Belasan Tahun Berdinas, Dua Drone Siluman AS Ini Masih Diselimuti Misteri

Drone RQ-180 USAF yang penuh misteriVia X
Drone RQ-180 USAF yang penuh misteri.

AIRSPACE REVIEW – Pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat (AS) masih mengandalkan pesawat intai berawak U-2 dan SR-71, yang keduanya dikembangkan oleh Lockheed Martin. Namun memasuki millenium baru, secara berangsur perannya digantikan oleh drone.

Dari sekian banyak drone intai yang dioperasikan oleh militer AS, dua diantaranya tergolong misterius. Kehadirannya tak pernah diakui, begitupun operasi militer yang dijalankannya juga tak diungkapkan.

Dua drone intai misterius tersebut adalah Lockheed Martin RQ-170 Sentinel yang tergolong sebagai drone pengintai taktis berukuran kecil (rentang sayap 11,8 m) dan Northrop Grumman RQ-180, drone intai strategis jarak jauh yang berdimensi lebih besar (rentang sayap 40 m).

Kedua drone siluman ini mengadopsi model sayap terbang (flying wing) tanpa sirip ekor dan sirip tegak. Mereka dirancang untuk menembus wilayah udara sangat terlarang dan dijaga ketat oleh sistem pertahanan udara.

Untuk terbang ke wilayah lawan, seperti ke Iran misalnya, RQ-170 dioperasikan dari pangkalan AS terdekat, dari Afghanistan atau dari Yunani.

Sedangkan RQ-180 dapat terbang dari pangkalan AS yang lebih jauh, di Eropa atau dari pulau Diego Garcia yang berada di Samudera Hindia.

Banyak Terlibat Operasi Penting

Baik RQ-170 dan RQ-180 hanya dioperasikan secara resmi oleh Angkatan Udara AS (USAF) dan Central Intelligence Agency (CIA).

Drone RQ-170 diperkirakan aktif sejak sekitar tahun 2006/2007, sedangkan RQ-180 terbang perdana tahun 2010 dan masuk dinas operasional sekitar 2017.

Karena sifatnya yang sangat rahasia, wilayah operasi kedua jarang dipublikasikan. Namun berdasarkan catatan sejarah dan insiden militer, drone ini diketahui pernah dan sedang digunakan di beberapa lokasi.

Untuk RQ-170 diketahui pertama kali keberadaannya saat dikerahkan tahun 2007 untuk mendukung Operation Enduring Freedom.beroperasi dari Kandahar, Afghanistan.

Pada Desember 2011, satu unit RQ-170 jatuh dan ditangkap utuh oleh militer Iran di dekat perbatasan Afghanistan. Drone ini digunakan untuk misi pengawasan fasilitas nuklir Iran.

RQ-170 juga berperan penting dalam memetakan kompleks persembunyian Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, informasinya digunakan untuk penyerbuan pasukan AS pada tahun 2011 (Operation Neptune Spear).

Drone RQ-170 juga pernah ditempatkan di Pangkalan Udara Osan Korea Selatan sejak September 2009 untuk melakukan misi pengintaian udara terhadap aktivitas militer dan rudal Korea Utara.

Terakhir yang diakui penggunaanya secara resmi, saat RQ-170 digunakan dalam intervensi militer AS di Venezuela untuk membantu proses penangkapan Presiden Nicolas Maduro awal Januari 2026.

Sementara informasi misi penggunaan RQ-180 lebih terbatas, namun berdasarkan data intelijen, laporan media militer, dan dokumentasi publik, RQ-180 pernah terdeteksi beroperasi di beberapa lokasi di belahan dunia.

Terungkap RQ-180 pernah beroperasi di Yunani, menjadi salah satu penampakan publik paling jelas saat drone melakukan pendaratan darurat karena masalah teknis di Larissa Air Base.

Kehadiran drone RQ-180 di pangkalan Yunani dikaitkan erat dengan misi pengawasan tingkat tinggi di atas wilayah udara Iran, saat terjadi perang AS/Israel melawan Iran yang dimulai pada Februari 2026.

RQ-180 juga sempat tertangkap kamera, terbang tinggi di wilayah udara Filipina, mengindikasikan penggunaannya untuk memantau aktivitas militer di kawasan Laut China Selatan.

Meskipun penggunaan RQ-170 Sentinel diakui, para pengamat meyakini RQ-180 juga digunakan untuk memantau Venezuela (Operation Absolute Resolve), yang terbang langsung dari pangkalan di AS. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *