Turkiye, Group Captain (Kolonel) Batu, mengungkapkan bahwa para penerbang tersebut sangat antusias dan bangga karena terpilih sebagai kelompok pilot pertama dari negaranya yang mengoperasikan pesawat tempur bermesin ganda tersebut.

Tahap awal pelatihan difokuskan pada penguasaan materi teknis avionik, instrumen penerbangan, serta integrasi prosedur keselamatan navigasi militer sebelum mereka diizinkan melakukan simulasi pertempuran udara langsung.

Selain menjadi batu loncatan bagi modernisasi alutsista Turkiye, kontrak bernilai jumbo ini juga memberikan dampak ekonomi signifikan bagi industri pertahanan Inggris dengan menyerap dan mempertahankan sekitar 20.000 tenaga kerja lokal.

Lini produksi BAE Systems yang tersebar di Edinburgh, Warton, Salmesbury, hingga Bristol dipastikan terus beroperasi penuh untuk memproduksi struktur utama, komponen elektronik, dan sistem persenjataan pendukung jet tempur pesanan Ankara tersebut. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *