Menuju Duet Maut: Drone Otonom YFQ-44A Fury dan Jet Tempur F-35 Mulai Diuji Bersama
USAFAIRSPACE REVIEW – Perusahaan teknologi pertahanan AS, Anduril, mengumumkan pencapaian penting dalam pengembangan drone otonom YFQ-44A Fury milik mereka.
Jet tanpa awak yang dirancang untuk program Collaborative Combat Aircraft (CCA) Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) ini dilaporkan telah berhasil terbang dalam formasi berdampingan dengan jet tempur generasi kelima F-35.
Penerbangan bersama tersebut berlangsung saat latihan militer di Creech Air Force Base, Nevada, bekerja sama dengan Experimental Operations Unit (EOU) USAF.
Dalam latihan tersebut, Fury beroperasi secara mandiri menggunakan sistem Mission Autonomy berbasis kecerdasan buatan bernama Lattice.
Pendekatan Bertahap
Meski terbang dalam ruang udara yang sama, pilot F-35 saat ini belum mengendalikan drone tersebut secara langsung dari kokpit.
Pihak Anduril menjelaskan, mereka masih menerapkan pendekatan bertahap, di mana integrasi kendali langsung oleh pilot (quarterback integration) tengah dikembangkan dan dijadwalkan untuk diuji coba dalam beberapa minggu ke depan.
Selain terbang dalam formasi, pengujian di Nevada juga membuktikan keandalan taktis drone ini melalui pengujian rantai serangan (kill chain) secara penuh.
Fury berhasil menerima data target jarak jauh, memprosesnya melalui sistem kecerdasan buatan (AI), lalu meluncurkan dan mengarahkan rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM hingga mengenai sasaran.
Baca di Sini: Jet tempur nirawak Anduril YFQ-44A sukses terbang perdana
Latihan ini juga menampilkan efisiensi operasional yang tinggi, di mana personel USAF mampu meluncurkan drone menggunakan perangkat portabel berbasis laptop serta melakukan pengisian ulang rudal secara cepat saat mesin pesawat tetap menyala (hot reload).
Keberhasilan uji coba ini juga membuka jalan bagi ekspansi peran Fury dari sekadar pengawal udara menjadi platform tempur multiperan.
Empat Rudal AIM-120 AMRAAM
Untuk versi produksi mendatang, drone FQ-44 dirancang dengan empat titik cantelan (hardpoint) eksternal yang mampu mengangkut hingga empat rudal AMRAAM.
Tak hanya itu, Anduril kini tengah aktif mengintegrasikan berbagai jenis amunisi lain, mulai dari bom berpemandu 500 pon, Small Diameter Bombs, hingga rudal jelajah berbiaya terjangkau seperti Barracuda 500.
Langkah ini memungkinkan Fury menjalankan variasi misi yang jauh lebih luas, termasuk serangan darat, penyerangan permukaan, hingga operasi anti-drone.
Di sisi operasional, desain taktis Fury menawarkan fleksibilitas tinggi bagi doktrin tempur modern USAF yang menekankan penyebaran pasukan secara cepat.
Konsep disaggregated operations yang diuji coba menunjukkan bahwa drone ini dapat dikendalikan oleh operator dari lokasi terpisah tanpa perlu bergantung pada stasiun kendali darat yang besar dan kaku, menurut TWZ.
Dengan kemudahan pengerahan, efisiensi rantai pasok produksi berkapasitas 150 unit per tahun, serta estimasi harga di bawah 20 juta USD (Rp353 miliar) per unit, Fury diproyeksikan menjadi pilar utama ambisi USAF untuk mengoperasikan sedikitnya 500 unit drone CCA pada tahun 2032. (RW)
