Bangladesh Siapkan Draf Kontrak untuk Mengakuisisi 24 J-10CE dari Tiongkok
Via XAIRSPACE REVIEW – Pemerintah Bangladesh dilaporkan tengah melangkah menuju negosiasi resmi dengan Tiongkok untuk mengakuisisi 24 jet tempur J-10CE dan helikopter serang.
Penasihat Informasi dan Penyiaran Perdana Menteri Bangladesh, Zahed Ur Rahman, dikutip Reuters menyatakan Dhaka sedang menyiapkan draf perjanjian sebagai landasan negosiasi dengan Beijing.
Langkah ini menandai salah satu akuisisi pertahanan terbesar Bangladesh dalam beberapa tahun.
Rencana akuisisi ini dipicu oleh kebutuhan mendesak Angkatan Udara Bangladesh untuk memodernisasi armada pertahanannya yang kian menua.
Saat ini, tulang punggung pertahanan udara Bangladesh masih didominasi oleh jet tempur Chengdu F-7 (versi Tiongkok dari MiG-21 Soviet) dan sebagian kecil MiG-29.
Mengandalkan jet tempur era Soviet menciptakan tantangan besar terkait pasokan suku cadang dan pemeliharaan, terlebih dengan ketidakpastian rantai pasok dari Rusia akibat konflik di Ukraina dan berbagai sanksi internasional.
Rekam Jejak dalam Pertempuran
Ketertarikan Bangladesh terhadap J-10CE juga terdorong oleh rekam jejak tempur pesawat tersebut saat digunakan oleh Pakistan dalam konflik dengan India pada Mei 2025.
J-10CE merupakan jet tempur multiperan bermesin tunggal yang dilengkapi radar AESA canggih, sistem avionik modern, peperangan elektronik, serta kemampuan mengusung rudal jarak jauh Beyond-Visual-Range (BVR) seperti PL-15.
Pilihan untuk mengadopsi J-10C yang sudah teruji di medan tempur dan siap diproduksi massal dinilai jauh lebih realistis bagi Bangladesh dibanding menunggu jet tempur siluman generasi kelima seperti FC-31 atau J-35.
Selain biaya investasi dan operasional yang relatif tinggi, program pesawat siluman masih menyisakan ketidakpastian serta membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung yang lebih rumit.
Di sisi lain, ekosistem produksi J-10C yang sudah matang di Tiongkok memberi jaminan kepastian waktu pengiriman dan dukungan logistik yang jauh lebih terintegrasi bagi Angkatan Udara Bangladesh.
Goyang Dominasi Barat
Strategi penawaran Tiongkok ini kian mempertegas ambisinya untuk menggoyang dominasi alutsista buatan Barat dan Rusia di wilayah berkembang.
Beijing tidak hanya menjual alutsista fisik, tetapi juga menawarkan paket lengkap yang mencakup sistem persenjataan terpadu, pelatihan personel, hingga kemudahan skema kerja sama tanpa disertai tekanan atau persyarat politik yang rumit.
Pola pendekatan ini terbukti efektif menarik minat negara-negara yang ingin memodernisasi militer secara cepat namun tetap mempertahankan fleksibilitas politik luar negeri mereka.
Jika kesepakatan ini terwujud, Bangladesh akan menjadi negara pembeli ekspor kedua bagi J-10CE setelah Pakistan.
Selain Bangladesh, Uzbekistan juga dilaporkan berpotensi menjadi pembeli berikutnya seiring munculnya bukti uji coba pesawat dengan tanda khusus pada ekornya, menegaskan dorongan agresif Tiongkok dalam mengekspor teknologi jet tempur modernnya ke berbagai belahan dunia. (PN)
