Polandia Gandeng MBDA Kembangkan Sistem Antidrone Murah Ala Iron Dome
Via X/KwasekTomaszAIRSPACE REVIEW – Polandia secara resmi memamerkan konsep sistem pertahanan udara baru berbasis biaya murah. Senjata ini dirancang khusus untuk memburu ancaman drone dan rudal jelajah dan digadang-gadang menjadi Iron Dome versi ekonomis milik Polandia.
Pengembangan sistem pencegat ini melibatkan raksasa pertahanan Eropa, MBDA, dan Institut Teknologi Senjata Militer Polandia (WITU).
Dalam kerja sama ini, MBDA menyuplai teknologi pencari inframerah berbiaya rendah. Sementara itu, pihak WITU memproduksi sasis rudal dan unit peluncur.
Teknologi pencari sasaran mengadaptasi sistem Counter Mass Interceptor buatan MBDA.
Pemandu inframerah serupa juga telah teruji pada rudal ASRAAM darat di medan perang Ukraina. Penggunaan komponen teruji ini menekan biaya produksi tanpa mengorbankan akurasi target.
Sistem peluncur stasioner ini sanggup memuat hingga 32 rudal pencegat siap tembak. Kecepatan peluncurannya mencapai satu rudal setiap dua detik. Kemampuan respons cepat ini sangat krusial untuk menahan gelombang serangan drone musuh secara masif.
Rudal pertahanan ini sanggup mencegat sasaran hingga jarak 6 km dan ketinggian jelajah maksimalnya mampu menjangkau sasaran pada jarak 5 km.
Jalur Rawan Rudal Musuh
Skema penempatan peluncur nantinya akan memagari area vital dan jalur rawan penerbangan rudal musuh.
Sistem tempur terhubung penuh ke jaringan komando Zenit C2 Polandia. Jaringan radar akan memandu arah rudal pada fase awal peluncuran. Saat memasuki area target, sensor inframerah rudal langsung mengunci dan menghancurkan sasaran secara mandiri.
Langkah strategis Warsawa ini untuk menjawab ancaman nyata dari perang modern di Eropa Timur. Taktik penggunaan drone murah dalam jumlah besar terbukti sanggup menguras amunisi pertahanan udara konvensional yang berharga mahal.
Polandia tidak ingin terus membuang rudal pencegat bernilai jutaan dolar hanya demi menembak jatuh drone murah. Kehadiran sistem MBDA-WITU menjadi solusi ekonomis untuk menjaga ruang udara nasional tanpa menguras anggaran militer.
Saat ini proyek tersebut masih memasuki tahap integrasi komponen utama. Jika proses penggabungan teknologi berjalan lancar, uji coba penembakan perdana dijadwalkan berlangsung pada 2027. (RNS)
