Gagal Uji Coba Berturut-turut, Korea Selatan Lirik Mesin Drone MALE Turkiye

Drone RQ-105K Korea SelatanDAPA
Drone RQ-105K Korea Selatan.

AIRSPACE REVIEW – Badan Akuisisi Program Pertahanan (DAPA) Korea Selatan dilaporkan sedang menjajaki peluang untuk membeli mesin drone PD170 buatan produsen asal Turkiye, Tusaş Engine Industries (TEI).

Langkah strategis ini diambil di tengah sorotan publik terhadap serangkaian insiden kecelakaan dan kegagalan uji coba drone militer buatan domestik Korea Selatan.

Informasi penjajakan ini dibenarkan oleh induk perusahaan TEI, Turkish Aerospace Industries (TAI), yang menyambut baik potensi kerja sama tersebut dan berharap dapat membangun kemitraan industri kedirgantaraan jangka panjang antara Seoul dan Ankara.

Meskipun demikian, kedua negara belum merinci program drone spesifik mana yang akan menggunakan mesin tersebut maupun nilai investasi dari kesepakatan yang sedang dirintis.

Mesin Drone-Drone Tangguh Turkiye

Mesin PD170 merupakan dapur pacu turbodiesel berkekuatan 170 tenaga kuda yang dirancang khusus untuk drone kategori Medium-Altitude, Long-Endurance (MALE).

Mesin ini memiliki rekam jejak tempur yang sangat teruji karena menjadi penopang utama yang tangguh armada nirawak populer Turkiye seperti Anka, Aksungur, hingga seri Bayraktar TB2 dan TB3.

Dalam pengujian resminya, mesin yang dikembangkan dari pengalaman TEI memproduksi mesin jet F-16 berlisensi ini mampu membawa drone Aksungur mengudara secara nonstop selama 45 jam hingga mencapai ketinggian 42.000 kaki.

Keandalan inilah yang memicu ketertarikan Korea Selatan untuk mengadopsi teknologi propulsi dari negara yang kini menjadi salah satu eksportir drone tempur utama dunia tersebut.

Atasi Kegagalan di Dalam Negeri

Upaya Korea Selatan melirik mesin asal Turkiye mengemuka setelah program drone dalam negerinya dihantam deretan kegagalan teknis sepanjang Agustus dan September 2026.

Pada pertengahan September, sebuah drone bermesin jet buatan Korea Aerospace Industries (KAI) menukik dan hancur menghantam tanah sesaat setelah lepas landas dalam pameran teknologi Kementerian Pertahanan.

Insiden tersebut menyusul kegagalan sebelumnya pada akhir Agustus, ketika dua drone kamikaze yang diluncurkan dari kapal serbu amfibi Angkatan Laut Korsel jatuh ke laut hanya beberapa detik setelah peluncuran.

Di saat ekspor alutsista darat dan pertahanan udara Korsel seperti tank K2 dan rudal Cheongung-II sukses besar di pasar global, rentetan kegagalan ini memperkuat penilaian bahwa teknologi penerbangan nirawak Negeri Ginseng masih tertinggal dan membutuhkan dorongan teknologi dari luar. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *