Hindari Ketergantungan pada AS, Mantan Menhan Portugal Tolak Rencana Akuisisi F-35A

F-35AUSAF
Jet tempur F-35A USAF.

AIRSPACE REVIEW – Perdebatan mengenai program peremajaan armada jet tempur Angkatan Udara Portugal (Força Aérea Portuguesa/FAP) kian memanas setelah mantan Menteri Pertahanan João Gomes Cravinho melayangkan kritik tajam terkait rencana akuisisi F-35A Lightning II buatan Lockheed Martin.

Gomes Cravinho menilai langkah memboyong jet stealth asal AS tersebut akan menjadi kesalahan strategis yang mengikat Portugal pada ketergantungan logistik dan perangkat lunak jangka panjang terhadap Washington.

Pernyataan menohok ini mencuat di tengah persiapan pemerintah Portugal untuk memensiunkan armada veteran F-16A/B Block 15 MLU yang mendekati akhir masa pakainya.

Di saat yang sama, peta persaingan semakin ketat menyusul masuknya Dassault Rafale, melengkapi kandidat lain seperti Saab Gripen E, Eurofighter Typhoon, dan Lockheed Martin F-35A.

Otonomi Industri Eropa

Sikap kritis Gomes Cravinho didasari oleh kekhawatiran terhadap dominasi rantai pasok militer AS yang dinilai membatasi kemandirian industri pertahanan lokal maupun konsorsium Eropa.

Walaupun demikian, pandangan politik tersebut berseberangan dengan studi evaluasi internal Angkatan Udara Portugal.

Dari analisis yang menguji 20 kriteria teknis, F-35A dilaporkan mengunci peringkat teratas sebagai pesawat paling ideal, disusul oleh Gripen E di posisi kedua.

Portugal sejatinya memegang rekam jejak operasional selama puluhan tahun menggunakan pesawat buatan AS sejak pengerahan F-16 pada era 1990-an.

Transisi ke F-35A dianggap sebagian pihak militer akan memudahkan penyelarasan doktrin taktis dan arsitektur operasional yang sudah ada, khususnya dalam mendukung misi patroli udara NATO seperti yang baru-baru ini disiagakan di Estonia.

Perebutan Kontrak Rp87,5 Triliun

Proyek peremajaan pesawat tempur Portugal diperkirakan mencakup pengadaan 14 hingga 28 unit jet tempur baru dengan nilai investasi mencapai 5 miliar euro (sekitar Rp87,5 triliun).

Besarnya nilai proyek yang meliputi paket persenjataan, pelatihan, infrastruktur, hingga perawatan jangka panjang membuat para produsen jet tempur berpacu menawarkan skema imbal dagang (offset) dan kerja sama industri nasional.

Saab telah merangkul produsen lokal seperti Critical Software dan OGMA guna memasukkan komponen Portugal ke dalam rantai pasok global Gripen E.

Di sisi lain, konsorsium Eurofighter berencana menyerahkan proposal resmi pada akhir Oktober 2026 dengan menggandeng sekitar 30 perusahaan lokal, sementara Dassault memperkuat jaringan kerja sama melalui AED Cluster Portugal.

Keputusan akhir terkait tender pengadaan jet tempur ini dijadwalkan masuk ke dalam Undang-Undang Pemrograman Militer (Lei de Programação Militar) baru yang diajukan Panglima Angkatan Bersenjata Portugal, Jenderal Cartaxo Alves, kepada Parlemen pada tahun 2026.

Hasil penetapan ini tidak hanya menentukan pengawal ruang udara Portugal di masa depan, tetapi juga menetapkan arah kemandirian industri pertahanan negara tersebut di tingkat Eropa. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *