Perang Berlarut Lawan Iran Kuras Amunisi, CENTCOM Bentuk Pasukan Drone Multinasional
US DoWAIRSPACE REVIEW – Perang yang terus berlarut melawan Iran telah menguras cadangan amunisi konvensional Amerika Serikat secara signifikan, memaksa militer AS mencari strategi tempur baru yang lebih efisien.
Sebagai langkah responsif, Komando Sentral AS (CENTCOM) secara resmi membentuk Task Force Falcon Strike, sebuah satuan tugas multinasional pertama yang berfokus pada pengoperasian drone kamikaze (one-way attack drones).
Inisiatif strategis ini dirancang untuk menekan biaya operasional sekaligus memperkuat daya gentar terpadu di kawasan Timur Tengah melalui armada udara, permukaan laut, hingga bawah laut.
Gantikan Scorpion Strike
Pembentukan Falcon Strike merupakan kelanjutan langsung dari keberhasilan Task Force Scorpion Strike yang didirikan CENTCOM pada Desember 2025.
Unit pendahulu tersebut sebelumnya telah mencatatkan sejarah dengan meluncurkan drone serang dari atas kapal perang Angkatan Laut AS, serta mengerahkan armada drone udara dan kapal serang tanpa awak dalam Operasi Epic Fury serta serangan terhadap fasilitas pelabuhan Iran pada Juli 2026.
Melalui Falcon Strike, CENTCOM berupaya memperluas jangkauan operasional tersebut dengan merangkul potensi dan inovasi teknologi dari negara-negara mitra regional.
Panglima CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menegaskan integrasi kemampuan baru secara bersama-sama dengan para sekutu di kawasan akan mempercepat penguasaan teknologi militer masa depan.
Unit baru ini nantinya akan dipimpin oleh personel dari Komando Operasi Khusus Sentral AS (SOCCENT) yang berpusat di MacDill Air Force Base, Florida.
Meskipun proses konsultasi dan undangan resmi kepada negara-negara di Timur Tengah telah berjalan, CENTCOM belum merinci daftar pasti negara mitra yang akan bergabung dalam satuan tugas tersebut.
Murah dan Dapat Diproduksi Cepat
Pengembangan teknologi drone yang relatif murah dan dapat diproduksi secara cepat ini diharapkan dapat mengatasi keterbatasan pasokan alutsista konvensional yang kian menipis.
Langkah ini menjadi bukti pergeseran taktik militer AS dan sekutunya demi mempertahankan efektivitas dan stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah tanpa harus bergantung penuh pada amunisi mahal.
Operasional Task Force Falcon Strike mengandalkan jajaran sistem nirawak kamikaze yang dirancang berbiaya murah namun berpresisi tinggi.
LUCAS
Di domain udara, militer AS memanfaatkan platform seperti drone Hornet serta drone taktis murah yang dikembangkan dari program LUCAS (Low-cost Unmanned Combat Attack System).
Platform-platform ini mampu diluncurkan secara fleksibel dari darat maupun dek kapal perang Angkatan Laut AS untuk menghantam sasaran bernilai tinggi tanpa mempertaruhkan nyawa pilot.
Di domain maritim, pasukan multinasional ini memperluas penggunaan kapal serang tanpa awak (unmanned attack vessels) baik untuk kawasan permukaan laut maupun bawah air (sub-surface).
Platform maritim tanpa awak berfungsi layaknya torpedo pintar atau perahu peledak jarak jauh yang mampu menembus area pelabuhan dan pangkalan laut musuh secara stealth.
Info Lainnya: Korea Selatan berencana kembangkan drone K-Lucas berdasarkan desain Shahed-136 Iran
Strategi pertempuran laut ini sebelumnya telah teruji efektivitasnya dalam memburu dan merusak fasilitas pelabuhan militer Iran pada pertengahan tahun ini.
Dengan memadukan drone udara, permukaan, dan bawah laut ke dalam satu sistem komando terpadu, Falcon Strike menandai pergeseran besar dalam doktrin peperangan modern AS dan sekutunya.
Penggunaan kombinasi platform nirawak multi-domain ini tidak hanya menekan risiko hilangnya armada mahal seperti drone pengintai MQ-9 Reaper, tetapi juga menjadi jawaban konkret atas tantangan ketersediaan amunisi konvensional di medan perang. (PN)
