Lepas Penat Usai 250 Hari di Laut, 5.000 Personel USS Abraham Lincoln Bersiap Liburan di Pattaya
US NavyAIRSPACE REVIEW – Setelah menghabiskan waktu lebih dari 250 hari berturut-turut di lautan lepas tanpa persinggahan normal, sekitar 5.000 prajurit Angkatan Laut dan Marinir AS dari kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) kini bersiap untuk ‘menginvasi’ Pattaya demi liburan alias melepas penat.
Kapal induk raksasa bersama dua kapal pendukungnya tersebut dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Laem Chabang, pesisir timur Thailand, pada 2 hingga 6 September 2026.
Persinggahan ini menjadi momen istirahat dan rekreasi (rest and recreation) yang sangat dinantikan oleh seluruh awak kelompok tempur tersebut setelah menyelesaikan penugasan panjang di kawasan Timur Tengah sejak bertolak dari San Diego pada November 2025.
Murni Rekreasi dan Dukungan Logistik
Pemerintah Thailand melalui Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa kunjungan kapal induk yang membawa ribuan personel militer tersebut murni bertujuan untuk rekreasi serta dukungan logistik rutin.
Juru Bicara Kemhan Thailand, Laksamana Pertama Surasant Kongsiri, membantah spekulasi yang menyebutkan bahwa kehadiran kapal tersebut berkaitan dengan latihan militer gabungan, operasi tempur, ataupun pengisian ulang amunisi.
Persinggahan ini diposisikan penuh sebagai kesempatan bagi para prajurit untuk beristirahat dan mengisi kembali perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke markas mereka.
Baca di Sini: USS George Washington Ambil Alih Misi Usai Rekor 200 Hari Tanpa Tepi USS Abraham Lincoln
Kehadiran ribuan prajurit AS yang mendapatkan izin turun ke darat ini disambut hangat oleh Pemerintah Kota Pattaya.
Wali Kota Pattaya, Poramet Ngampichet, dikutip Thaiger menyatakan kesiapan kotanya dengan mengagendakan pengamanan ketat di wilayah darat dan laut melalui koordinasi antara Kepolisian Kota Pattaya, petugas kotamadya, dan instansi terkait.
Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan para personel militer Amerika sekaligus menjaga kenyamanan wisatawan lain yang sedang berkunjung di kota pantai tersebut.
Untungkan Sektor Pariwisata
Persinggahan ini juga dinilai sangat menguntungkan sektor pariwisata lokal yang belakangan mengalami penurunan aktivitas di area populer seperti Walking Street.
Poramet mengestimasi bahwa setiap prajurit diperkirakan akan membelanjakan sekitar 1.000 hingga 3.000 baht selama berlibur di Pattaya.
Jika seluruh 5.000 personel memanfaatkan izin darat tersebut, perputaran uang yang masuk ke sektor restoran, tempat hiburan, transportasi, dan jasa pariwisata diperkirakan mencapai 5 hingga 15 juta baht (sekitar Rp2,26 miliar hingga Rp6,8 miliar).
Hal ini akan memberikan dorongan ekonomi singkat yang sangat dibutuhkan pelaku usaha setempat.
Kunjungan armada militer skala besar seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi di Pattaya. Pada Januari 2025 lalu, kota ini juga pernah menyambut kedatangan sekitar 5.400 personel militer Amerika Serikat yang datang menggunakan empat kapal perang, di mana sinergi pengamanan antara otoritas Thailand dan AS terbukti sukses menjaga kondusivitas wilayah.
Bagi para pelaku usaha di Pattaya, serbuan ribuan pengunjung dalam kurun waktu beberapa hari ini menjadi momentum langka untuk mendongkrak pendapatan di tengah periode yang sepi.
Sementara bagi para awak USS Abraham Lincoln, beberapa hari di daratan Thailand ini menjadi momen berharga untuk melepas penat sebelum kembali ke rutinitas di “kampung terapung” di tengah samudra, jauh dari keluarga dan tempat tinggal mereka. (PN)
